PENDAHULUAN
Sejarah penafsiran al-Qur’an telah melewati berbagai fase yang panjang, rumit dan kompleks. Awalnya, penafsiran merupakan usaha menemukan maksud yang sesuai dengan teks, namun pada tahap selanjutnya proyeksi penafsiran terkontaminasi dengan usaha menundukkan al-Qur’an demi kepentingan kelompok keagamaan dan individu.
Jika diteliti, produk-produk penafsiran al-Qur’an dari generasi ke generasi memiliki corak dan karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain adalah adanya perbedaan situasi sosio-historis di mana seorang mufassir hidup. Bahkan situasi politik yang terjadi ketika mufassir melakukan kerja penafsiran juga sangat kental mewarnai produk-produk penafsirannya. Tidak berlebihan jika Micheil Fucoult pernah menyatakan suatu tesa bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari adanya relasi kekuasaan/politik.
Di samping cakupan makna yang dikandung oleh al-Qur’an memang sangat luas, perbedaan dan corak penafsiran itu juga disebabkan perbedaan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing mufassir. Al-Qur’an itu memang merupakan kitab yang yahtamil wujuh al-ma’na (mengandung kemungkinan banyak penafsiran). Sehingga adanya pluralitas penafsiran al-Qur’an adalah sah-sah saja, sepanjang dapat dipertanggung-jawabkan secara moral dan ilmiah. Penafsiran itu dapat diibaratkan sebuah “organisme” yang selalu tumbuh dan berkembang. Ia akan selalu mengalami perubahan dan perkembangan seiring dan senafas dengan kemajuan tantangan yang dihadapi manusia.
Disinilah kelebihan Ignaz Goldziher, dengan kritis dan objektif menjelaskan berbagai upaya kelompok-kelompok keagamaan atau individu untuk menafsirkan al-Qur’an, sejak jaman klasik sampai jaman awal kedatangan dunia modern, serta membongkar motif-motif kepentingan yang tertuang dalam penafsiran mereka.
Dalam setiap sirkulasi sejarah Islam, pemikiran yang muncul senantiasa cenderung mencari justifikasi kebenaran bagi dirinya untuk menunjukkan kesesuaian pemikirannya dengan Islam dan dengan apa yang dibawa oleh Rasulallah. Sebab dengan begitu, maka pemikiran tersebut akan mendapat posisi yang kuat di hati para pengikutnya dalam sistem keberagamaan mereka.
Kecenderungan ini dan interaksinya dengan penafsiran secara otomatis merupakan wadah bagi tumbuhnya penulisan tafsir aliran yang kemudian pada episode selanjutnya menjadi persaingan dengan penafsiran yang panjang lebar, baik dalam uraian maupun cakupannya.
Munculnya Madzahib al-Tafsir, sesungguhnya merupakan sebuah keniscayaan sejarah, sebab setiap generasi selalu menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bahkan kadang-kadang sebagai legitimasi bagi tindakan dan kepentingannya.
Al-Qur’an sendiri memang sangat terbuka untuk ditafsirkan (multi interpretable), dan masing-masing mufassir ketika menafsirkan al-Qur’an biasanya juga dipengaruhi oleh kondisi sosio-kultural di mana ia tinggal, bahkan situasi politik yang melingkupinya juga sangat berpengaruh baginya. Di samping itu, ada kecenderungan dalam diri seorang mufassir untuk memahami al-Qur’an sesuai dengan disiplin ilmu yang ia tekuni, sehingga meskipun objek kajiannya tunggal, yaitu teks al-Qur’an, namun hasil penafsiran al-Qur’an tidaklah tunggal, melainkan plural. Oleh karenanya, munculnya Madzahib al-Tafsir tidak dapat dihindari dalam sejarah pemikiran umat Islam. Ia merupakan keniscayaan sejarah.

SEJARAH TAFSIR DAN MAZHAB
Perkembangan tafsir tidak lepas dari perkembangan ilmu fiqih, usul fiqih dan perkembangan mazhab. Di zaman Rasulullah saw., sumber hukum Islam hanya ada dua, yaitu Al-Qur’an dan sunnah. Apabila muncul suatu peristiwa yang membutuhkan keputusan hukum, keputusan dapat langsug diperoleh dari Rasulullah saw. sebagai pemegang otoritas sunnah. Dalam menetapkan hukum yang tidak ada ketentuannya dalam Al-Qur’an, Rasulullah saw. menetapkannya melalui ijtihad. Cara-cara Rasulullah saw. berijtihad inilah yang menjadi bibit munculnya ilmu usul fiqih. Para ulama usul fiqih berpendapat bahwa usul fiqih ada bersamaan dengan hadirnya fiqih, yaitu sejak zaman Rasulullah saw.
Pada era sahabat bibit tersebut semakin jelas, karena wahyu telah terhenti dan Rasulullah saw. telah wafat, sementara persoalan-persoalan yang dihadapi terus berkembang. Tokoh-tokoh mujtahid yang termasyhur di zaman sahabat di antaranya adalah Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Persebaran sahabat ke berbagai daerah yang berbeda budaya dan kondisi geografisnya berpengaruh terhadap ijtihad dan penetapan hukum yang mereka lakukan. Konsekuensinya, dalam kasus yang sama, hukum di suatu daerah dapat berbeda dengan daerah lainnya. Perbedaan ini berawal dari perbedaan cara pandang dalam menetapkan hukum pada kasus tersebut.
Di antara penafsiran yang diriwayatkan oleh para sahabat ada yang bersumber dari Rasulullah saw. dan ada yang bersumber dari pendapat mereka sendiri. Namun demikian, dalam memahami Al-Qur’an mereka senantiasa berpegang pada penafsiran yang diberikan oleh Rasulullah yang diterima secara langsung ataupun tidak langsung, melalui asbab an-nuzul dan dengan penalaran serta ijtihad.
Di zaman tabi’in, terdapat sekelompok ulama yang menaruh perhatian khusus terhadap tafsir. Mereka meriwayatkan tafsir dari Rasulullah saw dan sahabat di samping dengan ijtihad mereka sendiri. Pada era ini permasalahan yang muncul semakin kompleks. Para tabi’in yang berada di daerah-daerah yang berbeda melakukan ijtihad dan menghasilkan keputusan yang terkadang juga berbeda. Di Madinah tampil Sa’id bin al-Musayyab sebagai mujtahid. Di Irak Alqamah bin Waqqas, al-Laits dan Ibrahim al-Nakha’i. di Bashrah muncul Hasan al-Bashry.
Gejolak politik dan perkembangan pemikiran keagamaan telah mendorong munculnya mazhab-mazhab yang mencakup berbagai aspek keagamaan. Di awal perkembangan Islam, gejolak politik dan konflik keagamaan melahirkan tiga kekuatan utama, yaitu kekuatan Alawiyyin (pendukung Ali) vis a vis kekuatan Umayyah (pendukung Mu’awiyah), dan kelompok Murji’ah yang mengisolasi diri dari konflik. Peristiwa tahkim dinilai sebagai titik tolak perpecahan kekuatan di belakang Ali, dan munculnya aliran Syi’ah dan Khawarij.
Kelanjutan konflik dan keberhasilan Muawiyah menjadi khalifah, suksesi kekhalifahan Bani Umayyah dan kesewenang-wenangan birokrasi pemerintahan khalifah dalam menjalankan roda pemerintahan telah mengantarkan umat Islam dan para pemikir, dengan paradigmanya, kepada perdebatan teologis yang pada gilirannya melahirkan mazhab-mazhab kalam. Perbedaan persepsi tentang orang yang melakukan dosa besar merupakan penyebab utama munculnya mazhab Mu’tazilah dan Asy’ariyyah.
Pada perkembangannya, perbedaan mendasar antara Mu’tazilah dan Asy’ariyyah terletak pada persoalan akal, apakah ia lebih dahulu daripada syari’at ataukah akal mengikuti ketetapan syari’at. Kalangan Asy’ariyyah berpendapat
Ignaz Goldziher membagi sejarah dan perkembangan tafsir menjadi tiga periode.
1. Tafsir pada masa perkembangan madzhab-madzhab yang terbatas pada tempat berpijak Tafsir bi al-Ma’tsur.
Pada masa awal Islam, para sahabat menafsirkan al-Qur’an dengan pemahaman mereka tentang bahasa Arab dan pengetahuan mereka tentang Azbabun Nuzul. Jika terjadi kemusykilan berkaitan dengan makna al-Qur’an, mereka merujuk langsung kepada nabi. Begitu pula para tabi’in, mereka belajar kepada para sahabat dan mengambil banyak tentang tafsir disamping pengetahuan mereka akan bahasa Arab, kemampuan mereka sangat baik dalam memahami bahasa Arab.
Pada mulanya tafsir diriwayatkan dari seorang kepada seorang lainnya. Para sahabat meriwayatkan tafsir dari nabi, kemudian para tabi’in meriwayatkan dari sahabat dan meriwayatkannya kepada generasi selanjutnya dan begitulah seterusnya.
Menurut Ignaz Goldziher, disyaratkannya bagan (sanad) Hadits merupakan poin yang cukup diperhitungkan dalam wilayah ilmu-ilmu keagamaan dan secara khusus untuk memberikan parameter dalam bidang tafsir. Tafsir bi al-Ma’tsur adalah tafsir yang dapat disaksikan keshahihannya, yakni tafsir yang didasarkan pada “ilmu” atau tafsir yang dapat ditetapkan bahwa nabi sendiri atau para sahabatnya bersentuhan langsung dalam wilayah pengajaran hal itu dan telah menjelaskannya dengan penjelasan makna al-Qur’an dan dalalahnya. Karena sudah sangat jelas, nabi sendiri sering ditanya tentang makna kosakata dan ayat al-Qur’an, lantas beliau menjelaskan itu semua. Demikianlah beliau tidak menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan pendapatnya sendiri, tetapi beliau menerima tafsirnya dari malaikat Jibril yang mengajarkan kepada beliau dengan nama Allah (dengan riwayat dari Allah).
Disini Ignaz Goldziher secara eksplisit membatasi Tafsir bi al-Ma’tsur hanyalah tafsir pada masa nabi dan masa sahabat. Hal ini sepaham dengan apa yang disampaikan oleh al-Zarqani yang membatasi pada tafsir yang diberikan oleh ayat-ayat al-Qur’an, sunnah dan para sahabat. Namun sebagian ulama tidak sepakat dengan batasan tersebut. Para ulama ada yang memasukkan tafsir generasi Tabi’in dalam cakupan Tafsir bi al-Ma’tsur.
Pada fase ini yang paling mengemuka adalah mengenai perdebatan seputar tata cara bacaan al-Qur’an. Dimana banyaknya ragam bacaan al-Qur’an merupakan topik yang sangat panas pada saat itu. Pertarungan argumen tentang cara baca yang benar membentuk mazhab-mazhab yang saling klaim bahwa bacaan merekalah yang paling benar.
Munculnya perdebatan seputar bacaan al-Qur’an pada masa ini menurut Ignaz Goldziher tidak lain merupakan usaha untuk menjaga, melestarikan dan menegakkan kitab suci ini. Ragam bacaan mencerminkan usaha untuk menafsirkan firman Tuhan, karena pada tahap selanjutnya memiliki implikasi yang sangat jauh dalam memahami dan memaknai teks al-Qur’an.
2. Tafsir pada masa perkembangannya menuju madzhab-madzhab ahli ra’yi yang meliputi aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, dan aliran politik keagamaan.
Pada fase ini orientasinya tidak lagi untuk menjaga keotentikan dan penafsiran yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan al-Qur’an, tetapi lebih berorientasi pada bagaimana penafsiran al-Qur’an ini dapat melegitimasi kelompok-kelompok tertentu, seperti aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, bahkan penafsiran al-Qur’an ini menjadi tunggangan aliran politik keagamaan tertentu.
Dalam pandangan Ignaz Goldziher pada generasi terdahulu telah terjadi perpecahan dalam tafsir al-Qur’an bi al-Ma’tsur. Perpecahan ini pada awalnya tidak dimaksudkan agar penafsiran mereka menyimpang dari karakter riwayat dan naql. Perpecahan ini pertama kali terjadi dari kaum rasionalis yaitu sekelompok orang pemeluk suatu mazhab keagamaan yang hendak menafikan segala bentuk konsepsi seorang muslim dalam keyakinannya tentang uluhiyah (ketuhanan), baik itu hakikatnya atau tatanan ketuhanan lainnya, dan semua hal yang menyingkirkan peran akal. Karena kalau tidak demikian, maka posisi ketuhanan akan turun drastis sampai pada wilayah material yang sangat tidak layak. Kelompok ini juga berusaha menghilangkan semua ikhtiar yang bertentangan dengan tuntutan hikmah dan keadilan. Tentu dapat ditebak bahwa kelompok ini adalah adalah kaum Mu’tazilah.
Tafsir bi Ra’yi adalah tafsir yang didalam menjelaskan maknanya atau maksudnya, mufassir hanya berpegang pada pemahamannya sendiri, pengambilan kesimpulan (istinbath) pun didasarkan pada logikanya semata. Kategori penafsiran seperti ini di dalam memahami al-Qur’an tidak sesuai dengan ruh syari’at yang didasarkan pada nash-nashnya. Rasio semata yang tidak disertai bukti-bukti akan berakibat pada penyimpangan terhadap Kitabullah.
Selain itu, pemahaman akan al-Qur’an terutama didekatkan pada pendekatan filologis-gramatikal. Pendekatan ayat per ayat atau kata per kata ini tentunya menghasilkan pemahaman yang parsial (sepotong) tentang pesan al-Qur’an. Bahkan, sering terjadi penafsiran semacam ini secara keterlaluan menanggalkan ayat dari konteks dan aspek kesejarahannya untuk membela sudut pandang tertentu. Dalam kasus-kasus tertentu seperti dalam pandangan akidah (teologis), filosofis dan sufistis, gagasan-gagasan asing sering dipaksakan ke dalam al-Qur’an tanpa memperhatikan konteks kesejarahan dan kesusastraan al-Qur’an.
3. Tafsir pada masa perkembangan kebudayaan/keilmuan Islam yang ditandai dengan timbulnya pemikiran baru dalam keislaman oleh Ahmad Khan, Jamalauddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha.
Menurut kacamata Ignaz Goldziher, permasalahan antara kebudayaan dan Islam merupakan permasalahan yang bertolak belakang, dan jawaban dari keduanya sudah diupayakan sejak lama oleh kebanyakan tradisi keilmuan yang beragam dalam dunia Islam, baik secara teoritis maupan ilmiah. Islam selama ini tidak dianggap sebagai ajaran yang mengabaikan tujuan dasar untuk kemajuan rasional dan kemajuan sosial, kecuali disebabkan karena adanya pengaruh keagamaan yang keliru dan bentuk-bentuk penafsiran yang salah dari para ulama mutakhir.
Penyelewengan ajaran Islam itulah yang selama ini menjadi penyebab utama adanya paradoks bagi makna dan hakikat Islam berupa tidak adanya mobilisasi Islam ke arah paradigma kebudayaan modern. Nilai-nilai etis secara final ditetapkan bagi segala urusan yang tidak memiliki relevansi kecuali hanya sebatas temporal-relatif; sementara kewajiban-kewajiban dicanangkan, dengan kebenaran syari’at (legitimasi agama) yang tidak bisa menerima perubahan dan pergantian. Inilah yang menyebabkan kejumudan kehidupan dalam Islam, dan kekhurafatan (mitos) menampakkan diri hadapan dunia nyata yang asing, yaitu bahwa klaim tentang kesempurnaan Islam barangkali menyerupai sebuah wilayah empat persegi (terbatas). Seandainya masalah-masalah yang memiliki nilai relatif-temporal di dalam Islam itu dipahami secara proporsional, artinya didasarkan pada nilai-nilai relatif-temporalnya – begitu juga segala sesuatu itu tidak harus selalu dikembalikan kepada akidah dan moralitas, tetapi kepada prinsip-prinsip dasar sosial, ekonomi dan konstitusional, sebagaimana ia dikembalikan kepada pengetahuan ilimiah – tentu umat Islam tidak akan menjadi batu sandungan bagi sistem sosial yang selalu menuntut adanya dinamisasi dan kesinambungan zaman yang selalu berubah, bukan sekedar menawarkan produk-produk pemikiran belaka.
Secara spesifik, menurut Ignaz Goldziher, Islam tidak bertolak belakang dengan kemajuan ilmu, karena jika bertolak belakang maka berarti Islam itu bertentangan dengan semangat pembawanya. Padahal Muhammad adalah nabi yang sangat menghargai pentingnya pola pemikiran dengan akal, sebagai karya manusia yang paling tinggi dan mulia.
-Pandangan Para Ulama
Para ulama berbeda-beda dalam memetakan mazhab tafsir. Ada yang membagi perkembangan tafsir menjadi empat periode, yaitu pertama, periode Rasulullah SAW.; kedua, periode mutaqaddimin; ketiga, periode mutaakhirin; dan keempat, periode modern (al-‘Asri).
Ada juga yang membagi berdasarkan periodesasinya atau kronologis waktunya, sehingga menjadi mazhab tafsir periode klasik, pertengahan, modern atau kontemporer. Ada pula yang berdasarkan kecenderungannya, sehingga muncul mazhab teologi mufassiranya, sehingga muncul istilah tafsir Sunni, Mu’tazili, Syi’i, dan lain sebagainya. Ada pula yang melihat dari sisi perspektif atau pendekatan yang dipakainya, sehingga muncul istilah tafsir sufi, falsafi, fiqhi, ‘ilmi, adabi ijtimai’ dan lain sebagainya. Bahkan ada pula yang melihat dari perkembangan pemikiran manusia, sehingga mazhab tafsir itu dapat dipetakan menjadi mazhab tafsir yang periode mitologis, ideologis, dan ilmiah.
M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an melalui penafsiran-penafsirannya mempunyai peranan yang sangat besar bagi maju mundurnya umat. Sekaligus penafsiran-penafsiran tersebut dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka.
KESIMPULAN
Dalam disiplin keilmuan apapun, mulai dari ilmu Tafsir, Tasawuf, Filsafat, dan ilmu-ilmu umum lainnya, selalu ada yang namanya mazhab atau aliran. Munculnya Madzahib al-Tafsir atau aliran-aliran dalam penafsiran al-Qur’an sesunguhnya merupakan salah satu bentuk pluralitas dalam memahami al-Qur’an yang disebabkan oleh adanya dialektika antara teks yang terbatas dan konteks yang tak terbatas.
Mengkaji Madzahib al-Tafsir secara baik akan menjadikan kita lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan-perbedaan penafsiran yang ada, sehingga kita tidak perlu menganggap final suatu penafsiran, apalagi memutlakkan kebenaran dari hasil penafsiran seseorang, sebab yang mutlak dan absolut sesungguhnya hanya Allah. Apapun hasil penafsiran adalah relatif kebenarannya.
Ignaz Goldziher membagi fase sejarah dan perkembangan tafsir menjadi tiga periode. Dimana tiga fase ini merupakan kesimpulan dari karyanya yang berjudul Mazhab Tafsir yang diterjemahkan dari bukunya yang berbahasa Arab Madzahib al-Tafsir al-Islami, yaitu: Periode pertama, Tafsir pada masa perkembangan madzhab-madzhab yang terbatas pada tempat berpijak Tafsir bi al-Ma’tsur. Periode kedua, Tafsir pada masa perkembangannya menuju madzhab-madzhab ahli ra’yi yang meliputi aliran akidah (teologis), aliran tasawuf, dan aliran politik keagamaan. Dan periode ketiga, Tafsir pada masa perkembangan kebudayaan/keilmuan Islam yang ditandai dengan timbulnya pemikiran baru dalam keislaman oleh Ahmad Khan, Jamalauddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha.