LATAR BELAKANG
Manusia adalah hamba Allah karena Allah-lah yang menciptakannya. Selain sebagai hamba, manusia juga sebagai kholifah Allah. Dari relasi keduanya, tercermin hubungan antara hamba-khalifah dan Allah. Sebagai ‘abdun, manusia mempunyai tugas pokok, yakni menghamba kepada Tuhannya. Sebagai khalifah, manusia mempunyai tugas pokok, yakni memakmurkan bumi dengan segenap kemampuannya.
Masalah manusia merupakan kajian terpenting bagi semua agama di dunia. Namun, hanya islam yang memiliki kajian terlengkap berdasarkan al-Quran dan al-Sunnah. Hingga kini, sudah banyak para ilmuwan dan ahli yang mengkaji posisi dan kedudukan manusia, berikut tugas dan fungsinya.
Menurut Allah dalam al-Quran, manusia di beri amanah sebagai kholifah dalam kehidupan dunia. Tetapi, Allah juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini dan kesenangannya bukanlah tempat terakhir, melainkan tempat menuju akhirat. Jadi, akhiratlah yang akan dituju oleh manusia sebagai kehidupan terakhir yang abadi. Dengan kata lain, kehidupan manusia menjadi alat bagi manusia untuk mengemban tugas kehambaan dan kekhalifahannya.
Ibnu al-Jauzi mengartikan kata khalifah dengan arti yang menempati tempat lain. Ali al-Shabuni mengartikan, menggantikan yang lain dan menempati tempatnya. Sementara Abdul al-Rahim Faudah menyebutkan, “nabi Adam as. dan nabi-nabi sesudahnya Allah menjadikannya sebagai pengganti di bumi untuk membangaun, memakmurkan bumi serta mengatur, memimpin, memerintah seluruh manusia didalamnya, dan menerapkan perintah dan larangan-Nya pada mereka. Makna ini bukan berarti Allah membutuhkan kepada pengganti, tapiuntuk memberikan kemuliaan, keutamaan dan rahmat bagi manusia”
faudah menyebutkan juga, “bani Adam seluruhnya dijadikan sebagai pengganti Allah di bumi dalam arti membangun, mengembangkan dan mengembangkan apa yang Allah jadikan di bumi. Ia menguasai dan mengatur segala materi yang terdapat di bumi untuk dijadikannya beramshlahat dan memenuhi kebutuhan sesuai kesenangannya sesuai manhaj Allah”.
Sementara pakar pendidikan Ali Ahmad Madzkur menyebutkan “ manusia adalah makhluk paling mulia dari semua makhluk Allah di bumi yang tujuan diciptakannya untuk beribadah. Fungsi keberadaannya dimuka bumi adalah untuk menegakan kebenaran sebagai khalifah Allah/ pengganti Allah di bumi, untuk memakmurkan, dan membangun bumi sesuai konsep allah”.
Allah memandang kehidupan manusia-sebagai satu bagian dari alam besar- tidaklah tetap seluruhnya, dantidak pula berubah-ubah seluruhnya. Pada diri manusia, terdapat aspek tetap dan seharusnya berubah. Ia tidak berubah-ubah karena perubahan fenomena kehidupan nyata dan bentuknya yang praktis. Karena jika berubah maka akan kacau dan rusaklah kehidupan manusia. Didalamnya juga terdapat aspek yang berubah dan dalam keadaannya, tidak seharusnya beku selamanya. Jika ia beku dan tetap dalam keadaannya maka kehidupan juga akan membeku dan terhenti dari perkembangannya. Perubahan didalam fenomena-fenomena kehidupan dan bentuk-bentuk kondisi praktis itu tetap diputuskan dengan sendi-sendi dan nilai-nilai yang tetap dari agama.
Diantara aspek-aspek tetap yang menggambarkan poros yang tetap dan disekitarnya berputar system islam adalah : 1. Semua yang berhubungan dengan hakikat ilahi. 2. Hakikat ‘ubudiah kepada Allah. 3. Hakikat percaya pada rukun iman. 4. Hakikat agama. 5. Hakikat manusia. 6. Hakikat dunia atau alam.adapun aspek-aspek yang berubah adalah : 1. Situasi dan kondisi politik. 2. Social. 3. Pendidikan. 4. Ekonomi, dan segala sesuatu yang serupa dengannya. Berbeda dengan aspek-aspek yang tetap, kondisi ini semua selalu berubah berdasarkan perbuatan manusia di bumi dan kekhalifahan dari Allah didalamnya. Juga berdasarkan intersaksi akalnya yang terrus menerus dengan alam materi dan apa yang dihasilkan dari yang demikian itu seperti perubahan kondisi ekonomi, social, politik, dan pendidikan.
Akan tetapi tetaplah nilai yang tetap bagi manusia, yaitu bahwa dia khalifah Allah di muka bumi untuk memakmurkannya dan membangunnya sesuai dengan system yang telah ditetapkan. Dalam bidang social misalnya, manusia bercocok tanam di muka bumi dengan menggunakan kapak dan bajak; karena tuntutan atau kondisi kehidupan menuntut demikian. Denganitu, dia telah memenuhi syarat-syarat kekhalifahan. Kondisi kemudian berkembang sehingga dia pun memandang bahwa syarat-syarat kekhalifahan menuntut penggunaan mesin pertanian; dan berkembang pula kondisi sehingga dia memandang penting sekali untuk meledakan atom dan mengirim satelit untuk menyingkap keadaan atmosfer bumi.
Demikianlah, kurang lebih bentuk-bentuk kekhalifahan mengalami perkembangan di muka bumi, akan tetapi bagaimanapun pada hakikatnya, pengertian (konsep) nya tetap, yakni manusia menjalankan haknya untuk memakmurkan bumi sesuai dengan system Allah. Tidak ada sesuatu pun di muka bumi ini yang mengungguli manusia
Nilai-nilai manusia tidaklah patut digadaikan demi sesuatu yang hanya dapat menimbulkan keruksakan dan kekacauan. Hal tersebut sangat bertentangan dengan hakikat manusia sebagai pemimpin dari segala sesuatu yang ada di muka bumi. Hal yang semestinya bermanfaat bagi manusia pada umumnya mutlak di lakukan oleh seorang khalifah; mengingat khalifah adalah sebagai amanat yang wajib dilaksanakan . Seperti mendidik dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pengkaderan sumber daya manusia (SDM), serta membaharu lingkungan hidup atau alam dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Sumber Daya Alam (SDM).
Hal inilah yang menarik untuk dikaji, mengingat banyak jihat yang masih kosong untuk menerima masukan-masukan berupa hasil telaah dari semua segi; terkait aksio pemimpin sebagai khalifah fil ardli dalam mensikapi aturan khaliq dan mengaplikasikannya kepada manusia, alam dan system. Disamping itu pula, masih terdapat beberapa persoalan yang ada hubungannya dengan tema kepemimpinan yang krusial dan menarik untuk dikaji; “seperti pemimpin perempuan dalam islam”, “memilih dewan yang non musli” dan lain sebagainya.
Sumber
1. Al-Quranul Karim
2. Al-Jauzi, Ibnu. 1965. Tafsir Ibnu al-Jauzi, 1,2. Beirut : Al-Maktab al-Islami
3. Drs. Dedeng R, M. Ag., Dudung KY, M.Pd., 2008. SYARIAH LEADERSHIP, bandung : Tafakur
4. Shawi, Ahmad.1993. Hasiyah al-‘alamah al-Shawi. Beirut : Libano