Penghormatan yang beliau saw terima dari para sahabatnya dalam konteks takriman, ta’liman wa qudwatan sering mejadi kemudahan bagi beliau dalam menjalankan berbagai aktifitas peribadahannya. Tidak sebatas itu, bahkan dalam keadaan sulit sekalipun para sahabat tetap berusaha menyelamatkakn rasulullah saw sang messenger risalah suci dari ulah tangan-tangan kafirin. Tidak jarang para sahabat menjadi hantaman lawan demi membentengi rosulullah saw walaupun pada akhirnya beliau mesti terluka di bagian pelipis dan grahamnya pada peristiwa perang uhud. Kiranya apa yang menyebabkan sejarah serangkaian pengurbanan para sahabat berani dilakukan terhadap baginda rasulullah saw? Tidak adakah alasan lain yang mereka lakukan itu atas dasar cinta? Bukankah mencintai Allah itu berarti harus mencintai rasul? Bukankah sesuatu yang dicintai itu haruslah dita’ati permintaanya, dipelihara, dirawat dan dilestarikan? apalagi yang dicintai itu benar adanya?
Maka tidak diherankan lagi jika rasul didunia saja memperlakukan sahabat dengan bijak, ramah, dan penuh perhatian. Bahkan beliau sampai mendo’akan dan menjamin diantara para sahabat ada yang menjadi manusia yang haram masuk neraka, ada yang sudah terdengar derap langkah kakinya disurga, dan lain sebagainya. Ini bukan semata-mata karna faktor kedekatan ataupun nasab semata, melainkan cinta (ketaatan) mereka terhadap beliau sebagai rasulullahlah yang menjadi ‘illatnya.
Dalam sebuah riwayat yang termaktub dalam kitab shahih al Bukhari disebutkan
حدثنا محمد بن المثني قال : حدثنا عبد الهاب الثقفي قال : حدثنا ايوب قال : عن ابي قلابة عن انس ض. عن النبي ص. قال : ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الايمان : ان يكون الله ورسوله احب اليه مما سواهما, وان يحب المر ء لا يحبه الا الله, وان يكره ان يعود في الكفر كما يكره ان يقدف في النار (باب حلاوة الايمان, ج : 1, ص : 12)
Deskripsi hadits diatas adalah iman yang melandasi kita untuk meluapkan perasaan cinta terhadap sesuatu, bahkan kita bisa merasakan sesuatu yang termasnis dalam iman. Mencintai Allah dan rasulnya lebih dari diri sendiri artinya kadar kesadaran manusia telah benar-benar menempuh iman kepada Allah dan rasul-Nya. Kenapa harus iman????? Dengan iman seorang akan terbimbing hati, fikiran dan gerak langkahnya. Ia akan dengan tentram menerima anugrah yang telah dianugerahkan kepadanya. Baik buruknya disikapi dengan sabar dan tawakal. Optimis dalam meraih cita-cita dan husnudzon dalam berfikir dan berkeyakinan. Sehingga apapun yang ia hadapi akan disikapi dengan penuh rasa cinta. Dengan iman cinta digelar di muka bumi dengan penuh keberkahan. Harmoni alam dan manusiapun terjalin. Yang papa dan berada hidup berdampingan, tuan dan majikan hidup saling menghormati, laki-laki perempuan saling menghargai dan begitu seterusnya. Maka dengan sendirinya lahirlah perasaan saling mencintai yang timbul dari iman.