Jawaban no 1

(aحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ يَعْنِي الْحِزَامِيَّ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ قَالُوا فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا
(مسلم : كتاب الزَكاة, بَاب الْمِسْكِينِ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ, 1722)

b)hadits tersebut diriwayatkan tidak lebih dari tiga orang mukharij pada kitabnya masing-masing;
• Imam Muslim pada kitab Shahihnya Kitab Zakat bab al-Miskinu alladzi laa Yajidu Ghinan wa laa Yufthanu lahu Fayutashaddaqu ‘Alaih no Hadits 1722,
• Imam Malik Ibnu Anas Pada Kitab al-Muwaththa’nya Kitab Jaami’ bab Maa Jaa-a fi al-Miskiini, no Hadits 1440, dan
• Imam al-Baihaqi pada kitab Sunan al-Kubra, Juz VII, Bab Wafatu al-Nabiyyi saw, wa ‘Indahum Amwalun Katsirun Rudduha ‘ala Ahliha illa ‘Addiyu Ibn Hatim wa al-Zabarqon Ibn Badr fainnahumaa Tamassakaa biha wa Daf’an ‘anha hatta Adyaahaa ilaa Abi Bakr Radiyallahu ‘anhu
Jika kita membuat skema transmisi perowi pada ketiga hadits diatas, maka akan didapat hasil sebagai berikut

Dari transmisi periwayatan diatas, nampak kita menemukan tiga jalur sanad (lihat anak panah), yaitu yang terdapat pada riwayat Imam Muslim, Imam Malik dan Imam al-Baihaqi. Namun demikian, trasmisi tersebut berporos pada dua orang rawi dari thabaqoh al-tabi’insampai kepada mukharij,sementara transmisi ketiga riwayat tersebut terbagi menjadi dua jalur periwayatan pada dua orang rawi dari thabaqoh tabi’u al-tabi’in;yakni Abu al-Zinad jalur yang digunakan oleh Imam Muslim dan Imam Malik dan ‘Ammarah Ibn al-Qoqo jalur yang digunakan oleh Imam al-Baihaqi. Dalam ktab karangan-karangan ilmu musthalah al-hadits , transmisi seperti ini disebut dengan al-‘Aziz.Disebutkan dalam kitab-kitab ilmu hadits tentang ‘aiz ini sebagai berikut:
“ما جاء فى طبقة من طبقات رواته أو أكثر من طبقة اثنان”
“Hadits yag perawinya tidak kurang dari dua orang dalam semua thabaqoh sanad”
Dari definisi tersebut, kiranya dapat disimpulkan bahwa satu hadits dikatakan hadits ‘aziz bukan saja yang diriwayatkan oleh dua orang perawi pada setiap thabaqoh, yakni sejak dari thabaqoh pertama sampai pada thabaqoh terakhir, tetapi selagi salah satu thabaqoh didapati dua orang perawi, tetap dapat dikategorikan sebagai hadits ‘aziz.Dalam kaitannya dengan masalah ini, Ibn Hibban mengatakan bahwa hadits ‘aziz yang hanya diriwayatkan dari dan kepada dua orang rawi pada setiap thabaqoh tidak mungkin terjadi, secara teori memang ada kemungkinan, tetapi sulit untuk dibuktikan.
Dari pemahaman seperti ini, bisa saja terjadi suatu hadits yang pada mulanya tergolong sebagai hadits ‘aziz, karena hanya diriwayatkan oleh dua orang rawi, tetapi berubah menjadi hadits masyhur, karena perawi pada thabaqoh lainnya berjumlah banyak.
Hadits ‘aziz yang shahih, hasan, dandha’if tergntung kepada terpenuhi atau tidaknya ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan hadits shahih, hasan, dan dha’if.
Diantara contoh hadits ‘aziz adalah :
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“tidaklah sempurna iman seseorang diantara kamu, hingga aku lebih dicintai daripada dirinya , orang tuanya, anaknya, dan semua manusia” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Struktur transmisi hadits diatas sebagai berikut :

Jadi, dengan keterangan yang bersumber pada kitab-kitab ilmu musthalah hadits seperti;karya Dr. Nur al-Din ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-Hadits, (Damaskus : 1981), Dar al-Fikr, Cet ke 3, hlm. 415-417, karya Dr. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, (Beirut-lIbanon : 2006), Dar al-Fikr, hlm 239-240, karya Dr. Mahmud al-Thahan, Taisir Musthalah al-Hadits, Dar al-Fikr, hlm. 34, dan karya Drs, Munzier Suparta M.A. Ilmu Hadits, (Jakarta : 2001), Rajawali Pers, hlm. 116-117dan disertai contoh haditsnya, maka penulis menyatakan hadits diatas, dilihat dari segi kuantitas sanadnya maka termasuk kategori hadits ‘AZIZ.

c). Abu Huarairah ra
• Biografi : nama lengkap beliau adalah ‘Abd al-Rahman Ibn Sakhr (‘Abdullah Ibn Sakhr) al-Dusi al-Tamimi.
Para ahli sejarah berbeda-beda pendapat atas nama beliau ini. Demikian pula tentang nama nama ayahnya. Beliau sendiri menerangkan , bahwa dimasa jahiliyah beliau bernama Abu Syams. Setelah memeluk Islam, beliau diberi nama oleh Nabi dengan ‘Abd al-Rahman atau ‘Abdullah, ibunya bernama Maemunah, yang memeluk Islam berkat seruan Nabi. Beliau lahir tahun 21 sebelum Hijrah = th. 602 M. Abu Hurairah datang ke Madinah pada tahun Khaibar, yakni pada bulan Muharram tahun 7 H. lalu memeluk Agama Islam.Beliau pernah menjadi gubernur Madinah, dan pada masa pemerintahan ‘Umar, beliau diangkat menjadi gubernur di Bahrain, kemudian beliau diperhentikan. Beiau meninggal dunia di Madinah pada tahun 59 H = 679 M dalam usia 78 tahun dan dikebumika di Baqi’. Adapula yang mengatakan beliau meninggal di ‘Aqiq serta turut menshalati beliau al-Walid Ibn ‘Uqbah Ibn Abi Sufyan; yang kala itu menjadi amir di Madinah. Demikian sebagaimana Ibn ‘Abd al-Bar menjelaskan

• Kiprah dan jasa-jasanya dibidang hadits :

Setelah beliau memeluk islam, beliau tetap beserta Nabi dan menjadi ketua jama’ah Ahlu al-Suffah. Karena inilah beliau mendengar Hadits dari Nabi saw. Beliau termasuk Kibar al-Sahabah yang banyak meriwayatkan hadits dari Madinah al-Munawarah besama-sama dengan Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, ‘Aisyah, ‘Abdullah Ibn ‘Amr, Abu Sa’id al-Khudriy dan Zaid Ibn Tsabit ra. .

• Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits
Menurut pentahqikan Baqi Ibn Makhlad, seperti yang disitir oleh Ibn Dausy, beliau meriwayatkan hadits sejumlah 5.374 hadits, sementara menurut al-Kirmaniy 5.364 hadits .Dari jumlah tersebut 325 hadits disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim.Al-Bukhari sendiri meriwayatkan 93 dan Muslim sendiri sejumlah 189 hadits.

• Guru dan murid

 Guru
Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari NAbi sendiri dan dari sahabiy, diantaranya ialah; Abu Bakar, ‘Umar, al-Fadl Ibn ‘Abbas Ibn ‘Abd al-Muthalib, ‘Ubay Ibn Ka’ab, Usamah Ibn Zaid, ‘Aisyah dan lain-lain.

 Murid-murid dari kalangan sahabat
Hadits-haditsnya banyak diriwayatkan oleh sahabat dan tabi’in.diantara para sahabat ialah Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar, Anas, Watsilah Ibn al-Asqa, Jabir Ibn ‘Abdullah al-Anshariy.

 Murid-murid dari kalangan Tabi’in besar
Diantara para tabi’in besar yang menerima hadits dari beliau adalah : Marwan Ibn al-Hakam, Sa’id Ibn al-Musayyab, Urwah Ibn al-Zubair, Sulaiman al-Asja’I al-Aghr, Abu Muslim, Syuraih Ibn al-Hani’, Sulaiman Ibn Yasr, ‘Abdullah Ibn Syaqiq, Handhalah al-Aslamiy, Tsabit Ibn ‘Iyadl, Sa’id Ibn ‘Amr Ibn Sa’id Ibn al-‘Asy, Abu al-Habbab, Sa’id Ibn Yassar, Muhammad Ibn Sirin, ‘Abd al-Rahman Ibn Sa’ad, ‘Abdullah Ibn ‘Uqbah Ibn Mas’ud, Atha Ibn Abi Rabbah, Atha Ibn Yassar.
Lebih dari 800 perawi menerima hadits dari beliau.

• Komentar para ‘ulama

 Imam al-Syafi’I : “Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadits dimasanya”.
Tersebut dalam al-shahih, bahwa Abu Hurairah berkata;’Ya Rasulullah, saya mendengar dari tuan banyak hadits, tetapi saya banyak lupa’.Mendengar itu Nabi bersabda,’hamparkan selimutmu’.Maka Nabi mengambil kain itu dengan tangannya. Kemudian Nabi berkata,’berselimutlah!’.Selanjutnya Abu Hurairah berkata,’maka saya pun berselimut.Setelah itu saya tidak pernah lupa sesuatu yang saya dengar dari Nabi’.Abu Hurairah adalah orang yang pertama diantara tujuh sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.

 Al- Hafidl Ibn Hajar telah menerangkan keistimewaan Abu Hurairah dalam kitabnya al-Ishabah.

• Kajian atas Abu Hurairah
 Musnad Abu Hurairah, karya al-hafidz Abu Yusuf Ya’qub Ibn Syaibah Ibn al-Shali al-Sadusi al-Bashri (262 H)
 Menyusun Musnad Abu Hurairah dalam sebuah Mushnaf oleh al-Hafidz Abu al-Qasim Sulaiman Ibn Ahmad al-Thabraniy (260-360 H)

d). Dua kata kunci padahadits diatas :

المسكين
Secara bahasa : berasala dari kata سكن yang artinya diam, mendiami rumah. . kataالسكون maknanya; tetap/diamnya sesuaatu setelah bergerak, kata ini juga digunakan untuk menunjukan kewarganegaraan, seperti pada kalimat; سكن فلان مكان كذا, أي : استوطنه “si fulan tinggal ditampat ini; maksudnya si fulan tinggal dinegara ini (warga negara tertentu)”. Nama sebuah tempat disebut مسكن bentuk jama’nya مساكن .firman Allah Ta’ala :

}لا يرى إلا مساكنهم{ [الأحقاف/25]، وقال تعالى: }وله ما سكن في الليل والنهار{ [الأنعام/13]

Secara Istilah :Yang dimaksud dengan miskin adalah : orang yang tidak memiliki sesuatu apapun. Miskin lebih dari sekedar fakir (dalam ketidak punyaannya). Firman Allah Ta’ala :

}أما السفينة فكانت لمساكين{ [الكهف/79]

Maksudnya : raja (yang jahat pada masa Nabi Khidir) menjadikan para nelayan menjadi orang-orang miskin setelah merampas perahunya, atau perahu milik para nelayan miskin itu tidak layak pakai
Dengan mengangkat tema miskin, secara tersirat Rasul hendak memberika pelajaran kepada umatnya. Kurang lebih pelajaran tersebut diantaranya :memberikan sudut pandang Islam tentang konsep miskin. Miskin merupakan keniscayaan; karena bagian dari scenario Sang Sutradara kehidupan Allah ‘Azza Wajalla, namun beliau mengajarkan bahwa adanya kenyataan kemiskinan bukan berarti menempatkan diri menjadi kurang layak dipandang manusia; dengan cara menengadahkan dua telapak tangan sambil mengendus-endus meminta belas kasihan yang kurang wajar dihadapan manusia bukan dihadapan Sang Pemilik Kekayaan langit dan bumi.dalam kesempatan lain beliau bersabda “tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah . Selain itu pula tersirat pelajaran, bahwa yang diamanati harta benda hendaknya mencukupi mereka yang mengkaji dan mengajarkan agama sehingga tidak berkemampuan atau tidak ada waktu bagi mereka mencari matapencaharian secara professional. Dari termiinologi ini, beliau menanmkan tiga konsep miskin yang secara garis besar mengajarkan kepada kita untuk tawakal (kemauan keras –impian–, ikhtiar dan do’a).

الطَواف
Secara bahasa :طوفا و طوافا بالمكان حوله “thawaf, mengelilingi tempat itu” . Dalam devinisi lain disebutkan الطوف “berjalan disekitar sesuatu” dari kata ini ditashrif menjadi kataالطائف : “ditujukan kepada orang yang berada disekitar Bait al-haram seraya memeliharanya”.
Secara istilah : Dikatakan pula thawaf sebuah ungkapan/terminology bentuk pengkhadaman. Sebagaimana tergambar dalam sebuah hadits :

(إنها من الطوافين عليكم والطوافات) (الحديث عن كبشة بنت كعب بن مالك – وكانت تحت ابن أبي قتادة – أن أبا قتادة دخل عليها، فسكبت له وضوءا، فجاءت هرة تشرب منه، فأصغى لها الإناء حتى شربت، قال كبشة: فرآني أنظر إليه، فقال: أتعجبين يا ابنة أخي؟ قالت: قلت: نعم، فقال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إنها ليس بنجس، إنها من الطوافين عليكم أو الطوافات.

Dalam konteks pengkhadaman (kepada manusia) menggunakan shigoh mubalaghoh yang mengandung makna aulawi/lebih-lebih, mengisyaratkan akan adanya rutinitas atau profesi menjadi khadam (meminta-minta yang tidak semestinya). Hal ini jika melihat tekstual hadits diatas tidak menunjukan prinsip usaha yang disukai dalam Islam.terlebih menghinakan diri dan mengangkat derajat sang munfiq atau mu’thiydengan berlebihan sehinga melahirkan ketergantungan meminta-minta dan dan cenderung mengabaikan ikhtiar dengan potensi yang luar biasa yang telah dianugerahkan-Nya. Islam mengajarkan supaya hamba-hamba-Nya berusaha keras dengan potensi unik, beragam dan syarat akan inovatif dan observatif yang telah dibekali oleh-Nya Islam lebih menyukai hamba-hamba-Nya makan, memakai dan menghidupi diri dengan hasil usaha tangan/keringat sendiri.

e). sebagaimana diurai diatas, bahwa kemiskinan merupakan keniscayaan, kemiskinan merupakan dua kutub yang berpasangan dengan kekayaan yang telah Allah gariskan untuk kehidupan dimuka bumi ini. Namun dalam Islam manusia ditakdirkan pula untuk beramal, dengan mengambil dalil umum umpamanya :

Kemudian dalam firman-Nya yang lain :

•
Maka umat Islam dituntut untuk berusaha dan bukan untuk pasrah begitu saja. Diantara bentuk pengentasan kemiskinan, umat Islam khususnya harus menguasai faktor-faktor yang dapat menjadikannya terlepas dari genggaman kemiskinan, diantaranya yaitu :
• Hidup Mandiri
Sahabat Anas Ibn Malik mengisahkan, bahwa pada suatu hari Rasulullah saw., kedatangan laki-laki miskin dari kalangan Anshar, ia curhat mengutarakan persoalan beratnya beban menafkahi keluarga lantaran ia tidak memiliki keahlian seperti mayoritas para sahabat pada umumnya yang berprofesi pedagang, sedangkan ia hanya sebagai tukang kuli panggul, yang hanya mengandalkan kekuatan tenaga. Setelah selesai curhat, Rasulullah saw., tidak meminta para sahabat mengumpulkan uang untuk menolong orang tersebut, malah beliau bertanya “ امَا فى بيتك شيئ؟”. “ada, saya memiliki sehelai kain bilsun, (sejenis tikar serbaguna terbuat dari kulit yang dapat digunakan untuk slimut atau tempat duduk) dan qa’bun, (tempat menyimpan air yang digunakan untuk minum), jawab orang Anshar itu. Selanjutnya Rasulullahmenyuruh orang Anshar tersebut mengambil kedua barang tadi, dan tidak lama kemudian kedua barang tersebut diserahkan kepada Rasulullah saw. Lantas beliau melelang kedua barang tersebut dihadapan para sahabat, “siapa diantara kalian yang akan membeli kedua barang ini?” tidak seorang pun sahabat yang mengacungkan tangan, lantaran barang bekas orang miskin dilelang dihadapan orang kaya.Tetapi setelah Rasul mengulang dua kali tawarannya, ada diantara sahabat yang menawar seharga satu dirham (setara dengan uang Rp. 4.200) kedua barang tersebut.Rasul terus melelang kedua barang tersebut untuk mencari penawar yang lebih tinggi, dan setelah ada sahabat yang menawar seharga dua dirham, maka kedua barang trsebut diserahkan.
Hasil penjualan dua barang tersebut, diserahkan kepada orang Anshar tersebuut dan Rasul memerintahkan hasil dari penjualan kedua barang tersebut satu dirham dibelanjakan untuk makanan, dan stu dirham lagi dibelanjakan untuk membeli kapak.Tidak lama kemudian orang itu membawa kapak sesuai yang dipesankan Nabi dan diserahkan kepadanya. Selanjutnya Nabi memperagakan bagaimana cara memotong kayu bakar dengan kapak lalu menyusunnya dan mengikatnya dengan seutas tali. “Beginilah cara kamu mencari nafkah, dan sekarang silahkan kamu pergi, carilah kayu bakar semaksimal mungkin dan setelah lima belas hari akmu dating lagi kesini”, pesan Rasulullah kepada orang Anshar tersebut
Setelah lima belas hari, orang Anshar tersebut dating menemui Rasulullah saw., melaporkan hasil kerja mencari kayu bakar. “ya Rasulullah, selama lima belas hari saya mencari kayu bakar, saya mendapatkan uang sepuluh dirham; tiga dirham saya belanjakan makanan, tiga dirham saya gunakan untuk membeli pakaian dan sisanya saya tabung untuk keperluan lainnya. Mendengar laporan orang Anshar tersebut Rasulullah saw., sangat gembira lantas merangkul sahabat tersebut sambil memotivasi

هذا خير لك من ان تجيء والمسئلة نكتة فى وجهك يوم القيامة

Dari kisah diatas, dapat diambil pelajaras sangat berharga, yakni bahwa untuk membangun kemandirian hidup dibutuhkan beberapa hal;

 Pertama, keahlian
Ketika orang Anshar datang kepeda Nabi mengutarakan persoalan hidupnya maka Nabi tidak meminta para sahabat yang lain untuk mengmpulkan dana untuk orang itu, maupun bantuan modal buat dagang, lantaran orang tersebut tidak mempunyai keahlian menjadi pedagang. Keahlian yang Rasul ajarkan adalah bagaimana menggunakan kapak, bagaimana menyusun kayu bakar, dan bagaimana mendesain kayu bakar agar mudah dibawa dan dijual karena orang Anshar tersebut hanya mempunyai kelebihan tenaga
 Kedua, pengorbanan
Untuk merealisasikan keahlian atau keterampilan dibutuhkan modal usaha yang bersumber dari dirinya sendiri. Modal yang bersumber dari dirinya sendiri akan lebih mendorong kehati-hatian dan lebih bertanggung jawab. Hal ini akan sangat berbeda jika modal itu bantuan dari orang lain. Rasulullah menanyakan asset kepada sahabat Anshar yang bisa dijadikan modal meskipun asset yang ia miliki sangatlah sederhana, dan bila dikonversikan kepada rupiah kurang lebih setara dengan Rp 8.400. Orang yang selalu menggantungkan hidup kepada orang lain dan tidak mau berkorban akan sulit mengambil keputusan dan akan sangat menderita ketika orang yang disandarinya dimutasi atau meninggal dunia. Pengorbanan adalah investasi yang akan membuahkan mental kemandirian dalam hidup, dia akan bebas dari intimidasi, paksaan dan yang akan muncul keberanian dan kemerdekaan dalam hidup.
 Ketiga, terprogram
Setiap pekerjaan harus benar-benar terencana, terprogram, terukur dan terevaluasi agar hidup menjadi lebih bermakna. Untuk mengevaluasi kerja pencari kayu bakar, Rasulullah saw.,memberi waktu selama empat belas hari. Dari hasil evaluasi ia mendapat keuntungan 10 dirham dengan modal kapak satu dirham lantas ia pun menjelaskan kepada Nabi pengellolaan penghasilan yang ia peroleh dari keuntungan pencarian kayu bakar.
 Keempat, tawakal
Sebaik apapun sebuah kegiatan, yang kita rencanakan teteap harus di sertai dengan Tawakal kepada Allah agar tidak kecewa ketika belum berhasil dan tidak takabur ketika berhasil.

• Tidak menyia-nyiakan waktu dan bekerja keras
Firman Allah Ta’ala :

.
Jika firman Allah Ta’ala ini direnungkan, sebagaimana yang kita ketahui bahwa hari jum’at adalah ibadah mingguannya orang Islam, tetapi Yang Maha Benar tidak menyuruh hamba-Nya untuk beristirahat atau meliburkan hari jum’at tersebut apalagi hari-hari biasa, bebeda dengan agama yang lain yang meliburkan hari sucinya, seperti Nashrani, hari minggu adalah hari liburnya; Yahudi hari sabtu, hari dilarang mencari ikan/bekerja. Jadi jelas sekali bagi kita umat Islam bahwa tiada waktu yang kosong dan tiada hari tanpa berusaha untuk mencari rezeki dari Allah Yang Maha Kuasa.

Jawaban no II

aحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَكُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَخَصَ بِبَصَرِهِ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ قَالَ هَذَا أَوَانُ يُخْتَلَسُ الْعِلْمُ مِنْ النَّاسِ حَتَّى لَا يَقْدِرُوا مِنْهُ عَلَى شَيْءٍفَقَالَ زِيَادُ بْنُ لَبِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ كَيْفَ يُخْتَلَسُ مِنَّا وَقَدْ قَرَأْنَا الْقُرْآنَ فَوَاللَّهِ لَنَقْرَأَنَّهُ وَلَنُقْرِئَنَّهُ نِسَاءَنَا وَأَبْنَاءَنَا فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا زِيَادُ إِنْ كُنْتُ لَأَعُدُّكَ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَذِهِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ عِنْدَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى فَمَاذَا تُغْنِي عَنْهُمْ
(الترمذى : كتاب العلم عن رسول الله, باب ما جاء فى ذهاب العلم رقم 2577)
b)“…..Hadits diterima dari Abu al-Darda, dia berkata, ‘kami bersama Rasulullah saw, lantas beliau mengangkat pandangannya ke (arah) langit dan bersabda, ‘inilah masa dicuri/dirampasnya“al-Ilmu” (al-Wahyu) dari manusia, sehingga mereka tidak ada lagi kekuatan untuk mendapatkan darinya sesuatupun (al-Ilmu dari Rosulullah saw) ’,Ziyad Ibn Labid al-Anshariy bertanya, ‘bagaimana mungkin dapat dicuri dari kami, sementara kami sungguh (terus-menerus) membaca Al-Qur’an, Demi Allah, sungguh kami akan benar-benar membacanya, dan (demi Allah) sungguh kami akan membaca (mengajarkan) Al-Qur’an kepada istri-istri dan putra-putra kami’. Nabi saw bersabda, ‘binasa ibumu wahai Ziyad! Seandainya aku mau, aku akan menyediakan untukmu fuqoha dari kalangan Yahudi dan Nashrani yang memiliki kitab Injil dan Taurat ini. Adakah (Injil dan Taurat itu) member manfaat kepada mereka (Yahudi dan Nashrani lantaran mereka membaca tidak dengan ilmu yang sebenarnya dan tidak dibarengi dengan amal)”

c)hadits tersebut diriwayatkan oleh enam mukharij pada kitabnya masing-masing;
• Imam al-Tirmidzi pada kitab Sunannya Kitab al-Ilmu ‘an Rasulillah, Bab ma ja’a fi Dzihab al-Ilmi no 1577
• Abu Abdullah Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Hamdun bin Hakam bin Nu’aim bin al-Bayyi al-Dabbi al-Tahmani al-Naisaburi, al-Mustadrak ‘ala Shahihaini, Kitab al-‘Ilmi bab wa minhum Yahya Ibn Abi al-Mutha’ al-Qursy no 310
• ‘Abd al-Rahman Ibn ‘Abd al-Rahman Ibn al-Fadl Ibn Bahram Ibn ‘Abd al-Shamad al-Darimy, Sunan, Kitab al-Muqaddimah, Bab Man Qola al-‘Ilmu al_khosyatu wa al-Taqwallah no 294
• Abu Nu’aim Ahmad Ibn ‘Abdullah Ibn Ahmad Ibn Ishaq Ibnu Musa Ibn Mahran al-Ashbahani (336-430 H), Ma’rifah al-Shahabah, Bab Zai, Man Ismuhu Ziyad, no 2672
Sulaiman Ibn Ahmad Ibn Ayyub Ibn Muthair al-Lakhmi al-Yamani al-Thabrani, Kitab ma Intaha ilaina min Musnad Bisyri Ibn al-‘Ala akhi ‘Abdullah, Bab ma Intaha ilaina min Musnad Muhammad Ibn al-Walid al-Zuabidi, no 1993
• Abu Ja’far Ahmad Ibn Muhammad Ibn Saslamah Ibn ‘Abd al-Malik Ibn Salamah al-Azdiy al-Hijriy al-Mishriy al-Thahawi (229-321 H), Bab Bayan Musykil ma Ruwiya ‘an Rasulillah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam fi Raf’I al-‘Ilmi ‘an al-Nas wa Qobidlahu minhum, no 262
Jika kita membuat skema transmisi sanad pada keenam periwayatan hadits diatas, maka akan didapat hasil sebagai berikut

Periwayatan hadits diatas, lima thabaqoh melalui satu jalur sanad; yakni pada thabaqoh pertama (Abu Darda) sampai thabaqoh kelima (‘Abdullah Ibn Shalih). Namun dari thabaqoh keenam sampai kepada mukharij, transmisi menjadi tersebar; dari kuwota lima transmisi sanad menjadi tiga, dan berujung pada keenam mukharij. Keadaan seperti ini, dalam ilmu musthalah al-hadits termasuk kedalam kategori Hadits Masyhur.
Menurut ‘ulama ushul, yang disebut hadits masyhur adalah :
ما رواه من الصحابة عدد لا يبلغ حدَ التَواتر ثمَ تواتر بعد الصَحابة ومن بعدهم
“Hadits yang diriwayatkan dari sahabat, tetapi bilangannya tidak sampai ukuran bilangan mutawatir, kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan demikian pula setelah mereka”
Ada juga yang mendefinisikan hadits masyhur secara ringkas, yaitu :
ما له طرق محصورة بأكثر من اثنين ولم يبلغ حدَ التَواتر
“Hadits yang mempunyai jalan yang terhingga, tetapi lebih dua jalan dan tidak sampai kepada batas hadits yang mutawatir”
Sementara Dr. Mahmud Thahan dalam kitabnya Taisir Musthalah al-Hadits mengutip definisi Masyhur :
ما رواه ثلاثة قأكثر –فى كلَ طبقة—ما لم يبلغ حدَ التَواتر
Demikianlah pemaparan terkait definisi hadits masyhur dari kalangan ulama ahli hadit dan ilmu hadits, meski pada perkembangannya hadits masyhur ini mendapat sorotan dari berbagai kalangan ulama diluar ahli hadits lengkap dengan mendatangkan pembagiannya, namun tiga definisi diatas setidaknya dapat menjadi batasan tentang definisi hadits masyhur.
Hadits masyhur ini ada yang berstatus shahih, hasan, dan dha’if .
Hadits masyhur baik pada sanad maupun matannya yang shahih seperti pada contoh :
“إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ”
Hadits ini diriwayatkan oleh 16 mukharij pada kitabnya masing-masing, seperti Imam Malik dalam al-Muwatha’Imam yang Sembilan,. Ashab al-Sunan, Ashab al-Shihah, Ashab al-Ma’ajim, Ashab al-Mushannaf, Ashab al-Istikhraj dll…
Hadits masyhur baik pada sanad maupun matannya yang hasan, seperti pada contoh :
لا ضرار ولا ضرار
“Jangan melakukan perbuatan yang berbahaya (bagi diri dan orang lain)”.
Hadits masyhur baik pada sanad maupun matannya yang dha’if, seperti pada contoh :
اطلبوا العلم ولو با الصَين

d).Secara global, pada masa sekarang khususnya pemikiran keberagamaan yang melanda umat Islam relative maju, terbukti dari sisi akademisinya yang tiap tahun pasti melahirkan lulusan-lulusan sarjana muslim dalam masing-masing disiplin ilmunya. Demikian pula karya-karyanya yang kian tahun bertambah.Ini menjadi indikasi bahwa sisi akademisi kaum muslimin sedanag meningkat walau tidak langsung drastic.namun masih ada yang disayangkan, dalam dunia akademisi umpamanya, Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa saat ini sedang terjadi peristiwa yang sangat besar dalam sejarah umat Islam Indonesia.Sebuah peristiwa besar dalam dunia ilmu-ilmu Islam (‘ulumuddin) sedang terjadi. Serbuan Barat dalam ilmu-ilmu Islam sedang berlangsung besar-besaran – dengan dukungan fasilitas dana yang ‘gila-gilaan dan sokongan para ilmuwan– dalam studi Islam sendiri yang gandrung membuat perubahan dalam keilmuaan Islam. Serbuan (invasi) itu telah menjadi kenyataan dan menemukan realitasnya dalam dunia perguruan tinggi Islam di Indonesia, baik di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Universitas islam Negeri (UIN), Sekolah Tinggi Islam Negeri (STAIN) dan Perguruan Tinggi Islam Swasta (PTIS). Suasananya menjadi hegemonic. Penerbitan buku-buku dalam studi Islam ‘ala’ orientalis Barat membanjiri di pasaran-pasaran dan menjadi rujukan para mahasiswa bidang studi Islam dalam penulisan makalah, skripsi, tesis, atau disertasi mereka.
Hegemoni Barat dalam studi Islam di Indonesia –dan dunia Islam lainnya—tentulah sangat aneh dan seharusnya menjadi pelecut bagi umat Islam untuk mau bercermin dan melakukan intropeksi total terhadap agenda dan rencana perjuangan mereka. Jika dalam studi Islam saja, umat Islam harus ‘terjajah’ dan terhegemoni, maka sangat bisa dimengerti, jika dalam berbagai aspek lain, seperti ekonomi, politik, militer, dan sebagainya, umat Islam juga sulit keluar dari cengkraman hegemoni, dan sulit mengembangkan kemandiriran.
Hegemoni orientalis Barat dalam studi Islam terbukti telah membawa dampak yang serius dalam kehidupan keagamaan di Indonesia.Berbagai keanehan dan kemunkaran dalam dunia ilamu keislaman telah bermunculan dari tubuh berbagai perguruan tinggi Islam.Tidak sedikit orang-orang yang belajar ilmu-ilmu Islam kemudian justru menjadi penentang Islam yang tangguh dan aktif melakukan dekonstuksi (penghancuran) konsep-konsep dasar Islam.Kemunkaran ilmu bukanlah kemunkaran yang ringan, karena berdampak serius dalam amal perbuatan. “Orang tidak mau shalat lantaran inkar terhadap ilmu (hukum) shalat lebih berat siksaannya ketimbang orang yang bermalas-malasan shalat”
Selain daripada itu, nilai dari sudut akademisi tadi kurang dapat dirasakan oleh khalayak dalam kaitan penerapan social yang berbasic social dan teknologi (meski studi Islam tidak mengkhususkan dalam ranah tersebut).Ini mengakibatkan ppproduktifitas kaum muslimin tertinggal disbanding dengan dunia lain (jika hendak mempersamakan).
Wallahu’alam….

JAWABAN NO III :
aحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّأَنَّ نَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ حَتَّى إِذَا نَفِدَ مَا عِنْدَهُ قَالَ مَا يَكُنْ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَصْبِرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنْ الصَّبْرِ
(مسلم : كتاب الزَكاة, باب فضل التَعفَف والصَبر رقم 1745)
b). “……….Hadits diterima dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahwasanya sekelompok orang dari kalangan Anshar mereka meminta sesuatu kepada Rasulullah saw., lantas Nabi memberikannya, kemudian mereka meminta lagi dan Nabi pun memberinya lagi, sehingga ketika habislah apa yang ada pada Rasulullah (sesuatu yang mereka pinta) beliau bersabda, ‘tidak ada sesuatu yang aku miliki dari kebaikan, (selamanya) tidak akan aku simpan/tahan dari kalian, dan siapa yang menjaga (kehormatan) diri (dari perbuatan hina/syubhat) niscaya Allah akan menjaganya, barang siapa yang meminta kecukupan/kaya, Allah akan memberi kecukupan/kekayaan, barang siapa yang bersabar, Allah akan meneguhkan kesabarannya, dan tidak ada seorangpun yang diberi suatu pemberian dan kekebaikan demikian pula (tidak ada seorang pun yang diberi) keleluasan dalam kesabaran”.
c). Hadits tersebut diriwayatkan lebih dari 15 mukharij dalam kitabnya masing-masing, diantaranya yaitu;
• Abu ‘Abdullah Malik Ibnu Anas Ibn Malik Ibn Abi ‘Amir Ibn Amr al-Harits Ibn Ghaiman Ibn Husail Ibn ‘Amr Ibn al-Harits al-Ashbahiy al-Himyariy al-Madaniy (97 H-179 H),al-Muwatha’, Kitab al-Jami’, Bab ma Ja-a fi al-Ta’affufi ‘an al-Mas-alah, no 1585
• Imam Bukhari, al-Jami’al-Shahih, Kitab al-Zakat, Bab al-Isti’faf ‘an al-Mas’alahno 1376
• Imam Muslim, al-Shahih, Kitab al-Zakat, Bab Fadli al-Ta’affufi wa al-Shabri, no 1745
• Imam Abu Daud, Sunan, Kitab al-Zakat, Bab fi al-Ta’affufi, no 1401
• Imam al-Tirmidzi, Sunan, Kitab al-Birru wa al-Shilah, Bab Ma Ja’a fi al-Shabri no 1947
• Imam al-Nasi, Sunan, Kitab al-Zakat, Bab al-Isti’faf ‘an al-Mas’alah, no 2541
• Imam Ahmad, Musnad, Kitab Baqii Musnd al-Muktsirin, Bab Musnad Abu Sa’id al-Khudriy, no 10669
• Imam Ibn Abi Syaibah, Mushannaf, Juz II, no 123hadits yang ketiga
• Imam al-Thabariy, Tahdzib al-Atsar, Bab Dzikru min Haditsi bihadza al-Haditsi ‘an Abi Sa’id Ghaira man Dzukirat ‘fa lam Yadkhul Bainahu wa Baina Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Ahadan, no 6 dan 7
• Imam al-Darimiy, Sunan, Kitab wa min Kitab al-Zakat, Bab fi al-Isti’faf ‘an al-Mas’alah, no 1699
• Imam Ibn Hibban, Shahih, Kitab al-Zakat, Bab al-Mas’alah ba’da an Aghna’hullahu Jalla wa ‘Ala ‘anha, no 3467 dan 3469
• Imam al-Thayalisiy, Musnad, Kitab Ahadits al-Nisa, Bab ma Ruwiya Abu Sa’id al-Khudriy ‘an al-nabiyyi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, no 2263
Jika kita membuat skema transmisi sanad pada keenam periwayatan hadits diatas, maka akan didapat hasil sebagai berikut :

Hadits tersebut pada mulanya melalui satu jalur transmisi yaitu yang melalui sahabat Abu Sa’id al-Khudriy lantas diterima oleh lima orang orang tabi’in ; seorang rawi Abu Salamah Ibn ‘Abd al-Rahman dengan satu jalur transmisi, sedang empat rawi yang lain Atha’ Ibn Yazid al-Laitsiy, Atha’ Ibn Yasar, Hilal Ibn Hushain dan Abu Nadlar masing-masing dengan dua jalur transmisi sampai dengan thabaqoh keempat, dan setelahnya masing-masing rawi pada setiap thabaqoh dengan satu jalur transmisi.
Jika diperhatikan, memang didapat dua jalur transmisi pada tiga thabaqoh, namun dua jalur thabaqoh tersebut, tersebar semenjak thabaqoh kedua setelah Abu Sa’id al-Khudriy sampai kepada mukharij, dan itu terjadi tidak kurang dari sebelas jalur dan sebelas mukharij.
Penulis berkesimpulan, jalur transmisi seperti ini lebih tepat dikatakan Hadits Masyhur.Mengenai argumennya bisa dilihat kembali pada jawaban no II diatas.

d). terkait proses pembelajaran terhadap golongan tingkat ekonominya lemah, ada beberapa faktor yang harus terlibat aktif dan mendukung terhadap terlaksananaya proses pembelajaran ini. Diantaranya; kemauan belajar yang kuat dari subjek, sebenarnya jangan dijadikan alas an untuk tidak sekolah lantaran tarap ekonomi dibawah rata-rata, minimal kalo tidak belajar dalam ruangan formal, maka ia dapat bergabung dengan komunitas-komunitas yang melayani masalah seperti ini. Misalnya saja terdapat komunitas “taman bacaan” dan sebagainya. Faktor lain adalah fihak keluarga yang tidak pesimis dan malah menyuruh anak untuk mencari mata pencahariaan walau berpanas-panasan dibawah terik matahari karena alasan kurang mampu. Yang bertanggung jawab atas penghidupan seorang anak adalah kedua orang tuanya.Merekalah yang seharusnya berfikir dan bekerja bagaimana caranya agar anaknya bisa mengenyam pendidikan yang mana kedepan merekalah yang menjadi asset untuk meningkatkan tarap hidup keluarga mereka khususnya dan memajukan kualitas diri dan lingkungan pada umumnya.Orang tua harus menjadi suplemen pertama dan utama untuk palaputranya supaya bisa terus berkarya melalui jalur pendidikan yang terarah dan terbimbing.Faktor lainnya lagi, dukungan sarana dan prasarana dari Negara. Sebagai Negara berkembang , hendaknya Negara lebih intens dalam memperhatikan pendidikan. Mulai dari menyediakan sarana kemudaian memikirkan untuk pengembangan pembelajaran siswa agar dengan mudah menyalurkan disiplin ilmunya dengan sarana yang mudah, lengkap dan gratis.Menunjang para pengajarnya agar tidak tersibukan dengan mencari mata pencaharian. Mematangkan proses pembelajaran dan bahkan dinegara-negara maju pendidikan formal dapat diikuti oleh anak-anak usia sekolah dengan gratis.pemerintah/Negara yang menginginkan bangsanya hadir digarda terdepan dalam kanch internasional, hendaknya lebih memntingkan pendidikan daripada yang lainnya. Karena dengan pendidikan semua ranah tatanan kenegaraan dapat ditempuh dengan proses/prosedur yang matang (dalam konteksnya) dan lebih dapat dipertanggung jawabkan.Faktor lainnya juga ialah lingkungan. Semua unsure lapisan masyarakat hendaknya bahu-membahu dalam membangun paradigma sadar pendidikan dan menerapkannya dalam lingkup kemasyarakatan, agar pendidikan dapat lebih dirasakan aplikatif tidak sebatas duduk manis di ruang kelas.dll
sama halnya dengan kasus tarap ekonomi rendah dalam menghadapi kompetisi kehidupan secara umum, peinta-minta termasuk masalah yang sangat kompleks yang terdorong oleh serangkaian faktor, pun demikian pula serangkaian solusi dapat ditemukan didalamnya. Masalah internal dari subjek, lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, dan Negara –yang sering menggembar-gemborkan janji-janji manis lewat kampanyenya akan membuka seratus ribu, sejuta dst…. Lapangan pekerjaan bagi masyarakat—menjadi faktor yang mesti saling bahu membahu dalam memberantas kemalasan (meminta-minta) dan lebih memanfaatkan waktu luang yang terbuang, potensi diri yang tinggi, alam yang bersahabat nan penuh berjuta peluang ekonomis, dan terakhir ilmu dan agama yang menaungi syahwat-syahwat yang terkendali dari pengaruh kapitalis, hedonis dan apatis.
Meminta-minta bisa menurunkan derajat dan martabat diri, keluarga, Negara, bahkan sikap keberagamaan.Harga diri turun, otak tumpul, badan kaku, dan hati penuh ketergantungan kepada manusia (yang tidak semestinya menjadi sandaran utama). Siapapun orang dan dimanapun ia berada pasti menginginkan kesejahteraan ekonomi dalam hidupnya, yang menadi pertanyaan; apakah sejahtera akan bisa didapat dengan sekedar meminta-minta? Dari jalan kejalan?Dari rumah kerumah?Dalam masa satu atau dua tahun?Bahkan sepuluh tahun?
Bandingkan hasil dari pertanyaan tersebut dengan orang yang mandiri dan sadar diri akan potensi diri, lingkungan dan system yang ada, lantas ia memanfaatkannya lewat bekerja yangbukan meminta-minta. Apa hasilnya ?dapat dibuktikan seberapa jauh perbedaan diantara keduanya? Sebagaimana dijelaskan pada jawaban pertama bagian D
Jadi, kalau kita membuat korelasi dengan hadits pada no 3 ini ,aka kita dapat asumsikan : kepada yang merasa diamanati materi berlebih hendaknya jangan sungkan untuk memberi bantuan, terlebih dalam masalah pendidikan dan agama. Manusia diberi bekal yang sama, oleh sebab itu manusia diperintahkan untuk bekerja dari seluruh aspek potensi yang ada bukan dengan cara bermalas-malasan; meminta-minta.
Wallahu ‘alam…

MARAJI’
1. Al-Qur’an Digital
2. al-Maktabah al-Syamilah CD
3. Dr. Nur al-Din ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-Hadits, (Damaskus : 1981), Dar al-Fikr, Cet ke 3
4. Dr. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, (Beirut-lIbanon : 2006), Dar al-Fikr
5. Dr. Mahmud al-Thahan, Taisir Musthalah al-Hadits, Dar al-Fikr
6. Drs, Munzier Suparta M.A. Ilmu Hadits, (Jakarta : 2001), Rajawali Pers
7. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits : Jakarta : 1954, Bulan Bintang, cet ke 10
8. al-Shan’aniy, Subul al-Salaam, Bandung : tt, Maktabah Dahlan
9. Dr. Ahmad Luthfi Fathullah., MA. Metode Belajar Interaktif dan Ilmu Hadits, (Jakarta : tt), Pusat Kajian Hadits al-Mughni Islamic Center, CD
10. Asep Hibban Copyright, Software Kamus Bahasa Arab v.3.0, 2007-2009
11. Software Mufradat Alfadz Al-Qur’an, HTML
12. Maajalah Dakwah Islamiyah Risalah, Edisi Mei 2011 M/Jumaditsani 1432 H
13. Gunawan, Renungan Anak Negri; Membedah Selimut Kemiskinan (Solusi Islam), (Medan : 2000), Usu Press, Cet. Pertama
14. Dosen Tafsir Hadits fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga (Yogyakarta : Studi Kitab Hadits, Yogyakarta : 2003), TERAS
15. Adian Husaini, M.A dalam bukunya yang berjudul Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, (Depok : 2006), GEMA INSANI, Cet Ke-2
16. Program tayangan salah satu Chenel Televise di Indonesia, Maret 2011, pkl 15.30