Nama : Irham Shidiq
Mata Kuliah : Ilmu Dalalah
Nomor Pokok : 08.0128
Fak/Jurusan : Ushuluddin/Tafsir Hadits
Smester : VI (Enam)
Dosen : A. Zaki Mubarak., M. Ag.

MAKNA DALAM TINJAUAN SEMANTIK STRUKTURALIS

A. TINJAUAN SEMANTIKA STRUKTURAL DALAM PENGKAJIAN MAKNA

Linguistik struktural yang dikembangkan oleh Saussure, selain dilatari pandangan strukturalisme dalam filsafat yang oleh Levi Strauss maupun Durkheim, juga digunakan sebagai dasar dalam kajian antropologi, memiliki masa yang oleh Lyons disebutnya Pre-Saussurean (Lyons, 1979 : 231). Disebut demikian karena menurut Lyons, strukturalisme dalam pemgkajian bahasa sedikit banyak sudah ditemukan dalam pembahasan yang dilakukan filosof Leibniz, W.von Humboldt, maupun Herder. Di Jerman, kajian strukturalisme pada masa awalnya juga berakar pada pandangan filsafat yang dikembangkan Imanuel Kant.
Meskipun demikian, tanpa diketahui oleh Saussure sendiri, buah pikirannya sebenarnya yang lebih banyak menyebabkan timbulnya revolusi dalam kajian kebahasaan. Perubahan itu, selain disebabkan oleh wawasannya tentang pembahasaan bahasa secara sinkronis, antara lain juga dilandasi wawasannya tentang keberadaan bahasa sebagai suatu relasi struktural, sebagai suatu sistem unik yang berbeda antara bahasa yang satu dengan yang lainnya. Sebab itulah, kajian kebahasaan dalam strukturalisme, meskipun dapat berfokus pada unit-unit tertentu, misalnya bunyi, terminal akhirnya harus mencakup keseluruhan unit yang membetuk jaringan sistem dalam bahasa itu sendiri.
Lebih lanjut, dalam kebahasaan yang dilakukan oleh Saussure dapat ditemui adanya konsep-konsep dikotomis, misalnya antara langue dan parole, antara form dengan substance, antara bunyi dan signifikasi, antara significant dan signifie, antara relasi paradigmatik dengan sintagmatik, antara sinkronik dengan diakronik, serta antara informasi tanda dengan informasi semantik. Konsep yang diwadahi istilah itu, pada dasarnya juga menjadi unsur-unsur yang memiliki hubungan erat dengan masalah makna, sehingga hanya dengan berangkat dari sejumlah unsur itulah kajian makna dapat membuahkan hasil yang memadai.

B. CIRI-CIRI MAKNA MENURUT PANDANGAN SEMANTIKA TRADISIONAL

Bila kita tarik kesimpulan tentang makna menurut tinjauan semantik tradisional, maka akan didapat :
a. Pada tata bahasa tradisional ini tidak dikenal adanya perbedaan antara bahasa ujaran dengan bahasa tulisan. Oleh karena itu, deskripsi bahasa hanya bertumpu pada bahasa tulisan
b. Bahasa yang disusun tata bahasanya, dideskripsikan dengan mengambil patokan-patokan dari bahasa lain, terutama bahasa latin
c. Kaidah-kaidah bahasa cibuat secara presfektif, yakni benar atau salah
d. Persoalan kebahasaan seringkali dideskripsikan dengan melibatkan logika
e. Penemuan-penemuan atau kaidah-kaidah terdahulu cenderung untuk selalu dipertahankan.
Dari data yang dapat diambil, yang termasuk kedalam linguistik tradisional ini adalah : zaman Yunani, kaum Sophis, Plato, Aristoteles, kaum Stoik, kaum Alexandrian, zaman Romawi, Varro dan “de Lingua Latina”. Kesimpulan inilah yang nanti akan memberikan bekal kepada kita bahwa para linguis strukturalis akan jelas berbeda dengan para linguis tradisionalis terkait penelaahan mereka jika dipahami jauh lebih eksploratif. Kajian yang ditelaah adalah mengkategoikan atau mengklasifikasikan kedalam bab-bab sehingga menjadi bagian-bagian terkecil, yang kemudian menjadi penelaahan yang serius dan mendalam, serta menjadi ciri khas masing-masing yang menjadi kepiawaiannya dalam bidang-bidang terkecil tersebut dari semua tokoh strukturalis ini.

C. HAKIKAT MAKNA MENURUT PANDANGAN SEMANTIK STRUKTURALIS

Banyak teori tentang makna telah dikemukakan orang. Untuk permulaan kita akan mengikuti pandangan Ferdinand de Saussure sebagai bapak Bapak Linguistik Modern sekaligus sebagai sample dari pembahasan ini, mengingat tidak lebih dari satu tokoh-tokoh yang masuk kedalam kategori linguistik strukturalisme ini.

Ferdinan de Saussure
Lahir pada tahun 1875, dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915 (jadi, dua tahun setelah de Saussure meninggal) berdasarkan catatan kuliah selama de Saussure member kuliah di Universitas Jenewa tahun 1906-1911. Buku tersebut sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, kedalam bahasa Inggris diterjemahkan oleh Wade Baskin (terbit 1996) dan kedalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Rahayu Hidayat (terbit 1988).
Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut : (1) telaah sinkronik dan diakronik, (2) perbedaan langue dan parole, (3) perbedaan signifiant dan signifie, dan (4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik, banyak berpengaruh dalam perkembangan linguistik dikemudian hari.
(1) Telaah Sinkronik dan Diakronik
Ferdinand de Saussure membedakan telaah bahasa secara sinkronik dan telaah bahasa secara diakronik. Yang dimaksud dengan telaah bahasa secara sinkronik, adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja. Misalnya, mempelajari bahasa Indonesia yang digunakan pada zaman Jepang atau pada masa tahun lima puluhan. Sedangkan telaah bahasa secara diakronik, adalah telaah bahasa sepanjang masa, atau sepanjang zaman bahasa itu digunakan oleh para penuturnya.
Jadi, kalau mempelajari bahasa Indonesia secara diakronik, maka harus dimulai sejak zaman Sriwijaya sampai zaman sekarang ini. Dengan demikian bisa dikatakan, telaah bahasa secara diakronik adalah jauh lebih sukar daripada telaah bahasa secara sinkronik. Sebelum terbit buku tersebut, telaah bahasa selalu dilakukan orang secara diakronik, tidak pernah secara sinkronik. Ahli-ahli pada waktu itu belum sadar, bahwa bahasa dapat diteliti secara sinkronik. Inilah salah satu pandangan de Saussure yang sangat penting sehingga sekarang kita dapat memberikan pemerian terhadap suatu bahas tertentu tanpa melihat sejarah bahasa itu.
(2) La Langue dan La Parole
Ferdinand de Saussure membedakan adanya apa yang disebut la langue dan la parole. Yang dimaksud dengan la langue adalah, keseluruhan system tanda yanag berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak. Sedanagkan yang dimaksud dengan la parole, adalah pemakaian atau realisasi langue oleh masing-masing anggota masyarakat bahasa; sifatnya konkrit, karena parole itu tidak lain daripada realitas fisis yang berbeda dari orang yang satu dengan orang yang lain. Dalam hal ini yang menjadi objek telaah linguistik adalah langue, yang tentu saja dilakukan melalui parole, karena parole itulah wujud bahasa yang kongkrit, yang dapat diamati dan diteliti.

(3) Significant dan Signifie
Ferdinand de Saussure mengemukakan teori, bahwa setiap tanda atau tanda linguistik (signe atau signe linguistique) dibentuk oleh dua buah komponen yang tidak terpisahkan, yaitu komponen signifiant dan komponen signifie. Yang dimaksud dengan signifiant adalah, citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam fikiran kita. Sedangkan signifie, adalah pengertian atau kesan makna yang ada dalam fikiran kita. Untuk lebih jelas, ada yang mengatakan signe itu sama dengan kata; signifie sama dengan makna; dan signifiant sama dengan bunyi bahasa dalam bentuk urutan fonem-fonem tertentu. Hubungan antara signifiant dengan signifie sangat erat, karena keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Perhatikan bagan berikut :

Signifie
(makna)

Signe Linguistique ………………..
(kata)
Signifiant
(bentuk)

Sebagai tanda linguistik, signifiant dan signifie itu biasanyua mengacu pada sebuah acuan atau referen yang berbeda dialam nyata, sebagai sesuatu yang ditandai oleh signe linguistique itu. Sebagai contoh, kita ambil kata bahasa Jawa wit yang berarti ‘pohon’ dan mengacu pada sebuah acuan, yaitu sebuah pohon. Ketiganya dapat digambarkan sebagai bagan berikut :

‘pohon’

wit ……………. (sebuah pohon)

(w,i,t)

(4) Hubungan Sintagmatik dan Paradigmatik
Ferdinand de Saussure membedakan adanya dua macam hubungan, yaitu hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik. Yang dimaksud dengan hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear. Hubungan sintagmatik ini terdapat , baik dalam fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Hubungan sintagmatik pada tataran fonologi tampak pada urutan fonem-fonem pada sebuah kata yang tidak dapat diubah tanpa merusak makna kata itu. Umpamanya pada kata kita, terdapat hubungan fonem-fonem dengan urutan k/i/t/a. apabila urutannya diubah, maka maknanya akan berubah, atau tidak bermakna sama sekali. Perhatikan pada bagan berikut :

k i t a
k i a t
k a t i
k a i t
i k a t

hubungan sintagmatik pada tataran morfologi tampak pada urutan morfem-morfem pada suatu kata,yang juga tidak dapat diubah tanpa merusak makna dari kata tersebut. Ada kemungkinan maknanya berubah, tapi ada kemungkinan juga tak bermakna sekali. Umpamanya kata segitiga, tidak sama dengan tigasegi. Kata barangkali tidak sama dengan kalibarang, dan kata tertua tidak sama dengan kata tauter. Hubungan sintagmatik pada tataran sintaksis tampak pada urutan kata-kata yang mungkin dapat di ubah, tetapi mungkin juga tidak dapat diubah tanpa mengubah makna kalimat tersebut, atau menyebabkan tak bermakna sama sekali. Perhatikan contoh kalimat 1 yang urutan katanya bisa diubah tanpa mengubah makna kalimat; dan cotoh kalimat 2 yang urutan katanya diubah menyebabkan makna kalimatnya berubah.

Contoh kalimat 1 :

Hari ini barangkali dia sakit
Barangkali dia sakit hari ini
Dia sakit hari ini barangkali
Dia sakit barangkali hari ini

Contoh kalimat 2 :

Nia melihat Dika Dika melihat Nia
Ini bir baru Ini baru bir

Yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik adalah, hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan. Hubungan paradigmatik dapat dilihat dengan cara substitusi, baik pada tataran fonologi, morfologi, maupun tataran sintaksis. Hubungan paradigmatik pada tataran fonologi, tampak pada contoh 3. Antara bunyi/r/k/b/m/, dan /d/ yang terdapat pada kata-kata rata, kata, batamata, dan data. Hubungan paradigmatik pada tataran morfologi tampak pada contoh 4 antara prefix me-di-pe, dan te- yang terdapat pada kata-kata; merawat, dirawat, perawat, dan terawat. Sedangkan hubungan paradigmatik pada tataran sintaksis, dapat dilihat pada contoh 5 antara kata-kata yang menduduki fungsi subjek, predikat, dan objek.

Contoh 3 :
rata

kata

bata

mata

data

contoh 4 :
me rawat

di rawat

pe rawat

te rawat

contoh 5 :
Ali membaca koran

Dia memakai baju

Ani makan kue
Secara lengkap, hubungan sintagmatik dan hubungan paradigmatik dapat kita gambarkan sebagai berikut :

Ali membaca buku

Dia membeli baju

Ani makan kue

Amat minum susu