A. PENDAHULUAN
Sebagian pakar hadits yang muncul ke permukaan pada abad 4 H, al-Hakim al-Naisaburi (321-405) dengan karya monumentalnya al-Mustadrak ‘ala al-Sahihain, merupakan tokoh besar yang tidak bisa dinafikan begitu saja. Meskipun pamor ketenarannya dibawah pengarang-pengarang Kutub al-Sittah, tetapi kiprahnya dalam menghadirkan konsep-konsep teoritis dan praktis tetap memberikan kontribusi yang cukup besar dalam ranah kajian hadits maupun ‘ulum al-Hadits pada masa-masa berikutnya.
Untuk itulah tulisan ini akan mengupas secarea global kitab al-Mustadrak ‘ala al-Sahihain yang mencakup sekilas biografi al-Hakim (nama, nasab, dan kurun hidup; guru-guru, murid-murid serta karya-karyanya), dan sekilas tentang al-Mustadrak ‘ala Sahihain (latar belakang penyususnan kitab, penamaan kitab, isi, metode dan criteria, klasifikasi hadits, status hadits dan penilaian para ‘ulama)
B. SEKILAS BIOGRAFI AL-HAKIM

1. Nama, nasab dan kurun hidupnya
Al-Hakim yang memiliki nama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Hmadun bin Hakam bin Nu’aim bin al-Bayyi al-Dabbi al-Tahmani al-NAisaburi dilahirkan di Naisabur pada hari senin 12 rabi’ul Awwal 321 H. beliau sering disebut denganAbu ‘Abdullah al-Hakim al-Naisaburi atau Ibnu al-Bayyi’ atau al-Hakim Abu ‘Abdullah, untuk menghindari kekeliruan nama al-Hakim lain yang sama, seperti Abu Ahmad al-Hakim, Abu ‘Ali al-Hakim al-Kabir (guru Abu ‘Abdullah al-Hakim), ataupun khalifah Fatimiyyah di Mesir, al-Hakim bin Amrullah .
Ayah al-Hakim, ‘Abdullah bin Hammad bin Hamdun adalah seorang pejuang yang dermawan dan ahli ibadah serta sangat loyal terhadap penguasa Bani Saman yang menguasai daerah Samaniyyah . Dalam catatan sejarah, daerah Samaniyyah pada abad 3 H telah melahirkan tokoh-tokoh hadits kenamaan semisal al-Bukhori, Imam Muslim, Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasai serta Ibnu Majah . Di tampat ini pula lah al-Hakim muncul dan dibesarkan. Kondisi ini pula lah yang sedikit banyak mempngaruhi kemunculan al-Hakim sebagai seorang pakar hadits abad 4 H.
Masa kanak-kanak al-Hakim dibawah bimbingan dan pengawasan dari paman dan ayahnya sendiri. Baru pada usia 13 tahun (334 H), secara sfesifik berguru kepada ahli hadits Abu Khatim bin Hibban dan ulama-ulama yang lainnya. Al-Hakim melakukan pengembaraan ilmiyah ke perbagai wilayah, seperti Iraq, Khurasan, Transoxiana, dan Hijaz. Kehadiran al-Hakim diperbagai tempat itu untuk dapat berguru langsung dengan para ahli hadits yang ada, agar sanad hadits yang diterimanya memiliki nilai sanad yang ‘ali (unggul), serta dikarenakan al-Hakim menurut pandangan al-Bukhari yang mensyaratkan lliqo’ dalam penerimaan riwayat hadits, meski hanya sekali .
Dalam perjalanan hidupnya selama 84 tahun, al-Hakim telah memberikan kiprah yang memberi kontribusi yang cukup besar dalam bidang hadits melalui karya monumentalnya, al-Mustadrak ‘ala Sahihain. Namun pada bulan Shafar 405 H, atas ketentuan Sang Pencipta, al-Hakim menghembuskan nafasnya yang terahir, memenuhi panggilan-Nya.
2. Guru-gurunya
Catatan sejarah mengatakan bahwa al-Hakim telah berguru kepada 1000 orang lebih. Diantara guru-gurubnya yang berada dipelbagai daerah adalah :
1. Muhammad bin ‘Ali al-Mudzakkir,
2. Muhammad bin Yaqub al-A’sham,
3. Muhammad bin Yaqub al-Syaibani,
4. Muhammad bin Ahmad al-Balawaih al-jallab,
5. Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad bin Sa’id al-Razi,
6. Muhammad bin ‘Abdillah Ahmad al-Saffar,
7. ‘Ali bin Alfadl al-Suturi, Ali bin ‘Abdillah al-Hakam,
8. Ismail bin Muhammad al-Razi,
9. Muhammad bin al-Qaim al-Ataki,
10. Abi Ja’far Muhammad bin Muhammad bin Abdillah al-Baghdadi al-jamal,
11. Muhammad bin Mu’ammal al-Majarisi,
12. Muhammad bin Ahmad bin Mahlub,
13. Abi Hamid Ahmad bin ‘Ali bin Husnawaih,
14. al-Hasan bin Ya’qub al-Bukhori,
15. al-Qosim bin Abi al-Qosim al-Yasari,
16. Abu al-barr Ahmad bin Ishaq al-Sabagi,
17. Ahmad bin Muhammad bin Abdus al-Anzi,
18. Muhammad bin Ahmad al-Syaibi,
19. Abu ‘Ali al-Husain bin ‘Ali al-Naisaburi al-Hafidz,
20. Hazib bin Ahmad al-Thusi,
21. ‘Ali bin Hamsad al-‘Adl, Muhammad bin Shalih bin Hani’,
22. Abu Nad Muhammad bin Muhammad al-Faqih Abu ‘Umar,
23. ‘Utsaman al-Daqaq al-Baghdadi,
24. Abu Bakar al-Najjad,
25. ‘Abdullah bin Darustawaih,
26. Abu Sahl bin Ziyad,
27. Abd al-baqi’ bin Qani’,
28. Abdurrahman bin Hamdan al-Jallab,
29. al-Husain bin Hasan al-Thusi,
30. ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Uqbah al-Syaibani,
32. Muhammad bin Hatim bin Khuzaimah al-Kasyi,
33. Abu Qadir al-Ziyadi, al-Qadli Abu Bakr al-Hirri, dan yang lainnya.
Diantara guru-guru al-Hakim tersebut, al-Daroquthni, Ibnu Hibban dan Abu ‘Ali al-Naisaburi yang memiliki kedudukan tersendiri di mata al-hakim, disasmping karena intensitas pertemuannya dengan al-Hakim namun juga karena kapasitas keilmuan mereka yang cukup handal .

3. Murid-muridnya

Al-Hakim juga bannyak memiliki banyak sekali murid yang meriwayatkan hadits darinya, diantara mereka adalah :
1. Abu al-Falah bin Ubay al-Fawari,
2. Abu al-‘Ala al-Wasithi,
3. Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub,
4. Abu Dzar al-Hirawi,
5. Abu Ya’la al-Khalili,
6. Abu Balkar al-Baihaqi,
7. Abu al-Qasim al-Qusyairi,
8. Abu al-Shalih al-Muadzdzin,
9. al-Zaki Abu Hamid al-Bahiri,
10. Mu’ammal Ibnu Muhammad bin al-Walid,
11. Abu al-Fadl Muhammad bin ‘Ubaidillah al-Atsram,
12. ‘Utsman bin Muhammad al-Mahmi,
13. Abu Bakr Muhammad bin ‘Ali bin Khalaf al-Syairazi dan sebagainya .

4. Karya-karyanya
Al-Hakim termasuk tokoh intelaktual muslim abad 4 H yang memegang komitmen keilmuannya. Al-Hakim tidak hanya menelurkankaryua ilmiah di bidang hadits dengan menyusun kitab hadits an-sich. Al-Hakim juga menyusun dan membangun teori-teori, konsep-konsep kesahihan suatu hadits dan menyusun kitab-kitab yang terkait dengannya, semisal kitab ’Ulumul Hadits, Kitab Rijal al-Hadits maupun Kitab ‘Ilal al-hadits.
Diantara kitab-kitab yang pernah ditulis al-Hakim adalah :
1. Takkhrij al-Sahihain,
2. Tarikh al-Naisabur,
3. Fadail Imam al-Syafi’I,
4. Fadail al-Syuyukh,
5. al-‘Ilal,
6. Tarikh Ulama al-Naisabur,
7. al-Madkhal ila al-‘Ilmi al-Sahih,
8. al-Madkkhal ila al-Iklil,
9. Ma’rifah al-Ulum al-Hadits,
10. al-Iklil,
11. al-Muzakkina li Ruwati al-Akhbar,
12. al-Mustadrak ‘ala Sahihain, dan lain-lain.
Namun sebagian karya besar berikut tidak dapat ditemukan. Diantara buah karyanya yang sampai kehadapan kita adalah : al-Mustadrak ‘ala Sahihain, al-Madkhal ila al-Ikil dan Ma’rifah fi al-Ulum al-hadits
C. KITAB AL-MUSTADRAK ‘ALA SAHIHAINI

1. Latar Belakang Penyususnan
Al-Hakim tidak menyebutkan secara eksplisit tentang latar belakang penyusunan kitab al-Mustadrak ‘ala Sahihain, yang mulai disusun pada tahun 373 H (52 tahun). Namun secara implicit dapat terkam, bahwa inisiatif penulisan tersebut berangkat dari dua factor :
Pertama, factor internal, yakni asumsi al-Hakim bahwa masih banyak hadits sahih yang berserakan, baik yang belum dicatat oleh para ulama, maupun yang sudah tercantun dalam beberapa kitab hadits yang ada. Di samping penegasan pengarang sahihain, Bukhari dan Muslim yang menyatkan bahwa tidak semua hadits sahih telah terangkum dalam kitab sahih-nya. Dua hal tersebut yang mendorong al-hakim menyusun kitabnya berdasar kaedah-kaedah ilmiah dalam menentukan keabsahan sanad dan matan.
Kedua, factor eksternal yang mempengaruhi al-Hakim adalah kondisi politik, intelektual dan ekonomi. Dari segi politik, pada abad 4 H (masa disintegrasi), wilayah islam terpecah kedalam 3 kekuasaan besar; Bani Fatimiyyah di Mesir; bani Umayah di Cordova; dan Bani Abasiyyah di Baghdad. Ketiganya saling bermusuhan. Hanya saja instabilitas dibidang politik tidak mempengaruhi minat para intelektual berkarya . Khususnya para ilmuwan yang berada di Samaniyah. Penguasa Saman secara spesifik memberi atensi yang cukup besar dan liberal dalam merespon pengembangan Ilmu Pengetahuan. Pada saat kitab tersebut ditulis, al-hakim berada masa transisi Dinasti Samani yang bermazhab Syi’ah ke Dinasti Ghaznawi yang bermazhab Sunni. Meskipun pada abad 4 H ini, tingkat kemajuan intelektual di dunia Islam secara umum mengalami kemorosotan dibanding abad 3 H. Hal tersebut justru memacu al- Hakim untuk membangun paradigma baru khususnya dalam ranah keilmuan hadits.
2. Penamaan Kitab
Kitab tulisan al-Hakim dinamakan al-Mustadrok artinya ditambahkan, disusulkan atas al Sahihain. Al-Hakim menamakan demikian, karena berasumsi hadits-hadits yang disusun dalam kitabnya merupakan hadits-hadits sohih atau memenuhi syarat kesahihan Bukhari dan Muslim, dan belum tercantum dalam sahih Bukhari maupun sahih Muslim. Dengan demikian kandungan hadits dalam al-Mustadrak memiliki beberapa kemungkinan :
a. Hadits-hadits tersebut tidak terdapat dalam sahihain, baik seara lafal maupun makna, namun terdapat dalam kitab lain.
b. Hadits-hadits tersebut terdapat dalam sahihain, tetapi dengan lafal yang berbeda meskipun maknanya sama. Sebagai contoh, dalam sahih Muslim : “janganlah seorang perempuan mengadakan perjalanan, melainkan nersama muhrimnya”; dalam al-Mustadrak dengan makna yang sama menyebutkan “ janganlah seorang perempuan mengadakan perjalanan yang memerlukan waktu satu malam,. Melainkan bersama muhrimnya”.
c. Hadits-hadits tersebut melengkapi lafal hadits yang terdapat dalam sahihain. Sepertri hadits tentang perintah mandi pada waktu hendak menunaikan shalat jum’at, meskipun dengan makna yang sama ada penambahan keterangan yang cukup rinci dan signifikan tentang latar belakang mengapa nabi memrintahkan untuk mandi pada hari juum’at.
d. Hadits-hadits tersebut terdapat dalam sahihain, tapi al-Hakim menggunakan sanad yang berbeda

3. Isi Kitab
Kitab ini tersusun dalam 4 jilid besar yang bermuatan 8.690 hadits dan mencakup 50 bahasan (kitab). Kitab karya al-Hakim ini termasuk kategori kitab al-Jami’, karena muatan haditsnya terdiri dari berbagai dimensi, ‘aqidah, syari’ah, akhlaq, tafsir, sirrah, dan sebagainya.
Adapun rincian jumlah hadits dikaitkan dengan temanya adalah : ‘aqidah 251 hadits; ibadah 1277 hadits; hukaum halal haram 2519 hadits ta’wil mimpi 32 hadits; pengobatan 73 hadits; rosul-rosul 141 hadits; 1218 hadits tentang biografi sahabat; huru hara dan peperangan 347 hadits; kegoncangan hari qiamat 911 hadits; peperangan dan al-fitan 233 hadits; tafsir 974 hadits dan fadhail al-Quran 70 hadits.
Kitab ini pada cetakan terakhir berbentulk 4 jilid besar hasil dari penelitian dan verifikasi beberapa ulama hadits dari 5 manuskrip al-Mustadraknya al-Hakim. Dalam cetakan yang ada sekarang ini dilengkapi dengan komentar-komentar tambahan dari al-Dzahabi dan di tahqiq oleh Syaikh Musthafa Abdul Qodir Atha. Adapun sistematika kitabnya mengikuti model yang dipakai oleh Bukkhari ataupun Muslim, dengan membahas berbagai aspek materi dan membaginya dalam kitab-kitab (tema-tema tertentu) dan sub-subnya. Adpun rinciannya sebagai berikut:

No Jilid I Jilid II JIlid III Jilid IV
1 Kitab Iman :287 hadits Kitab Buyu’ : 246 hadits Kitab Hijrah : 40 hadits Kitab Ahkam : 127 hadits
2 Kitab Ilmu : 155 hadits Kitab Jihad : 209 hadits Kitab al-Magazi : 106 hadits Kitab At’imah : 128 hadits
3 Kitab Taharah : 288 hadits Kitab Qismu Fa’I : 59 hadi Kitab Ma’rifah al-Sahabah : 2.000 hadits Kitab Asyribah : 114 hadits
4 Kitab Salat :352 hadits Kitab Qital Ahl Al-Baghy : 28 hadits Kitab Albirru wa al-Shillah : 114 hadits
5 Kitab al-Jumu’ah :82 hadits Kitab Nikah : 120 hadits Kitab al-Libas : 69 hadits
6 Kitab Shalat ‘Idain : 29 hadits Kitab Talaq : 49 hadits Kitab al-Tib : 94 hadits
7 Kitab Shalat Witir : 34 hadits Kitab ‘Itq : 18 hadits ts Kitab al-Adahi : 53 hadits
8 Kitab Shalat tathawu’ : 51 hadits Kitab Makatib : 13 hadits Kitab al-Zabaih : 31 hadits
9 Kitab al-Sahwi :13 hadits Kitab al-Tafsir : 1.129 hadits Kitab al-Taubah wal Inabah : 78 hadits
10 Kitab Shalat Istisqo :13 hadits Kitab al-Tarikh : 266 hadits Kitab al-Adab : 121 hadits
11 Kitab Shalat Kususf : 17 hadits Kitab al-Aiman wal Nudzur : 37 hadits
12 Kitab Shalat Khauf : 9 hadits Kitab al-Riqoq : 104 hadits
13 Kitab al-Janaiz :162 hadits Kitab al-Faraid : 76 hadits
14 Kitab Zakat :105 hadits Kitab al-Hudud : 150 hadits
15 Kitab Siyam : 77 hadits Kitab Ta’bir al-Ru’ya : 95 hadits
16 Kitab Manasik : 192 hadits Kitab al-Ruqo wa al-Tamaim : 27 hadits
17 Kitab Do’a dan Tahlil : 219 hadits Kitab al-Fitan wa al-Malahim : 383 hadits
18 Kitab Fadhail Quran : 110 hadits Kitab Malahim : 128 hadits
Kitab al-Ahwal : 128 hadits

Jumalah : 50 Kitab
8.475 Hadits

4. Metode dan Kriteria al-Hakim
Bagaimanapun juga harus diakui bahwa seorang ulama hadits memiliki criteria ataupun prinsip-prinsip tersendiri dalam menentukan kesahihan suatu hadits. Di antara prinsip yang dipegangi al-Hakim adalah ijtihad, prinsip status sanad dan prinsip status matan.
a. Ijtihad
Artinya dalam menentukan kesahihan suatu hadits diperlukan ijtihad. Prinsip semacam ini sebenarnya bukan hal yang baru, al-Ramahurmuzi, al-Baghdadi, Ibnu al-Atsir dan lain-lainnya sudah menerapkan ini sebelumnya. Dalam al-Mustadrak-nya al-Hakim menyatakan secara lugas:
“aku memohon pertolongan Allah untuk meriwayatkan hadits-hadits yang para riwayatnya adalah tsiqoh. Al-Bukhari, Muslim atau salah seorang diantara mereka telah menggunakan para perawi semacam itu untuk berhujjah dengannya. Ini adalah syarat hadits sahih menurut segenap fuqoha islam , bahwa sesungguhnya tambahan dalam sanad-sanad dan matan-matan dari orang-orang terpercaya dapat diterima ”
Terhadap pernyataan diatas, bebrapa catatan dikemukakan oleh Abdurrahman :
“rawi yang tsiqah, yakni rawi yang memiliki criteria ‘adil (islam, tidak berbuat bid’ah, tidak berbuat maksiat) dan dabit (dapat menerima, menyimpan dan dapat menyampaikan kembali hadits yang didengarnya dengan baik)”
Sedangkan makna bi mitsliha, ditafsirkan ulama lain sebagai hadits yang benar-benar mengacu pada orang-orang yang menjadi persyaratan syaikhoin, tetapi ada juga yang berpandangan disamping rijal yang memenuhi syarat syaikhain, sifat-sifat yang sama dengan rijal yang digunakan syaikhain secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri.
Adapun criteria menurut fuqaha, al-hakim tidak menjelaskan mengenai hal ini hanya saja dalam al-Madkkhal dan al-Ma’rifah kata-kata fuqaha sering disebut al-Hakim, padahal dalam pandangan jumhur ulama ada perbedaan mendasar antara pandangan fuqoha dan ahli hadits. Fuqoha cenderung lebih longgar, sementara ahli hadits lebih ketat.
Adapun pengertian ziyadah al-Tsiqoh, memiliki pengertian adanya tambahan dalam hadits yang tidak ada dalam hadits lain, padahal diambil dari guru yang sama.
b. Prinsip status sanad
Dalam menentukan status hadits, al-Hakim menerapkan doubel standard, yakni tasyaddud (ketat) terhadap hadits-hadits yang terkait dengan aqidah dan syari’ah (hukum halal haram, mu’amalah, nikah dan riqoq) dan tasahul (longgar) terhadap hadits-hadits yang terkait fadhailul a’mal, sejaarah, sejarah Rasul dan sahabat, sebagaimana dinyatakan al-Hakim :
“Aku insya –Allah—dalam hal do’a akan memperlakukan (sesuai) madzhab Abd Al-Rahman al-bin Mahdi, yaitu yang mengatakan : “bila kami meriwayatkan tentang halal dan haram, kami bertindak ketat (menilai) dalam hal rijal, dan bila kami meriwayatkan tentang keutamaan amal dan yang mubah, kami longgar dalam menilai sanad-sanad ”.
c. Prinsip status matan
Al-Hakim menyatakan :
“sesungguhnya hadits sahih itu tidak hanya diketahui dengan kesahihan riwayat, tetapi juga dengan pemahaman, hafalan dan banyak mendengar”.
Prinsip meneliti hadits tidak hanya dalam aspek sanadnya saja, pada akhirnya melahirkan konsep rajih-marjuh, nasikh-mansukh, mukhtalif al-hadits, maqlub, mudhtarib, mudraj dan ta’arud al-hadits untuk menentukan dan membedakan hadits yang ma’mul bih dan yang ghair ma’mul bih.
5. Klasifikasi hadits
Berbeda dengan ulama-ulama sebelumnya (pasca Imam Turmudzi), al-hakim tidak mengklasifikasikan hadits menjadi sahih, hasan dan dha’if. Secara eksplisit, al-hakim membagi hadits menjadi dua, yakni hadits sahih dan hadits dha’if. Hadits sahih itu bertingkat-tingkat, ada yang disepakati kesahihannya dan adapula yang tidak disepakati (hasan). Dengan demikian, dalam pandangan al-Hakim, hadits hasan masuk kedalam kategori hadits sahih. Meskipun al-Hakim pernah menyebut gharib hasan, tapi tidak dijelaskan apa maksud al-hakim itu.
Al-Hakim berbeda dengan pandangan ulama hadits pra al-Turmudzi yang sama-sama mengkklasifikasikan kualitas hadits menjadi sahih-dha’if, dan memasukan kategori hasan pada hadits dha’if yang masih bisa diamalkan. Fenomena inilah yang nampaknya mendasari penilaian terlalu longgarnya al-Hakim dalam menentukan hadits, karena memasukan kategori hadits hasan ke dalam hadits sahih.
6. Status hadits
Untuk mengetahui kualitas kesahihan hadits dalam al-Mustadrak, ada beberapa klasifikasi yang ditampilkan para ulama hadits setelah meneliti kitab al-hakim :
a. Berdasarkan syarat rawi
Berdasarkan penilitian al-Dzahabi jumlah hadits dalam al-Mustadrak yang memenuhi kriteria sahihain 985 hadits; 113 hadits memenuhi kriteria Bukhari; 571 hadits memenuhi kriteria Muslim, 3447 hadits yang dinilai sahih al-Isnad, sedangkan yang lain tidak dinilai oleh al-Dzahabi

(1) Hadits yang sesuai dengan syarat sahihain
Secara lugas al-hakim menggunakan lafadz “hyadza hadits sahih ‘ala syarti al-syaikhani walam yakhrujahu” ( hadits ini memenuhi persyaratan Bukhari Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya). Jumalah hadits yang memenuhi persyaratan Bukhari Muslim 985 hadits. Dalam talkhis-nya seringkali al-Dzahabi menunjukan kekeliruan yang dilakukan al-Hakim, semisal al-Hakim menyebutkan rawi tertentu sebagai rijal Muslim, tetapi setelah diteliti Muslim sama sekali tidak menggunakan rijal tersebut.
(II) Hadits yang sesuai syarat Bukhari saja
Terhadap hadits yantg memenuhi persyaratan Bukhari, al-Hakim menyatakan : hadza hadits ‘ala syarti al-Bukha ri wa lam yakhrujahu (hadits ini berdasarkan syarat al-Bukhari, tetapi Bukhari tidak meriwayatkannya). Dalam hal ini, al-Hakim tidak memberikan rincian lebih lanjut terhadap pernyataan di atas.
(III) Hadits yang sesuai syarat Muslim
Al-Hakim juga memasukan hadits yang sesuai dengan syarat Muslim, dengan menyatakan “hadza hadits ‘ala syarti Muslim wa lam yakhrujahu” (hadits ini berdasar syarat Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya)
(IV) Hadits yang sesuai syarat al-Hakim
Al-Hakim menggunakan lafadz “hadza hadits sahih al-isnadz wa alm yakhrujahu” (hadits ini sahih sanadnya, tetapi Bukhari Muslim tidak meriwayatkannya). Al-Hakim sendiri, sebagaimana statement sbelumnya, tidak memberikan penjelasan lebnih detail, sehingga para ulama berupaya menginterprestasikan maksud pernyataan al-Hakim. Menerut para beberapa ulama, hadits yang dimaksud adalah hadits sahih dalam pandangan al-Hakim, yang akan diteliti ulang, tetapi kematian menjemputnya lebih awal. Dengan demikian,berdasar penelitian ulama berikutnya terhadap hadits-hadits tersebut, ada yang bernilai sahih dan ada yang bernilai dha’if
(V) hadits yang tidak dinilai al-Hakim
Menrut al-Shan’ani hadits tersebut belum sempat di evaluasi ulang oleh al-Hakim dan al-Hakim belum sempat mengemukakan komentarnya daklam al-Mustadrak, karena kematian yang menjemputnya. Dengan demikian, tidak semua hadits yang ada dalam al-Mustadrak di nilai al-Hakim. Itu berarti al-hakim sendiri mengakui bahwa hadits-hadits yang di himpunnya secara keseluruhan tidak sama statusnya (atau dengan kata lain tidak semuanya sahih). Maka di karenakan belum semua hadits al-Hakim di evaluasi ulang oleh al-Hakim, maka anjuran al-Hakim agar al-Mustadrak di teliti kembali menjadi relevan untuk dilakukan

b. Berdasarkan status rawi
Al-Dzahabi mengklasifikasikan rawi yang di-jarh menjadi 63 kategori mulai dari dha’if, layyin sampai tingkat kadzdzab yadaa’u al-hadits (pendusta yang memalsukan hadits)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan al-Dzahabi terhadap kualitas rawi-rawi dalam kitab al-Hakim adalah sebagai berikut :
-Jilid I :
Terdapat 45 hadits yang diduga lemah (8 hadits menggunakan sigat maudu’; munkar 23 hadits; laisa tsabit 1 hadits)
-Jilid II :
Terdapat 66 hadits diduga lemah (maudu’ 11 hadits; mukar 23 hadits; matruk 23 hadits; kadzdzab 4 hadits; la yu’rafu 3 hadits; la a’rifu jayyidan 2 hadits)
-Jilid III :
Terdapat 47 hjadits yang tidak layak digunakan; (maudu’ 4 hadits; qabbah Allahu rafdhiyan iftara’u 1 hadits, ahsibu maudu’an wa azunnu maudu’an 6 hadits; syibhu maudu’ 1 hadits; aina sihah wa haramun fihi 1 hadits; munkar 17 hadits; matruk 17 hadits).
-Jilid IV :
Terdapat 109 hadits yang tidak layak digunakan : (la asla lahu 2 hadits; halik 11 hadits; la ihtajja bihi ahadun 1 hadits; la hujjata l hadits; matruk 30 hadits; maudu’ 22 hadits; munkar 35 hadits; muttaham 4 hadits muttaham saqit 1 hadits; muttaham ta’lif 1 hadits; nadarun 1 hadits).
Dengan demikian jualah hadits yang dianggap sangat lemah dalam al-Mustadrak adalah 3,072% dari 8690 hadits yang ada. Sedamgkan hadits-hadits yang lain, ada yang bernilai sahih, hasan sahih, jayid, dha’if, munkar maupun bathil. Pun demikian, ternyata al-Hakim banyak memasukan hadits maudu’. Menurut Ibnu al-Jauzi ada 60 hadits, al-Zahabi berpendapat kurang lebih 100 hadits dan menurut Abdurrahman secara eksplisit yang menggunakan kata maudu’/kadzdzab ada 87 hadits.
Adapun rincian hadits maudu’ berdasar penelitian Abdurrahman adalah : masing-masing 1 hadits dalam kitab ‘idain, tathawu’, do’a-do’a, faraid, hudud, buyu’, nikah, jihad, memerangi pemberontak, fadhailul quran dan al-ahwal. Adapun sejarah dan peperangan 41 hadits; tafsir 10 hadits; riqaq 5 hadits; al-fitan wal malahim 4 hadits; shalat 4 hadits; pengobatan 4 hadits; dan makanan 2 hadits.

Status Rawi yang dinilai lemah dalam kitab Al-Mustadrak Imam Al-Hakim menurut penelitian Imam Al-Dzahabi
No Sigat rawi yang dinilai lemah Jilid I Jilid II Jilid III Jilid IV
1 Maudu’ 8 11 4 22
2 Munkar 23 23 17 35
3 Matruk 23 17 30
4 Kadzdzab 4
5 Halik 11
6 Nadhorun 1
7 Laisa tsabit 1
8 La yu’rafu 3
9 La ‘arifuhu Jiddan 2
10 Qobbah Allahu Rafdhiyan Iftara’u 1
11 Ahsibu Maudu’an wa Azunnu Maudu’an 6
12 Syibhu Maudu’ 1
13 Aina Sihah wa Haramun Fihi 1
4 La Asla Lahu 2
15 la Ihtajja Bihi Ahadun 1
16 La Hujjata 1
17 Muttaham Saqit 1
18 Muttaham Ta’lif 1
19 Muttaham 4

7. Penilaian para ulama
Sebagaimana karya-karya monumental lainnya, karya al-Hakim tidak terlepas dari kritik yang menyanjung dan kritik yang menghujat. Pujian yang ditujukan kepada al-Hakim , terbukti dari gelar yang dinisbahkan kepadanya oleh para muridnya dan ahli hadits semasa dan sesudahnya, yakni dengan menyebut al-Hakim sebagai al-Hafid al-Kabir, al-Naqid, al-Syaikh al-Muhaditsin, dan sebagainya. Sedangkan diantara ulama yang menghujat adalah :
– Al-Baihaqi yang merupakan murid al-Hakim, tidak sepakat sepenuhnya bahwa al-Mustadrak merangkum hadits yang memenuhi persyaratan syaikhoni (Bukhari Muslim)
– Abu Sa’id al-Malini (w. 412 H): mengatakan bahwa dalam al-Mustadrak, tidak ada hadits sahih yang memenuhi syarat sahihain. Sebagaimana pernyataannya ; ‘aku telah meneliti al-Mustadrak dari awal sampai akhir, dan ternyata tidak ada satu hadits yang memenuhi persyaratan sahihain”.
– Al-Zahabi, meski juga mengkritik al-Hakim, tetapi menganggap hujatan al-Malini terlalu berlebihan . berdasar penelitian al-Zahabi; kurang lebih setengahnya yang memenuhi persyaratan Bukhari Muslim, Bukhari atau Muslim saja.
– Muhammad bin Thahir meniali al-Hakim rafidhi khabis (pengikut Syi’ah Rafidah yang jahat), pura-pura Sunni, padahal pengikut Ali yang fanatik dan tidak menyukai Mu’awiyah
– Abdullah bin Ismail bin Muhammad al-Anshari yag menialai al-Hakim adalah rawi yang tsiqah, faqih, hafidz, hujjah, rafidi, khabit
Secara global pada umumnya para ulama semasa dan pasca al-Hakim banyak mengkkritik kelonggaran al-Hkim dalam menilai kesahihan suatu hadits. Juga berdasar penelitian al-Zahabi yang melihat al-Hakim sering kali melakukan kekeliruan, seperti dinyatakan sesuai syarat sahihain, padahal setelah diteliti sesuai syarat Bukhari saja.

D. KESIMPULAN
Berdasar kupasan di atas ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi :
Pertama, bahwa meskipun al-Hakim bermaksud menyusun hadits sahih sebagai tambahan yang belum termuat dalam sahih Bukhari dan Muslim dan menggunakan persyaratan sahihain, namun ternyata tidak semua hadits dalam kitabnya berstatus sama (sahih semua). Ada yang memenuhi kriteria syarat sahihain, ada yang memenuhi syarat salah satu dari sahihain, ada yang sahih menurut al-Hakim sendiri dan ada yang belum dinilai al-Hakim. Itupun tidak semua ulama sepakat dengan ijtihad penilain al-Hakim, khususnya al-Zahabi yang banyak mengulas kitab al-Hakim.
Kedua, adanya standar ganda yang digunakan sebagai bentuk ijtihad al-hakim, yakni tasahul terhadap hadits-hadits fadailul a’mal, sejarah rasul dan sahabat serta sejarah masa silam. tasyadud untuk persoalan aqidah dan syari’ah ( halal haram, niakah, riqa’, mu’amalah), sering menjadikan perbedaan pandangan diantara pakar hadits dan menjadikan mereka beranggapan al-Hakim terlalu longgar dalam menerapkan kaidah kesahihan suatu hadits. Terlebih beberapa ulama hadits menemukan ketidak-konsistenan al-Hakim, yang tasahul terhadap persoalan aqidah dan syari’ah, dan banyak memasukan hadits-hadits yang sangat lemah (267 hadits), termasuk hadits maudu’ meskipun jumlahnya kurang lebih hanya 87 hadits.
Ketiga, al-Hakim mengklasifikasikan hadits menjadi dua, yakni sahih dan dha;if. Untuk hadits hasan (sebagaimana klasifikasi al-Turmudzi), dimasukan dalam kriteria hadits sahih yang tidak disepakati kesahihannya.
Terlepas dari kekurangan dan kelenihan kitab al-Mustadrak ‘ala al-Sahihain, terlepas dari kritikan dan pujian yang dilontarkan kepadanya, langkah al-Hakim merupakan keberanian besar bagi seorang pakar hadits untuk memberikan kontribusi dan wacana baru di ranah hadits dan ulum al-Hadits bagi pengkaji hadits berikutnya.