JAWABAN NO I

A. Posisi semantik dalam kaitannya dengan Semiotik, Linguistik dan Hermeneutika

 Dalam berbagai kepustakaan, linguistik disebutkan bidang studi linguistik yang objek peniltiannya makna bahasa juga merupakan satu tataran linguistik. Kalau istilah ini tetap dipakai tentu harus di ingat bahwa status tataran semantik dengan tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis adalah tidak sama. Sebab, secara hirarkial satuan bahasa yang disebut wacana dibangun oleh kalimat; satuan kalimat dibangun oleh klausa; satuan klausa dibangun oleh frase; satuan frase dibangun oleh kata; satuan kata dibangun oleh morferm; satuan morferm dibangun oleh fonem; dan akhirnya satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi. Dari proses bangun membangun tersebut, darimanakah letaknya semantik? Semantik, dengan objeknya yakni makna, berada diseluruh atau disemua tataran yang bangun membangun ini. Makna berada dalam tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.
 Semantik –dalam bahasa lain disebut ilmu dilalah– sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri pada kajian linguistik struktural yang menjadi pijakan dasar bagi perkembangan pembahasan linguistik. Pembahasan tersebut seperti signe (kata), signifie (makna, da>l, penanda), dan signifiant (bunyi bahasa dalam bentuk urutan fonem-fonem tertentu, madlu>l, petanda). Lebih lanjut, disebutkan terkait proses keterkaitan tanda, petanda dan penanda ini :
“Berdasarkan pada model dyadik (model bilateral) penandaan Ferdinand De Saussure, tanda selalu mencakup dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu signified dan signifiant. Perkawinan kedua aspek tersebut kemudian melahirkan istilah tanda (sign). Makna tanda dapat disingkap eksistensinya jika kedua komponen tersebut saling dikaitkan atau dihubungkan dengan menggunakan relasi sintagmatis dan paradigmatis yang ditempatkan dalam system peanandaan (tanda), sehingga muncul istilah yang disebut Ronald Barthes dengan “Signification”.

 Tugas semiotika adalah : untuk memahami tanda-tanda yang berserakan disekitar manusia. Dari perspektif semiotika, semua hal bisa dikategorikan tanda, termasuk tanda-tanda yang terdapat dalam struktur bahasa (lebih cenderung pada aspek diakronis daripada sinkronis). Bahasa (linguistik) merupakan alat ekspresi da komunikasi manusia. Manusia bisa menjelasakan pada sesamanya ide-ide, konsep-konsep, dan bahkan sesuatu yang dinamakan tanda dengan perantara bahasa (lebih mengarah pada aspek sinkronis bahasa/langue “kesejamanan” daripada aspek diakronis bahasa dan parole). Hermeneutika, oleh Palmer dianggap sebagai “ proses mengubah sesuatu atau situasi ketidak tahuan menjadi mengerti” atau secara sederhana, bisa disebut sebagai upaya pemahaman dan penafsiran.
 Maka, kaitan posisi semantik dengan Semiotik, Linguistik dan Hermeneutika adalah : sebagai tanda (dilalah) untuk kemudian dikategorikan dan diklasifikasi oleh semiotik, diekspresi-komunikasikan melalui ide, gagasan atau konsep-konsep oleh linguistik dan kemudian ditafsirkan oleh hermeneutika. Penjelasan ketiganya dicontohkan :
“Dari sudut pandang semiotika, apapun yang kita jumpai disekeliling kita adalah teks yang bisa kita baca dan kita tafsirkan. Teks dalam pengertian ini hampir senada dengan ayat dalam bahasa Arab atau Al-Qur’an, yang berarti tanda. Kehadiran penanda (signifiant) selalu mengindikasikan adannya objek yang ditandai, petanda (signifie). Fenomena kebakaran misalnya, berasosiasi secara paradigmatik dengan api, asap, pemadam kebakaran, kerugian materil dll. Jadi, kehadiran tanda/teks yang bernama “kebakaran”, bisa dijadikan batu pijakan untuk menafsirkan dan menelususri tanda-tanda/teks-teks lainnya, sebab, sebagai sebuah sistem, secara tidak langsung, tanda yang satu menjelaskan dan menyebabkan lahirnya tanda/teks-teks yang lain. Dan pada taraf inilah hermeneutik menunjukan peranannya sebagai media penafsir pada fenomena “kebakaran”, dalam contoh diatas dan fenomena lain yang mengitarinya”.

B. Kajian Semiotik, Linguistik, dan Hermeneutik
Sebagaimana yang dijelaskan oleh De Saussure :
 Semiotik : mempunyai kajian yang lebih umum, yaitu mengkaji segala sesuatu yang masuk pada kategoti tanda –dalam konteks ini tanda-tanda yang terdapat didalam teks—
 Linguistik : ilmu yang mengkaji bahasa sebagai sistem (langue)
 Hermeneutik : menjamah wilayah teks asing yang hadir dihadapan pembaca.

JAWABAN NO II
A. Devinisi Semantika Al-Qur’an Menutut Toshiko Izutsu
 Devinisi Semantik : kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci suatu bahasa dengan suatu pandangan yang akhirnya sampai pada pengertian konseptual Weltanschauung atau pandangan dunia masyarakat yang menggunakan bahasa itu, tidak hanya sebagai alat bicara dan berfikir, tetapi yang penting lagi, pengkonsepan dan penafsiran dunia yang melingkupinya.
 Devinisi Semantika Al-Qur’an : kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci Weltanschauung Al-Qur’an atau pandangan dunia Qur’ani, yaitu visi Qur’ani tentang alam semesta.

B. Hakikat Semantika Al-Qur’an Menutut Toshiko Izutsu
 Sebagai sarana untuk mengkaji persoalan-persoalan bagaimana dunia Wujud distrukturkan, apa unsur pokok dunia, dan bagaimana semua itu terkait satu sama lain menurut pandangan Al-Qur’an.
JAWABAN NO III
 Apa yang dikatakan oleh Amin al-Khuli adalah pembahasan terkait sinkronis dan diakronis. Secara mandiri, kedua istilah tersebut dapat kita lihat dari sisi etimologinya sebagai berikut :
1. Sinkronis : meneliti sesuatu dari presfektif tertentu yang terbatas hanya pada penggal waktu tertentu. Sedangkan pendekatan sinkronis dalam studi linguistic adalahdengan melakukan studi atas bahasa atau berbagai fenomena bahasa dalam rentang waktu tertentu, dengan mengabaikan pada milieu bahasa atau fenomena sebelum bahsa itu sampai pada kondisis yang sudah teruji.
2. Diakronis : pendekatan diakronis dalam linguistic adalah pendekatan yang digunakan untuk melakukan studi atas fenomena kebahasaan sesuai dengan urutan sejarah.
 Secara global, cara pandang peneliti Islam yang berkembang terbagi pada dua kubu.
1. Aliran skripturalis-literalis, adalaah mereka yang berpegang secara ketatkepada arti literal dari tradisi. . Inilah yang nantinya menggunakan pendekatan sinkronis.
2. Aliran yang cenderung untuk menyerukan sekularisme dan moderenitas, menolak semua warisan Islam termasuk Al-Qur’an sebagai bagian dari tradisi yang diwarisi, yang hanya menjadi candu pada pendapat umum. . Inilah yang nantinya menggunakan pendekatan diakronis.
 Kedua kelompok tersebut, kendatipun memiliki kelebihan, namun akan berakibat tidak seimbang dalam aplikasi aksio dari nilai-nilai tafsir Al-Qur’an. Karena melihat teks dari satu pendekatan kebahasaan linguistic saja dan tentunya akan berlaku bagi satu atau beberapa komunitas yang berpegang padanya saja. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Syahrur :
“semua kelompok ini telah gagal memenuhi janji mereka untuk menyediakan moderenitas kepada masyarakat. Aliran skripturalis-literalis atau fundamental-tradisionalis telah mengubah universalitas Al-Qur’an menjadi sebuah pesan yang sempit, bersifat local, dan hanya diperuntukan bagi kaum muslimin disekitar mereka saja. Mereka mengatributkan aspek kesakralan pada peninggalan tradisional yang diwarisi, walaupun hal itu hanya hasil interpretasi manusia. Pada gilirannya, cara pandang seperti ini tidaklah memcahkan masalah, justru sebaliknya menimbulkan masalah baru, keterpakuan mereka pada warisan klasik akan membuat mereka cenderung status quo dan akhirnya akan tenggelam dalam arus dinamika sejarah. Sementara itu, aliran sekularis memahami agama dengan sanaagat terpaku pada pandangan para agamawan dan institusi agama dan menolak seluruh peninggalan Islam yang diwariskan, dimana hal tersebut dapat melepaskan mereka dari akar historisnya dan afiliasi nasional mereka sendiri. Disamping itu, mereka menolak semua pesan ketuhanan, yang berarti menolak pesan moralitas itu sendiri sebagai sebuah prinsip dasar untuk masyarakat”.

 Semestinya, dalam memahami Al-Qur’an, umat Islam hendaknya berposisi sebagaimana generasi awal Islam. Umat Islam harus memahami Al-Qur’an sesuai dengan konteks dimana mereka hidup, membandingkan dan mempertimbangkan produk ulama salaf –yang ikhlas mengkaji Islam lewat kajian tafsirnya– dan tanpa mengenyampingkan warisan ulama salaf sebagai peletak dasar disiplin ilmunya masing-masing.

JAWABAN NO IV

 Pernyataan M. Syahrur “Perlakukanlah Al-Qur’an seolah-olah Nabi Saw baru meninggal kemarin”, pada salahsatu slogan Qiro’ah Mu’ashirohnya lebih jelasnya terdapat dalam Muhammad Syahrur, al-Kitab wa Al-Qur’an ; Qiro’ah Mu’ashiroh, cet 1 (Damascus : al-Ahali li al-Tiba’ah wa al-Nasyr, 1990), hlm. 657
 Implikasi dari slogan tersebut dapat kita bagi sebagai berikut. :
1. Asumsi dasar metodologi syahrur adalah juktaposisi antara akal, wahyu dan realitas;
2. Pendekatan yang digunakan adalah perpaduan antara pendekatan filosofis, linguistic, dan scientific;
3. Hermeneutika, yang memiliki tujuan ;
 Membebaskan diri dari hegenoni masa lalu yang demikian menggurita
 Menjembatanai jarak waktu antara masa Al-Qur’an diturunkan dan kondisi objektif “pengkonsumsi” pesan kitab suci yang hidup dalam ruang dan waktu yang berlainan
 Contoh-contoh implikasi M. Syahrur dari slogan diatas :
1. Terkait asumsi-asumsi metodologis, Syahrur melakukan pembacaan baru terhadap tema al-Dzikr (kitab suci) –yang telah dijanjikan oleh Allah untuk selalu dijaga — berdasarkan prinsip-prinsip berikut ini :
 Memaksimalkan seluruh potensi karakter linguistic arab dengan bersandar pada tiga pondasi, yaitu metode linguistic Abu Ali al-Farisi, presfektif linguistic Ibn Jinni, dan Abd al-Qohir al-Jurjani, dan sya’ir Arab Jahiliyah
 Jika Islam bersifat relevan pada setiap ruang dan waktu, maka harus dipahami bahwa al-Kitab juga diturunkan kepada seluruh manusia yang hidup pada abad dua puluh ini….
 Allah tidak perlu memberi petujuk –berupa al-Kitab—untuk diri-Nya sendiri, maka Dia menurunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Oleh karena itu seluruh kandungan al-Kitab pasti dapat dipahami sesuai dengan kemampuan akal…
2. Terkait pendekatan linguistic, Syahrur berguru kepada Ja’far Dakk. Secara prinsipil, menurut Ja’far Dakk, akar metodologi linguistic Syahrur dapat dilacak pada pandangan linguistic tiga tokoh linguistic Arab, yaitu; Abu Ali al-Farisi , Ibn Jinni, dan ‘Abd al-Qohir al-Jurjani . Pendekatan linguistic syahrur, yang secara sfesifik diterapkan pada Al-Qur’an dapat dirangkum sebagai berikut :
 Pertumbuhan bahasa berbanding lurus dengan pertumbuhan pikiran
 Terdapat relasi alamiah antara kesesuaian bunyi dengan konsep atau antara petanda dan penanda
 Bahasa memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri untuk menjaga keharmonisan/keajegan system tata bahasanya sendiri
 Perubahan bentuk kata, tetap berporors pada kesatuan makna…..
Pemaparan mengenai metodologi dan pendekatan ini menjadi penting karena secara garis besar bisa dikatakan bahwa dalam mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an Syahrur sangat dominan menggunakan pendekatan bahasa, khususnya analisis sintagmatis dan paradigmatis.
Contoh analisis sintagmatis dan paradigmatic yang beliau lakukan seperti yang tertulis dalam Qs. Al-nisa (4) : 14, Allah Ta’ala berfirman :
“Zuyyina li an-Na>s h}ubb al-syahawa>t min al-Nisa>’ wa al-Bani>n wa al-Qana>t}i@r al-Muqant}arah min al-z\ahab wa al-Fid}d}ah wa al-khayl al-Musawwamah wa al-an’a>m wa al-H}ars| Z|a>lika mata>’ al-Haya>h al-dun’ya> wa Alla>hu indahu H}usn al-Ma’a>’’.
Dari ayat tersebut Syah}ru>r mengidentifikasi beberapa kata kunci. Pertama, “al-na>s”, yang berarti keseluruhan manusia baik laki-laki maupun perempuan, yang berakal. Pengertian ini mendapatkan justifikasi dari ayat dalam Q.S. Al-H}ujura>t [49]: 13; (“ya al-na>s inna> khalaqna>kum min z\akar wa uns\at”, yang berarti keinginan-keinginan manusia yang disadari dan disebabkan oleh adanya pengaruh lingkungan tradisi dan historis-sosiologis.
Berangkat dari ayat tersebut, Syah}ru>r berpendapat bahwa syahwat manusia yang pokok itu ada enam yaitu: 1) al-nisa>’ (hal-hal yang mutakhir) 2) al-bani>n (bangunan-bangunan megah) 3) al-Qana>tir al-muqant}arah (harta yang banyak) 4) al-khail musawamah (kuda yang dihiasi; sekarang kendaraan mewah) dan 5) al-hars| (kebun).
Jika membaca sepintas penjelasan Syah}ru>r mengenai hal ini, mungkin siapa pun akan “mengerenyitkan dahi”. Pasalnya ketika membahas tentang syahwat ini banyak signifikasi-signifikasi baru dari beberapa simbol (baca: kata) yang telah mempunyai pengertian yang “mapan” atau lazim, seperti, mengapa kata al-Nisa> tidak dimaknai dengan perempuan atau istri –dalam pengertian yang lazimnya–, dan kata al-bani>n dengan anak-anak laki-laki sebagaimana para mufasir dulu—bahkan sekarang? Namun kemudian penulis menemukan, di sinilah Strukturalisme Linguistik nampak konsisten dalam aktifitas pembacaan Muh}ammad Syah}ru>r. Dengan titik pijak dari asumsi dasar bahwa bahasa adalah sebuah sistem—sebagaimana telah didiskusikan di atas–, serta bertumpu pada asumsi bahwa suatu makna kata itu ditentukan oleh relasi-relasi kata secara linear baik sebelum dan sesudahnya –yang dalam tradisi Strukturalisme Linguistik disebut dengan hubungan sintagmatis. Sehingga kadang-kadang suatu kata yang sama akan memiliki arti yang berbeda-beda tergantung relasi atau konteks struktur-nya.
Selain itu untuk mencapai berbagai pemaknaan baru tersebut, Syah}ru>r juga nampak menguji kata-kata tersebut dengan menggunakan analisis paradigmatis, atau dengan melihat hubungan mata rantai dalam berbagai rangkaian ujaran, baik yang serupa maupun berbeda dalam bentuk dan makna.
Dalam ayat tersebut Syah}ru>r tidak memaknai kata al-nisa’ dengan istri atau perempuan berdasarkan beberapa “tanda” atau unsur elementer disekitar konteks kata al-nisa> tersebut secara linear, yang akan menjadi rancu jika diartikan dengan istri atau perempuan. “Tanda-tanda” itu adalah :
Pertama, sebelum kata hubb al-syahawa>t min al-Nisa>’ terdapat kalimat “zuyyina li al-na>s”. Kata al-na>s itu –sebagaimana dikemukakan diatas– berarti manusia mencakup arti laki-laki dan perempuan. Jika al-nisa>’ dimaknai istri atau perempuan, maka mestinya bunyi ayat itu adalah Zuyyina li al-Rijal. Jika kata al-nisa>’ tetap diartikan perempuan, hal ini membawa implikasi bahwa berarti al-Qur’an membolehkan “aktifitas” biseksual (baca: lesbian/”hubungan” sesama perempuan), karena dalam kata al-na>s sudah terkandung makna perempuan dan laki-laki. Kedua, di akhir ayat tersebut terdapat serangkaian tanda “z\a>lika mata>’ al-haya>h al-dunya>” yang jika kata al-nisa>’ diartikan sebagai perempuan atau istri, maka itu berarti perempuan atau istri tersebut merupakan kebutuhan manusia yang disejajarkan dengan makan, minum, tempat tinggal, kendaraan dst. Kemudian jika al-nisa’ diartikan perempuan, berarti al-Qur’an seolah mensejajarkan perempuan dengan barang-barang atau hewan yang tidak berakal seperti disebut dalam ayat al-Qanat}i@r al-muqant}arah wa al-khail al-musawwamah dan lain sebagainya. Mensejajarkan perempuan dengan yang tak berakal seperti ini adalah pandangan yang pejoratif dan tidak dapat diterima, sebab banyak ayat lain yang menjelaskan tentang kesetaraan perempuan dengan laki-laki yang sama-sama sebagai punya akal. Maka bagi Syah}ru>r kata al-nisa>’ dalam ayat tersebut tidak dapat diartikan dengan perempuan, sebab ada makna lain selain makna perempuan. Makna lain itu bisa dilacak dari genealogis kata al-nisa>’ yang dalam bahasa arab berasal dari Nasa’a yang artinya al-Ta’khir (datang belakangan, hal-hal yang mutakhir).
Untuk mendukung pendapatnya bahwa al-nisa>’ bermakna al-takhi>r Syah}ru>r menguji kata al-nisa>’ dengan menggunakan analisis paradigmatis untuk melihat hubungan distingtif antar unsur dalam sistem yang mempunyai nilai berbeda-beda, terhadap berbagai ayat dan h}adis Nabi sebagai berikut:
أخبرني أنس بن مالك أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ثم من أحب أن يبسط له في رزقه وينسأ له في رجاء فليصل رحمه
Artinya : “Barangsiapa yang ingin di luaskan rizkinya dan diakhirkan (panjangkan) umurnya, maka sambunglah tali kasih (baca: bersilaturami)
Dengan melihat relasi kata al-nisa>’ dengan hadis tersebut –khususnya dengan kata yunsa’a (diakhirkan)— Syah}ru>r berusaha melihat relasi kata al-nisa>’ tersebut secara paradigmatis dengan kata yunsa’a yang secara semantis berdekatan maknanya dengan kata al-nisa>’ dalam konteks yang berbeda.
Kemudian Syah}ru>r mengemukakan beberapa ayat yang di dalamnya terdapat kata al-nisa>’, namun dikarenakan konteks strukturnya (siya>q) berbeda dengan ayat A

  • n : 14 diatas, kata al-nisa>’ disini menurutnya tepat jika dimaknai dengan istri atau perempuan. Ada pun ayat-ayat tersebut adalah:
    • Al-rija>l Qawwa>mu>n a’la> al-Nisa> (Q.S Al-Nisa’[4]: 34)>
    • Li al-rija>l nas}i>bun mimma-ktasabu> wa li al-Nisa>’ Nas}i@bun mimma-ktasabna (Q.S. al-Nisa>’ [4]: 32)
    • Wabas\s\a minhuma> rija>l katsi>ra wa nisa’a> (Q.S. al-Nisa>’[4]: 1)
    Kata nisa>’ dalam ayat-ayat tersebut di atas dapat diartikan istri atau perempuan sebab hubungan-hubungan kata sebelum dan sesudahnya mengharuskan untuk mamaknai kata al-nisa> dengan perempuan atau istri. Dengan kata lain ada oposisi biner (biner opposition) yang jelas dalam ayat-ayat tersebut.
    Begitu pula kata bani@n yang bermakna anak laki-laki. Itu dapat dilihat dalam ayat-ayat yang punya oposisi biner yang jelas, misalnya: Fastaftihim, alirabbika al-bana>t walahum al-banu>n ? (Q.S. Al-S}a>fa>t [37] : 149)
    Sedangkan untuk kata al-bani>n, dalam Q.S. A>li Imra>n [3]: 14 tidak dapat dimaknai anak laki-laki, sebab tidak punya biner opposition yang jelas dalam ayat tersebut. Secara semantis, kata bani>n berasal dari kata banana bi ma’na al-luzu>m wal Iqa>mah artinya tegak yang merujuk kepada sifat-sifat dari bangunan. Untuk mendukung pengertian bahwa kata bani>n bermakna bangunan Syah}ru>r merujuk secara paradigmatis ayat lain yang berbunyi: Amaddakum bi an’a>min wa bani>n ( Q.S. al-Syu’ara>’ [26]: 133). Sedangkan kata ibn yang artinya anak laki-laki menurut Syah}ru>r berasal dari kata banawa, jama’nya adalah kata abna’.
    3. Terkait pendekatan scientifik, dalam sebuah wawancara ia mengatakan :
    “pendekatan modern muncul secara serius pada seperempat terakhir pada abad ke-20. Memang, kita bisa melacak sampai Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha. Namun, bila dibandingkan dengan karya-karya belakanagan, karya ‘Abduh itu tidak terlalu besar. Tugas kita adlah meninjau kembali prinsip-prinsip dasar. Prinsip akidah, prinsip fikih, dan bahkan semua prinsip”

    Selanjutnya Syahrur mencontohkan :

    “Jika Tuhan meciptakan alam semesta, maka kita harus melihatnya pula dalam Kitab Suci. Artinya, Kitab Suci ini adalah “kitab tertulis” yang diciptakan oleh Tuhan, dan alam semesta adalah “kita terbuka” yang diciptakan oleh Tuhan juga. Saya harus melihat bahwa pesan yang pasti adalah sama. Apabila kedua kitab itu dari Tuhan, saya ingin melihat Tuhan didalam keduanya. Kita tidak bisa, mengabaikan electron didalam kehidupan, meskipun kita tidak mendapati electron dalam Qur’an. Kita harus menjadikan hal ini sebagai pertimbangan, inilah metodologi saya “.

    Sebagai contoh, dapat dilihat dalam uraian Syahrur ketika menjelaskan pengertian terma “mukhallaqoh” dan “Ghairu mukhallaqoh” dalam Qs. Al-Hajj (22) : 5 yang disejajarkan dengan pengertian celldifferentiated dan cell undifferentiated dalam disiplin biologi molekul sel :
     ••                                          •   •                   •      
    Artinya : “Hai manusia, jika kamu dlam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudidan dari setetas mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadianya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan, dan (ada pula) diantara kamu yag dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah”.

    Ayat ini dipahami Syahrur dalam kerangka hokum evolusi (qanunal-tatawwurwa al-Irtiqa’) yang menjadi basis relasi dialektis antara format fisiologis manusia dan makhluq hidup lainnya.

    4. Terkait Hermeneutika, terlebih dahulu perlu dipahami, bahwa Syahrur membagi Korpus Kitab Suci kedalam tiga bagian besar, yaitu kategoti ayat muhkamat, ayat mutasyabihat, ayat la muhkamat wa la mutasayabihat. Kategorisasi ini merupakan identifikasi objek kajian secara detil. Dari aspek ini Syahrur berusaha konsisten dengan prosedur metode ilmiah, yaitu menentukan objek kajian, batasan wilayah, dan karakternya masing-masing. Karena dengan teridentifikasinya objek kajian secara jelas dan rigid, maka penentuan pendekatan dan metode analisis dalam penelitian dapat dilakukan. Selanjutnya Syahrur menegaskan untuk memahami ayat muhkamat, mekanisme yang dilakukan adalah ijtihad dengan kerangka Teori Batas (nazariyat al-hudud). Aktivitas ini oleh syahrur disebut “Tafsir”. Sedangkan untuk memahami ayat mutasyabihat, khususnya Al-Qur’an, mekanisme metodologi yang digunakan adalah “Ta’wil”. Kategorisasi ini ditentukan berdasarkan tema yang terkandung dalam masing-masing ayat, muhkamat untuk tema-tema hokum, (al-Ahkam) yang berada pada wilayah risalah (massage), dan bersifat subjektif, sedangkan mutasyabihat untuk tema-tema ilmiah (al-‘Ulum) yang berada pada wilayah nubuwwah (propechy), dan bersifat objektif.

    JAWABAN NO V

    وما ارسلناك الاَ رحمة للعالمين
    1. Tinjauan sintagmatis : ayat ini diasumsikan oleh penulis sebagai fungsi diutusnya rasul, yakni masih pada satu tutur rangkaian ayat diatas; sebagai rahmatan lil ‘alamin. Asumsi ini diambil dari sisi linear antara makna Rasul dalam akumulatif ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan, diantaranya sebagai pembawa kabar gembira dan ancaman didunia dan diakherat dengan makna rahmat. Secara bahasa rosul bermakna الانبعاث على التؤد “mengutus dengan cara lemah lembut, mengurai” dan membaca dengan tartil. demikian juga rahmat yang memiliki makan kasih sayang/ lemah lembut, seperti dalam kamus disebutkan وقد تستعمل تارة في الرقة المجردة،……. . Jadi, jika kita terjemahkan ayat tersebut , maka akan berbunyi : “dan Tiadalah Kami mengutus kamu untuk menguraikan dengan tartil, kasih sayang/kelembutan, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
    2. Tinjauan Paradigmatis : dalam tinjauan ini, perlu penjelasan-penjelasan atau dalil-dalil lain yang menunjang untuk ditafsirkannya ayat diatas. Disini, penulis mengambil kata kuncinya sama seperti pada tinjauan sintagmatis, yaitu “ Rasul”. Dalam kaitan ini perkembangan makna Rasul dapat di relasikan perbandingannya dengan Nabi yang terlebih dahulu terma makna rasul yang akan menjadi perbandingan diasumsi mendapat justifikasi dari Qs, Saba (34) : 28, tafsir al-Thabari dalam menjelaskan ayat diatas, Muhammad Rasyd Ridha, dan lain-lain lagi. Penjelasan lebih lanjut, tercantum dalam tabel berikut ini:
    Kriteria Nubuwwah Risalah
    Karakter Terdiri dari ilmu yang objektif (maudhu’i) terdiri dari hukum-hukum (al-Ahkam) yang bersifat subjektif (zati)
    Fungsi -Pembeda antara yang Haq dan Bathi -pembeda antara yang halal dan yang haram
    -memposisikan Muhammad saw sebagai seorang nabi -memposisikan Muhammad saw sebagai seorang Rosul
    Muatan Aturan universal alam semesta, aturan sejarah, ahsan al-qoshos, aturan particular fenomena alam, ahsan al-hadits, (al-sab’u al-matsaniy), ayat-ayat penjelas (tafsir al-kitab) Hudud, ibadah, akhlaq, (al-washaya), ta’limat yang bersifat khusus atau umum namun tidak termasuk dalam syari’at dan informasi ajaran yang pernah diterapkan pada nabi; bersifat local dan temporal

    JAWABAN NO VI
    1. Tinjauan sinkronis Qs. Al Nisa (4), 3 :
    Kata kunci yang penulis ambil adalah تقسطوا. Dalam tafsir ulama salaf, seprti al-Thabari dalam kitab tafsirnya, Ibn Katsir dan lain-laindimaknai adil dalam hal memberi mahar :
    8456 – حدثنا ابن حميد قال، حدثنا ابن المبارك، عن معمر، عن الزهري، عن عروة، عن عائشة:”وإن خفتم ألا تُقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طابَ لكم من النساء”، فقالت: يا ابن أختي، هي اليتيمة تكون في حِجر ولِّيها، فيرغب في مالها وجمالها، ويريد أن ينكحها بأدنى من سُنة صداقها، فنهوا أن ينكحوهن إلا أن يقسطوا لهن في إكمال الصداق، وأمروا أن ينكحوا ما سواهُنَّ من النساء. (1)
    2. Tinjauan diakronis
    Pada konteks kekinian, –bahkan mungkin pada masa awal-awal wahyu turun—‘adil diharuskan bukan hanya pada terma anak yatim dan pernikahan saja, melainkan dalam berbagai aspek