BAB I
PENDAHULUAN
Manusia adalah hamba Allah karena Allah lah yang menciptakannya. Seslain sebagai hamba, manusia juga sebagai kholifah Allah. Dari relasi keduanya, tercermin hubungan antara hamba-kholifah dan Allah. Sebagai ‘abdun, manusia mempunyai tugas pokok, yakni menghamba kepada Tuhannya. Sebagai kholifah, manusia mempunyai tugas pokok, yalni memakmurkan bumi dengan segeenap kemampuannya.
Masalah manusia merupakan kajian terpenting bagi semua agama di dunia. Namun, hanya islam yang memiliki kajia terlengkap berdasarkan kajian al-Quran dan sunnah. Hingga kini sudah banyak para ilmuawan dan ahli yang mengkaji posisi dan kedudukan manusioa, berikut tugas dan fungsinya.
Menurut Allah dalam al-Quran, manusia diberi amanah sebagai kholifah dalam kehidupan dunia. Tetapi, Allah juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia dan kesenangannya bukanlah tempat terakir, melainkan tempat antara menuju akhirat. Jadi akhiratrlah yang akan dituju oleh manusia sebagai kehidupan terakhir yang abadi. Dengan kata lain, kehidupan dunia menjadi alat bagi manusia untuk mengembangkan tugas kehambaan dan kekhalifahannya.
Sebagia kholifatullah fil ardl, manusia harus melaksanakan tiga peran sekaligus dalam kehidupanya di dunia. Tiga peran yang dim,aksud adalah 1) hubungan al-‘intifa’u bihi, utility, mengambil manfaat dari sumber daya dan kekuatan alam yang ada. Misalnya, kalimat : “mata’an lakum wali an’amikum, kenikmatan, kesenangan, fasilitas bagimu”; 2) hubungan ‘itibar, mengambil pelajaran ayau point, of view, yaitu alam dapat menambah pandangan dan menambah pelajaran bagi manusia. Pelajaran (‘itibar) berarti menambil hikmah. Alam bisa dijadikan sebagai pelajaran dengan cara mengambil temuan-tenuan yang dapat dijadikan teori dan menjadi pengetahuan secara umum. Misalnya, ungkapan, :”undzuru ma fissamawti wal ardl, perhatikanlah apa yang ada dilangit dan di bumi; “siru fil ardl, berjalanlah dimuka bumi”; 3) hubungan al-ihtifadh, hubungan pelestarian alam, konservasi dan penyelamatan alam, misalnya, ungkapan :” wa laa tufsiduu fil ardl, janganlah menimbulkan kerusakan dan bencana di dunia”. Kalimat ini sama dengan kalimat “janganlah menimbulkan pencemaran, ancaman atau kerusakan ekosistem”.
Demikianlah, betapa konsep islam mengenai kepemimpinan manusia harus senantiasa digali dan diterpkan dalam setiap lini kehidupan manusia guna kemashlahatan semua makhluk dibumi ini. Maka dengan atas dasar inilah kami mencoba sedikit membahas konsep dan makna kepemimpina serta hal-hal yang dianggap perlu dalamnya. Namun, kekurangan sudah pasti terdapat disana sini, oleh sebab itu dalam persentasi ini masukan dari berbagai pihak untuk kelengkapan pembahasan ini sangat kami harapkan.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Pemimpin

a. Dari akar kata خلف
Ibnul Jauzi , mengartikan kata khalifah dengan arti yang menempati tempat yang lain (القا ءم مقام غيره). Ali al-Shabuni mengartikan, menggantikan tempat yang lain dan menempati tempatnya(من يخلف غيره و ينوب منابه ( kata خلف فلا ن فلا نا menurut Abdurahiem Faudah bermakna, si fulan datang sesudahnya.sedangkan menurut al-Radhib al-Asfahani mengartikan, kebalikan terdahulu (ضد القدام).
Menurut Shawi , dalam tulisan خليفلة kadang pakai (ة) dan kadang tidak maka yang paling utama dan bisa dipakai yang dengan (ة), jika خليف maka bentuk jam’nya خلفا ء dan jika خبيفلة bentuk jma’nya خلا ء ف. Dan menurut al-Shabuni kata خليفة bentuk wazan فعيل dalam arti فاعل artinyaq yang menggantikan atau yang menempati tempat yang lain.
Menurut Ibnu al-Jauzi kata خليفة berasal dari kata خليف lau ditambahkan (ة) menjadi خليفة tujuannya untuk menunjukan arti Mubalaghoh/ berlebih atas pujian pada sifat-Nya. Ali al-Shabuni menyebutkan, disebut khalifah karena menggantikan Allah dalam melaksanakan hukum-hukum dan mengaplikasikan perintah Rabbani.
b. Dari akar kata اما م
Menurut lughoh imamah berarti “kepemimpinan” dan orang yang memegang imamah disebut “imam” . Sedangkan menurut istilah, imam mengandung makna pemimpin umat dalam urusan agama dan dunia, seperti ta’rif yang diberikan oleh :
1. Syekh Ali bin Muhammad al-Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat : 35 :
“imam adalah orang yang memegang khilafah (kepemimpinan umum) dalam urusan agama dan dunia”.
2. Al-Aqad dalam Dimoqratiyyah fi al-Islam : 68 :
“pemipin ialah yang memimpin manusia dalam menegakan hukum (syari’at), dan syarat yang diperlukan oleh seorang pemimpin adalah bersatunya kemampuan untuk menegakan hukum tersbut, dan setiap orang mampumemimpin manusia serta menjaga hokum-hukum tersebut, maka ia pemimpin islam yang benar”

2. Penggunaan Makna Kepemimpinan Dalam al-Quran

a. Dari akar kata خلف
Dalam al-Quran, خليفة terdapat pada 2 ayat, yakni; al-Baqoroh, 30 dan Shad, 26. Selain kata itu, terdapat kata lain, yaitu خلا ء ف pada ; al-An’am 165, Yunus 14 dan 73, Fathir 39. Juga kata خلفا ء dalam ; al-;Araf 74, al-naml 62.
Khalifah dalam surat al-Baqarah ayat 30
         
Ayat tersebut berkaitan dengan nabi Adam as. Ibnu al-Jauzi menafsirkan makna khalifah bagi Nabi Adam as., Adam as., sebagai khalifah/menggantikan Allah swt dalam menegakan syari’atnya dan mengajarkan, menunjukan tauhid kepadanya. Adam as. juga menggantikan mkhluk bumi yang sebelumnya.
Al-Maraghi menafsirkan, khalifah Adam as. adalah Adam jenis makhluk lain yang ada di bumi. Sebagai pengganti Allah dan menerapkan perintah-perintahnya kepada manusia. Shawi menyebutkan, Adam bermakna menggantikan Allah dalam mengaplikasikan hukum-hukum di bumi. Allah menjadikannya sebagai kholifah, sebagai rahmat bagi hamba bukan karena Allah miskin dan tidak mampu. Pada dasarnya, seorang hamba tidak punya potensi untuk menerima perintah-perintah dan larangan-larangan dari Allah tanpa perantara, dan tidak berkemampuan juga dengan perantara malaikat. Maka dengan kasih sayang, kelembutan serta kebaikan Allah swt Ia mengutus rasul-rasul dari jenis manusia.
Al-Shabuni menafsirkan, Adam menggantikan Aku (Allah) dalam menerapkan hukum-hukum-Ku di bumi. Atau satu kaum menggantikan satu kaum yang lain, satu generasi setelah generasi lain. Khalifah berarti menggantikan Allah dalam menegakan syari’at, mengajarkan tauhid, menegakan perintah-perintah rabbani. Makna lain yaitu menggantikan makhluk lain di bumi yang tinggal sebelumnya.
Khalifah dalam surat Shad ayat 26
        ••          •            
Ayat ini berkaitan dengan Nabi Daud. Ibnul jauzi menafsirkan khalifah fil ardli dengan tafsiran, Nabi Daud diperintah Allah untuk mengatur urusaan hamba yang bersumber dari sisi dan perintah Allah. Seolah-olah ia pengganti dari Allah
Dengan dasar ayat tersebut, al-Maraghi berpendapat bahwa Allah menjadikan manusia itu sebagai pengganti Allah di bumi dalam hal melaksanakan dan menerapkan hukum-hukum-Nya. Ayat itupun menunjukan kandungan makna lain, yaitu menjadikan khalifah sebagian dari antara manusia atas yang lainnya dengan cara Allah mewahyukan syari’atnya melalui lidah manusia dari antara mereka yang dipilih-Nya untuk menjadi khalifah. Dalam ayat ini, khalifah berarti menggantikan Allah didalam mengatur urusan hamba melalui perintah-perintah dari sisi Allah serta menerapkan perintah-perintah Allah pada manusia.
Khalaaif dalam al-An’am ayat 165
Ayat tersebut berkaitan dengan semua manusia, mereka adalah kholifah dibumi. Ibnu al-Jauzi menafsirkan dengan tiga makna yaitu; 1) manusia menggantikan bangsa jin yang telah menjadi penghuni bumi sebelumnya, 2) sebagian mnusia menggantikan sebagian lainnya, 3) umat Muhamad menggantikan umat-umat manusia sebelumnya. Disini menunjukan makna menggantikan posisi atau tempat yang ditempati.
Khalaaif dalam Yunus ayat 14
Ayat ini berkaitan dengan ahli Makkah yang Allah jadikan sebagai pengganti setelah kebinasaan kaum-kaum sebelumnya yang musyrik. Kaum yang musyrik tersebut diantaranya kaum nabi Nuh, ‘Ad, dan Tsamud . Dengan demikian khalaaif dalam ayat ini menggantikan kaum yang sebelumnya.
Khlaaif dlam Yunus ayat 73
Ayat ini berkaitan dengan nabi Nuh beserta kaumnya yang mukmin yang Allah jadikan sebagai penduduk bumi dan pengganti dari orang-orang yang ditenggelamkan (al-Shabuni) . Ayat ini memberikan makna bahwa khalifah bisa menempati tempat dan mengganti orang yang telah lalu.
Khalaaif dalam Fathir ayat 39
Ayat tersebut menjelaskan keadaaan manusia yang dijadikan Allah sebagai pengganti di bumi setelah kaum ‘Ad, Tsamud dan sebelumnya. Mereka menjadi pengganti ditempat-tempat pada satu generasi setelah generasi yang lainnya (al-Shabuni) .
Ayat tersebut menunjukan makna manusia sebagia khalifah dalam arti pemimpin yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpin, baik dirinya, istri, anak-anak, maupun pembantu mereka. Semua manusia adalah khalifah di muka bumi, mereka pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya (al-Shawi)
Disini berarti makna khlifah menggantikan kaum sebelumnya dan sebagai pemimpin yang bertanggunng jawab dan akan diminta pertanggungjawabannya.
Khulafa dalam al-‘Araf ayat 69
Ayat tersebut berkaitan dengan kaum ‘Ad yang diberi karunia dan nikmat Allah dan dijadikannya sebagai pengganti atau pewaris kaum nabi Nuh yang telah binasa sebelumnya. Mereka diberi kelebihan dengan badan yang tingi dan kuat (al-Maraghi) . Dalam ayat ini khalifah bermakna menggantikan kaum sebelumnya dan menjadi pewarisnya.
Khulafa dalam al-‘araf ayat 74
Ayat ini berkaitan dengan kaum Tsamud yang diberi nikmat Allah dan kebaikan. Mereka jadikan Allah sebagai pengganti dari kaum ‘Ad menempati tempat kaum ‘Ad, dan memakmurkannya. Mereka diberi kebaikan oleh Allah untuk membangun bangunan mewah dan menjadikan gunung sebagai rumah (al-Maraghi) . Khulafa dalam ayat tersebut bermakna menggantikan atau menempati tempat yang sebelumnya.
Khulafa dalam al-Naml ayat 62
Ayat tersebut menyatakan bahwa semua manusia dijadikan Allah sebagai khalifah yang menempati tempat bumi. Mereka memakmurkan dan membangun bumi serta menggantikan generasi setelah generasi lain, satu umat setelah umat yang lainnya (al-Shabuni) . Ayat tersebut menunjukan makna khalifah dalam arti membangun dan memakmurkannya sebagai pengganti dari generasi atau umat sebelumnya.

Khalifah dalam pandangan Abdu al-Rahim Faudah
Abdu al-Rhim Faudah tuhmenyebutkan :
” nabi Adam dan nabi-nabi sebelumnya Allah menjadikannya sebagai pengganti di bumi untuk membangun, memakmurkan bumi serta mengatur, memimpin, memerintah selruh manusia didalamnya serta menerapkan perintah dan larangan-Nya kepada mereka. Makna ini bukan berarti Alah membutuhkan kepada pengganti tapi untuk memberikan kemuliaan, keutamaan dan rahmat bagi manusia”
Faudah menyebutkan juga :”bani aadam seluruhnya dijadikan pengganti Allah di bumi. Ia mengatur dan menguasai segala materi yang terdapat di bumi untuk dijadikannya bermaslahat dan memenuhi kebutuhan sesuai kesenangannya sesuai manhaj Allah.
Pendapat pakar pendidikan
Ali Ahmad Madzkur menyebutkan :
“manusia adalah makhluk paling mulia dari semua makhluk Allah di bumi yang tujuan diciptakannya untuk beribadah. Fungsi keberadaanya di muka bumi adalah untuk menegakan kebenaran sebagai khalifah Allah atau pengganti Allah di bumi, untuk memakmurkan dan membangun sesuai konsep Allah”.
Allah memandang kehidupan manusia –sebagai satu bagian dari alam besar- tidaklah tetap seluruhnya, dan tidak pula berubah-ubah seluruhnya. Pada diri manusia, ada aspek yang tetap dan tidak seharusnya berubah. Ia tidak berubah-ubah karena perubahan fenomena kehidupan yang nyata dan bentuknya yang praktis. Karena jika berubah maka akan kacau dan rusaklah kehidupan manusia. Didalamnya juga terdapat aspek yang berubah dan dalam keadaanya, tidak seharusnya beku selamanya. Jika ia beku dan tetap dalam keadaannya maka kehidupanpun akan beku dan berhenti dari perkembangannya. Perubahan didalam fenomena-fenomena kehidupan dan bentuk-bentuk kondisi praktis itu tetap diputuskan dengan sendi-sendi dan nilai-nilai dari agama.
Diantara aspek-aspek tetap yang menggambarkan poros yang tetap dan disekitarnya berporos hukum islam ialah:
1. Semua yang berhubungan dengan hakikat ilahi, seperti hakikat wujud Allah, keabadiannya dsb.
2. Hakikat alam seluruhnya adalah bagian dari ciptaan Allah
3. Hakikat ‘ubudiayah kepada Allah
4. Hakikat rukun iman
5. Hakikat agama
6. Hakikat manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh Allah
7. Hakikat bahwa manusia berasal dari asal yang Satu
8. Hakikat bahwa tujun wujud manusia adalah untuk beribadah kepada Allah
9. Hakikat dunia adalah tempat ujian dan amal, bahwa akhirat tempat hisab dan balasan
Adapun aspek-aspek yang berubah adalah :
1. Situasi dan kondisi politik
2. Sosial ekonomi
3. Pendidikan, dan segala sesuatu yang serupa dengannya
Kondisi ini semua selalu berubah sesuai dengan perbuatan manusia di bumi dan kekhalifahan dari Allah didalamnya. Juga berdasarkan interaksi akalnya yang terus menerus dengan alam materi dan apa yang dihasilkan dari yang demikian itu seperti perubahan kondisi sosial, politik, ekonomi, dan pendidikan.
Akan tetapi tetaplah bagi manusia nilai yang tetap, yaitu bahwa dia khalifah Allah di muka bumi untuk memakmurkannya dan membangun sesuai dengan system yang telah ditetapkan. Dalam bidang sosial misalnya manusia bercocok tanam di muka bumi dengan kapak dan bajak; karena kondisi kehidupan menuntut yang demikian. Dengan itu, dia telah memenuhi syarat-syarat kekhalifahan. Kondisi berkembang sehingga diapun memandang bahwa syarat-syarat kekhalifahan menuntut penggunaan mesin pertanian; dan berkembang pula kondisi sehingga dia memandang penting sekali untuk meledakan atom dan mengirim satelit untuk menyingkap keadaan atmosfer bumi.
Demikianlah, bentuk-bentuk kekhalifahan mengalami perkembangan di muka bumi, akan tetapi bagaimanapun pada hakikatnya, pengertian (konsep)nya tetap, yakni manusia menjalankan hanya untuk memakmurkan bumi sesuai konsep Allah. Tidak ada sesuatupun di muka bumi ini yang mengungguli manusia

MARAJI’
1. Al-Qur’an al-Karim
2. Dudung KY, M. Pd dan Drs. Dedeng Rosyidin, M.Ag.. 2008. Syariah Leadership, Cet pertama. Bandung: Tafakur.
3. Drs. KH. .Shidiq Amin. MBA, dkk. 2005 Panduan Hidup Berjama’ah, cetakan pertama. Bandung: Tafakur.