“PPM ITU MENGASYIKAN” PART 1
Oleh : Irham Shidiq

Seperti layaknya seorang mahasiswa jurusan pendidikan atau lebih familiernya bak seorang guru, rengrengan mahasiswa jurusan Tafsir Hadits yang berjumlah delapan orang itu tiba dilokasi pesantren persatuan Islam (PPI) no 03 Pamengpeuk-Banjaran Kab. Bandung pada pukul 06.45 WIB. Kehadiran yang menyita waktu 15 menit itu dilakukan oleh sebagian anggota PPM mahasiswa jurusan Tafsir Hadits STAI PERSIS Bandung pada saat pertama kali dalam pelaksanaan tugas praktek profesi mata kuliah (PPM) pada smester pertama dalam sepanjang angkatan mahasiswa TH itu. (yang salah satunya dilakukan oleh aku sendiri heeeee…)
Kedatangan pasukan ijo itu tak terlalu dipedulikan oleh para santri yang pada jago pencak silatnya (sebagian). (lho kok gak pada dipeduliin? ….Eit ente jangan su’udzon dulu) karena seluruh kader persis itu tengah melaksanakan bai’at. (weee kacian dech lho!!)
Sambutan hangat yang tertuju pada anggota PPM dimulai saat memasuki ruang kantor asatidz yang welcome (kaya keset aja). Salam, sapa, senyum, tak luput dari bagian sambutan mereka kepada Irham, Dede, Iqbal, Deni, Jihan, Rahmat, Egi dan fuji –satu-satunya peserta perempuan–. (sampai-sampai ambil air pun nyuruh ngambil sendiri, kaya rumah sendiri aja ya? Kayaknya termasuk bejana kotor pun kami cuci sendiri kali ya???). Hal pertama yang dilakukan oleh anggota PPM adalah mendiskusikan tentang pembagian jadwal mengajar, teknis, serta hal-hal yang berkaitan dengan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk masa satu bulan setengah mendatang yang akan dijalani dalam PPM tersebut. Silaturrahim dengan asatidz pun menjadi agenda pada hari itu. (kalo aku sih nyama-nyamain jenggot we sama al-Ustadz).
Sebelum mentari tepat berada ditengah ubun-ubun, terlebih dahulu kami memperlihatkan wajah-wajah Tafsir Hadits STAI PERSIS Bandung yang akan mengasuh santri Mu’allimin “03” dengan sangat singkat, dan lagi-lagi sambutan sntri pun hangat. (ya iyalah gimana enggak hangat jumlah jiwa dalam ruangan kelasnya saja bertambah).
Cara meyambut dan perangai para santri saat anggota PPM masuk kedalam kelas begitu ramah dan penuh sopan santun (kata Iqbal mah saat diwawancara, dia mengatakan :”sungguh sungut sangat luar biasa!”. Mungkin itu bentuk isim tafdhil dari kata sangat kali ya sampai disebut dua kali kata sangatnya). Terbukti dari para anggota PPM sendiri yang tidak ada satupun diantara mereka yang merasa teriris hatinya. Bahkan justru memberi kesan tersendiri disanubari mereka. Logikanya, karena PPM hanya sekali dilaksanakan dalam seumur hidup; ditempat, diusia, dimasa dan sasaran yang sama.
Dalam perjalanan mengajar, keaasyikan itu terus dan terus bertambah. (ada yang nundutan, ada yang sibuk smsan, ada yang ngomongin pedasnya seblak. Eh punten heureuy) Pasalnya, para santri antusias terhadap metode dan pengembangan materi yang disajikkan oleh para anggota PPM-nya. Belum lagi suasana belajar yang sekali-kali dijadikan komunikasi dua arah; dengan metode tanya jawab antara santri dan anggota PPM atau diskusi antar santri (lah, kalau santri pada diskusi, anggota PPM ngapain dong?? Jangan-jangan smsan juga ya?? Atau malah keluar jajan seblak??hiiiii ketauan suka jajan). Walau tidak semua santri memiliki kompetensi yang sama, namun dilihat dari mayoritas mereka sangat respon (kecuali mata pelajaran tafsir ahkam tuh katanya yang kurang asyik, karena bawaannya teh tunduh. Lagi-lagi yang ditekankan ushul fiqih, lagi-lagi musthalah atau kalau enggak juga, malah justru bahasa arab ).
Disela-sela belajar mengajar, beberapa santri terkadang penasaran terhadap materi yang dibawakan anggota PPM. (ihhhh kayak apaan ya yang suka penasaran teh???) Ada diantara mereka yang bertanya untuk meminta kejelasan dan ketegasan, sehingga materi yang dibawakan benar-benar mereka fahami (enggak salah tuh kalau bertanya teh? Mau iseng atau mau minta diulangi dari awal? Capcai deh…..)
Bersambung………