SEHARI MENIMBA ILMU DARI PAK UJANG
Panitia Seminar Kewirausahaan Dep. Ekonomi dan BEM STAI PERSIS Bandung

Seminggu yang lalu (selasa, 17/Mei/2011), kepanitiaan Seminar Kewirausahaan beserta jajaran staf BEM STAI PERSIS Bandung kembali menjajaki wilayah Kabupaten Bandung bagian selatan, tepatnya di kampung Maruyung Rt 01/Rt 01 Desa Maruyung Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung Selatan. Perjalanan dilakukan dengan tujuan studi banding/follow up dari rangkaian acara yang digelar oleh Dep. Ekonomi 6 bulan lalu. Keberangkatan yang dikepalai oleh sdr. Haliman (KPI Smester VI) berjalan sesuai rencana dan dalam keadaan lancar. Sejak pukul 09.00 WIB dengan star dari kampus STAI PERSIS Bandung, ketujuh motor yang masing-masing ditunggangi 2 orang tersebut selamat sampai ketempat semula pada pukul 18.30 WIB dan membawa “se-abrek” ilmu yang tentunya menuntut segera untuk dimulai dan ditunggu aksionya oleh “masyarakat”; kurang lebih demikian yang dituturkan oleh direktur LP3U (Pak Ujang Sutisna) yang berkesempatan menjadi pemateri pada acara Seminar Kewirausahaan 6 bulan lalu dikampus tercinta kita ini.
Banyak ilmu yang tak ternilai harganya yang kita dapatkan dari hasil sharing dengan beliau. Ilmu agama beliau sampaikan, pun demikian ilmu terapan yang sejatinya menjadi substansif dari makna faham terhadap agama. “Lihat surat al-Baqarah ayat 45”, ujanya. Disana Allah swt mengungkapkan konsep ta’awun dengan dua unsur; al-Shabaru dan al-Shalat. Kenapa dengan sabar dan shalat?
Pertama, sabar. “Sabar bukan berarti pasrah, tapi sabar adalah usaha yang disempurnakan dengan tawakal”, jelas pak Ujang. Beliau mengumpamakan dengan kebiasaan mayoritas petani pada umumnya di Indonesia. “para petani tidak akan langsung mendapat 1 ton beras dari ladangnya dalam ukuran tertentu, namun manis yang ia dapat dari hasil panennya diperoleh dengan kerja keras, terus menerus, perawatan, evaluasi/controlling dan diakhiri dengan panen yang hasilnya barulah ia tawakal (serahkan pada Allah swt). Dengan kata lain, rangkaian usaha tersebut adalah hakikat makna sabaar. Demikian pula kaitan yang kami sharing-kan, beliau menyebutkan tidak akan instan usaha yang dilakukan oleh mahasiswa dalam dunia interpreineur, ada banyak gradual sistem dan tantangan yang harus ditempuh. Tidak mungkin mulus dengan begitu saja usaha tersebut berbuah manis, bahkan langsung mendapat laba yang berlimpah ruah “aba kadabra” langsung hadir didepan mata seperti tersebut dalam dongeng 1001 malam, namun sabar (menempuh proses) tersebut mutlak ditempuh.
Kedua, shalat. Beliau mengambil hikmah dari gerakan dan bacaan yang pertama kali dilakukan dalam shalat, yaitu takbiratul ihram. Terkait bacaan yang diucapkkan, mengapa tidak kalimah astaghfirullahal ‘adzim? La ilaaha illallah? Atau yang lainnya? Dipilihnya kalimah tersebut untuk menunjukan setelah usaha yang dikerahkan dengan sungguh-sungguh dan do’a yang menyertainya, ternyata hasilnya tidak bisa kita tentukan dengan pasti, hanya Allahlah yang menyempurnakan hasil akhirnya. Kita tidak tidak ada apa-apanya dalam mengurus sampai bisa menentukan hasil akhirnya dibanding dengan Allah yang Maha Sempurna. Kita itu kecil, jangankan dengan Allah sebagai sang khaliq; dengan ciptaannya saja kita masih kecil. Jadi tidak ada tempat untuk takabbur (sombong) membangga-banggakan kerja keras kita. Bahkan kita butuh pada jasa-jasa, tangan-tangan terampil banyak orang. Kemudian disertai membuka telapak tangan sambil menghadap qiblat ketika mengucapkan takbir, menunjukan sikap pasrah dan tunduk kita pada kehendak dan keadilan mutlak Sang Penguasa alam semesta ini. Walhasil, dengan sabar dan shalat inilah umat Islam akan bersinergi dalam ta’awun dan diindikasikan sukses dan suksesi baik secara individual maupun social.
Disamping itu, beliau menyinggung masalah pendidikan. Diantara pemaparan beliau yang dapat kita simpulkan adalah : pertama, pendidikan harus meliputi dua aspek; ruhani dan jasmani. Ruhani; yang paling asasi dalam pendidikan ruhani untuk kalangan pelajar/anak yaitu ‘aqidah dan belajar bersyukur, sebagaimana ajaran Luqman pada anaknya seperti yang terekam dalam Al-Qur’an Surat Luqman. Terkait ‘aqidah, para pelajar/anak suka mencari sosok sandaran figur yang layak mereka pegangi. Maka tepat, jika yang pertamakali diperkenalkan dan diajarkan adalah Allah swt, agar kelak para pelajar/anak tersebut akan hidup hanya berorientasi pada penghambaan kepada Allah swt bukan pada yang lainnya. Mereka pun akan pandai menempatkan dirinya untuk bisa merendahkan hati untuk senantiasa beryukur kepada siapa saja dan apa saja yang diterima dan tidak bersikap membangkang, arogan serta menafikan kebaikan yang pernah diberikan. Jasmani, pendidik/lembaga pendidikan ssejatinya tidak lantas “bebas nilai”. Dalam artian, dengan dalih ilmu, lantas ia lepas tangan begitu saja melepas anak didiknya untuk bebas hidup. Akan tetapi, seyogyanya pendidik/lembaga pendidikan memberikan pembekalan skill untuk menjembatani alur hidup yang akan dilaluinya kelak. Menurut beliau, “sangat tidak adil jika anak bersungguh-sungguh belajar 9 tahun (dari sejak SD sampai SMP) bahkan ada yang sampai 12 tahun (sampai SMA/SLTA) –belum lagi dihitung dari sejak PAUD, TK bahkan yang diteruskan sampai sarjana—hanya cukup diuji dengan beberapa mata pelajaran dan beberapa hari dan hitungan jam saja, itupun dengan soal-soal yang terbatas dan terikat aspek intelegensiny saja, sementara yang harus mereka hadapi yang sebenarnya adalah dunia nyata yang kompleks dan penuh persaingan. Adilkah?…….. jadi masih betahkah kita dengan system yang ada?” Tuturnya.
***
Dari kediamannya, para Panitia Seminar Kewirausahaan dan jajaran staf BEM tak merasa puas dengan suguhan materi yang diberikan secar teoritis. Setelah melaksanakan shalat dzuhur, ramah tamah dan penyerahan secara simbolis piagam penghargaan kepada pengisi acara Seminar Kewirausahaan tersebut, akhirnya para “rombongan” ini diperkenankan untuk secara langsung menyaksikan perusahaan beliau yang bernafaskan “pemberdayaan masyarakat” berupa produk penghasil tepung, yang bahan bakunya adalah ubi. Ditemui dipabriknya yang berdiri 2006 silam dan baru diresmikan pada tanggal 13 Januari 2011 lalu, Bapak Iyan, salah seorang pegawai dipabrik tersebut menuturkan, bahwa perjuangan untuk sampai pada kepemilikan, oprasional dan pengakuan masyarakat ditempuh dengan sangat susah payah. Pasalnya, seorang yang hanya tamatan SD dan mantan pegawai produk kopi itu harus menghabiskan 3 tahun untuk merancang (membuat sendiri) mesin penggiling tepung ubi tersebut dengan biyaya Rp. 300.000.000,- untuk bisa benar-benar sempurna memiliki mesin yang dimaksud dan mengoprasionalkannya. Belum lagi untuk membuat bangunannya yang diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp. 200.000.000,-. Jadi secara matematis baru 2 tahunlah kelompok usaha yang berbasis pemberdayaan masyarakat ini bisa benar-benar menemukan hasil sepeerti yang dirasakan sekarang.
Pada kesempatan beruntung tersebut, pak Iyan mengenalkan kepada kami sejumlah mesin yang berada digedung pembuatan tepung ubi yang dikelolanya. “Ada 4 mesin utama yang bekerja memproduk tepung ubi”, tuturnya. Mesin yang pertama, namanya mesin pembersih. Ubi-ubi yang masih utuh dan baru dipanen dari ladang langsung dimasukan kedalam mesin ini, kemudian ubi tersebut akan dibersihkan dengan menggunakan air dan digiling. Mesin yang kedua, namanya mesin chip. Mesin ini bekerja memotong ubi-ubi yang telah dibersihkan tadi sehingga bentuk ubi menjadi lebih kecil dan tipis. Mesin yang ketiga, namanya mesin pengering. Mesin yang satu ini beroperasi mengeringkan ubi-ubi yang telah dipotong-potong tipis tadi. Pada mesin ini, ubi-ubi yang dikeringkan menggunakan bantuan Bio Gas. Bio Gas ini juga merupakan produk pemberdayaan masyarakat Desa Arjsari yang termasuk kedalam komunitas LP3U bimbingan Pak Ujang Sutisna. Bio Gas dibuat dari limbah sapi. Sapi yang kini mencapai 700 ekor dikirim setiap hari kepabrik tepung ubi. Adapun masa tampungnya bisa mencapai 10.000 L. Sebab, tabunng penampung limbah sapi terdapat dua buah, masing-masing mampu menampung 5.000 L. dari 10.000 L ini, mampu menampung 6 tabung Bio Gas dan bisa bekerja 24 jam penuh. Namun sampai saat ini, tabung penampung Bio Gas yang dimiliki komunitas ini baru terdapat dua buah, jadi Bio Gas terebut baru bisa bekerja 6 jam dalam sehari. Terakhir, mesin hummer. Mesin ini bekerja menyempurnakan proses penepungan ubi-ubi yang telah dikeringkan tadi. Dalam sehari, rata-rata tepung ubi bisa dihasilkan sebanyak 15 ton dibawah 20 asuhan tangan-tangan terampil (18 orang pegawai dan 2 orang “juru timbang”), masing-masing bekerja 18 jam sehari yang dibagi 3 sip. Hasil tepung ubi tersebut biasa didistribusikan keberbagai daerah. Mulai daerah lokal sampai luar negri. Daerah lokal dari perusahaan yang telah menerima produk tepung ubi ini seperti Bandung Super Mall (BSM) dan beberapa pabrik roti di kawasan Banjaran. Sementara negri tetangga yang rutin memesan tepung ubi ini adalah Korea Selatan. Biasanya tepung ubi ini di racik menjadi roti dan kue bolu. Namun bisa juga dimodifikasi menjadi kue khas sunda yang biasa dikonsumsi yaitu seperti “surabi ubi”, yang kemarin para panitia Seminar Kewirausahaan dan jajaran staf BEM mencicipinya. “Tepung ubi ini, kedepan akan dibuat roti dan kue bolu dipabrik sendiri”, tutur Pak Iyan. “Harapannya, supaya sinergi anatara yang dikelola; dari mulai peternakan, pertnian dan pabrik pembuat tepung serta produk dari tepung tersebut”, jelas Pak Iyan.
***
Berfoto bersama menjadi agenda terakhir pada kunjungan kami kepabrik yang bernafaskan pemberdayaan masyarakat tersebut. Berjajar berdiri dari kanan kekiri, para panitia Seminar Kewirausahaan dan jajaran staf BEM, yang ditengahi oleh seorang pekerja pabrik tersebut. Sementara panitia Seminar Kewirausahaan dan jajaran staf BEM yang perempuannya berdiri dibelakang. “Pose tersebut menambah indahnya panorama pemandangan Desa Arjasari sore itu” ungkap salah seorang pegawai pabrik tepung ubi. Setelah selesai berfoto-foto, kami langsung berpamitan dan beranjak meninggalkan pabrik tepung ubi dengan hati senang dan bekal ilmu yang luar biasa, sebagai bentuk kuliah eksternal kami diarea terbuka
Mudah-mudahan hasil kunjungan tersebut bisa berbuah aksi, minimal dalam hidup kami maksimalnya untuk kampus tercinta dan lingkungan dimana kita beraktivitas.
Semoga Kunjungan kami kali ini menjadi langkah awal dan bahan pertimbangan kepengurusan BEM STAI Persis Bandung kedepan dalam merancang dan merealisasikan kegiatan-kegiatan disetiap departemennya, bahkan tidak menutup kemungkinan juga, untuk para HMJ dan UKM-UKM yang ada.
Terakhir, kami haturkan banyak terimakasih kepada panitia Seminar Kewirausahaan yang berada dibawah bimbingan Dep. Ekonomi; juga kepada jajaran staf BEM STAI Persis Bandung 2010-2011 atas kerjasamanya. Semoga gerak langkah kita memberikan manfaat dan bernilai ibadah. Amin