(Oleh : Irham Shidiq)
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Berangkat dari ayat QS. Al-Baqoroh ayat 2, bahwa Al-Quran sebagai petunjuk dengan menggunakan kata “hudan” keterkaitan dengan keberadaan manusia, maka akan menghasilkan karakteristik plural sesuai dengan kesiapan manusia menerima “hudan” tersebut. Imam Al-Maraghi membagi hudan/hidayah kedalam lima bagian; hidayatul khowas, hidayah yang diberikan kepada semua manusia. Hidayatul ilham, hidayah yang diberikan kepada manusia atau binatang dalam bentuk instink. Hidayatu al-din, hidayah yang diberikan kepada orang islam, dan Hidayatu al-taufiq, hidayah yang diberikan kepada khusus orang yang memiliki tarap iman yang tinggi. Bagi umat islam, hidayah yang telah diberikan maka akan mengkontruk sebuah prinsip diri (baca : ‘aqidah). Kesiapan manusia menerima hidayah tersebut bisa didapat melalui ragam cara, satu diantaranya dengan tafakur. Banyak ayat yang menyuruh manusia pada umumnya dan orang beriman pada khususnya untuk bertafakur. Bedanya, bagi umat islam tafakur harus melahirkan prinsip hidup dan buah amal maqbul. Prinsip hidup/aqidah didefinisikan sebagai : “maa ‘uqida ‘alaihil qolbu wadhomiru maa tadayyana bihil insanuwa’taqodahu”. Keadaan hati yang terikat secara tersembunyi terhadap transaksi yang telah disepakati .
Dalam kamus al Munawir terdapat beberapa makna “fikir” sesuai dengan morfologi kata. Al fikru bermakna; pikiran, pendapat. Fakkara, afkara wa tafakkara bermakna; memikirkan. Alfikkiir, dengan menggunakan wazan fi’iil artinya; yang banyak berfikir/ilmuwan. Almufakkarah, maknanya; memorandum, sedangkan mufakkarah yaumiyyah maknanya; buku catatan harian . Dari pecahan kata ini akan didapat sebuah asumsi, bahwa sebuah aktivitas berfikir akan membutuhkan beberapa instrument penting untuk menghasilkan sebuah gagasan atau ide. Pertama, pikiran. Pikiran merupakan sarana yang tersedia dengan berbagai aksiomatiknya untuk menerjemahkan gagasan dalam bentuk simbol-simbol susunan kalimat, perbuatan, persetujuan, sifat atau isyarat (materialisasi). Fikiran ini bekerja karena ada sumber data yang mendorongnya untuk bergerak menuju sebuah postulat. Misalnya, dalam kajian islam terdapat kitab suci Al-Quran dan Al-Haits (baca : Ayat Qauliyyah), atau sumber data yang lainnya seperti; langit, beserta benda-benda angkasa yang mengelilinginya, bumi dan segala isinya, bahkan diri dan jiwa manusia itu sendiri sering menjadi kajian penting yuang menjadi sumber data dalam hidup dan kehidupannya(Baca : Ayat Kauniyyah). Pikiran manusia lambat laun akan mencapai tarap yang lebih maju, dari postulat menjadi tesis manakala didukung oleh perangkat lain seperti ilmu, dalam hal ini sebagai bentuk aktivitas dari fikiran sebagaimana yang dikutip oleh A.W. Munawir dengan sebutan Fakkara, Afkara wa Tafakkara; Berpikir. Dalam prosesnya berfikir itu ada yang bersifat naluri, dan ada juga yang bersifat tholab (penelusuran/pengkajian).
Orang-orang yang mempelajari bahasa Arab mengalami sedikit kebingungan tatkala menghadapi kata “ilmu”. Dalam bahasa Arab, kata al-ilm berarti pengetahuan (knowledge), sedangkan kaata “ilmu” dalam bahasa Indonesia biasanya merupakan terjemahan science. Ilmu dalam arti scince itu hanya sebagian dari al-ilm dalam bahasa Arab. Karena itu, kata scince seharusnya diterjemahkan sain saja. Maksudnya, agar orang yang mengerti bahasa Arab tidak bingung membedakan kata ilmu (sain) dengan kata al-ilm yang berarti knowledge.
Pengetahuan adalah semua yang diketahui. Menurut al-Quran , tatkala manusia dalam perut ibunya, ia tidak tahu apa-apa. Tatkala ia lahir pun belum tahu apa-apa. Kalaupun bayi yang baru lahir itu menangis, barangkali karena kaget saja, mungkin matanya merasakan silau, atau badannya merasa dingin. Dalam rahim tidak silau dan tidak dingin, lantas ia menangis.
Tatkala bayi itu menjadi dewasa, katakanlah ia telah berumur 40 tahunan, pengetahuannya sudah banyak sekali. Begitu banyaknya, sampai-sampai ia tidak tahu lagi berapa banyaknya pengetahuan dan tidak tahu lagi apa saja yang diketahuinya, bahkan kadang-kadang ia juga tidak tahu apa sebenarnya pengetahuan itu.
Semakin bertambah umur manusia itu semakin banyak pengetahuannya. Dilihat dari segi motif, pengetahuan itu diperoleh melalui dua cara. Pertama, pengetahuan yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa motif, tanpa keingin tahuan dan tanpa usaha. Tanpa ingin tahu, lantas ia tahu-tahu, tahu. Seorang sedang berjalan, tiba-tiba tertabrak becak. Tanpa rasa ingin tahu, ia tahu-tahu, tahu bahwa tertabrak becak, sakit. Kedua, pengetahuan yang didasari motif ingin tahu. Pengetahuan diperoleh karena diusahakan biasanya karena belajar. Dari mana rasa ingin tahu itu? Menurut Prof. Dr. Ahmad Tafsir dalam bukunya “Filsafat Ilmu, Mengurai Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Pengetahuan” bahwa rasa ingin tahu yang ada pada manusia itu sudah built-in dalam penciptaan manusia. Rasa ingin tahu itu adalah taqdir . Prof. Dr. Ahmad Tafsir dalam bukunya yang sama menyebutkan : “pengetahuan ialah semua yang diketahui” .
Sementara pengetahuan sain harus berdasarkan logika (dalam arti rasional). Pengetahuan sain ialah pengetahuan yang rasional dan didukung bukti empiris. Namun, gejala yang paling menonjol dalam pengetahuan sain adalah adanya bukti empiris itu. Dalam bentuknya yang sudah baku, pengetahuan sain itu mempunyai paradigma dan metode tertentu. Paradigmanya disebut paradigma sain (scientific paradigm) dan metodenya disebut metode ilmiah (metode sain, scinentific method). Formula utama dalam pengetahuan sain ialah buktikan bahwa itu rasional dan tunjukan bukti empirisnya .
Kekuatan sain dan metodenya akan mencapai tarap kesempurnaan ilmiah dan disiplin dalam alur berfikir ketika sarana berfikir ilmiah dijunjung tinggi. Berdasarkan kajian Jujun S. Suriasumantri dalam bukuny a“Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer” beliau meruntut point-point sarana berfikir ilmiah yang terdiri dari ; bahasa, matematika dan statistika . Dalam kesempatan lain, Prof. Dr. Ahmad Tafsir menyebutkan yang termasuk kedalam struktur sain terbagi kepada : pertama, sain kealaman. Terdiri dari astronomi, kimia, ilmu bumi, ilmu hayat. Kedua, Ilmu social; terdiri dari sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi dan politik. Ketiga, Humaniora. Terdiri dari seni, hokum, filsafat, bahasa, agama dan sejarah.
Ketentuan-ketentuan diatas akan menciptakan apa yang disebut oleh A.W. Munawwir dengan Al-Fikkir ; orang yang banyak berfikir/ilmuwan. Dimana hasil dari penelitian secara ilmiah tersebut akan tersusun dalam sebuah mufakkaroh (memorandum) yang tentunya akan menyajikan hidangan ilmu dan pengetahuan bagi khalayak, serta kekuatannya akan abadi walaupun si pengarang tersebut sudah tiada.
Sejatinya, dalam islam, apa yang telah menjadi bahan ilmu dan pengetahuan mengasilkan sebuah amal. Terutama apa yang menjadi bahan kajian adalah bersumber dari Al-Quran dan Al-Hadits. Baik itu yang bersifat yakin (qoth’iy) ataupun yang bersifat dzonniy. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah kaidah :
“ Al-‘Ilmu ‘indal manatiqoti, idrokul majhuli ‘ala jihatil yakin awi dzonniidrookan yuthobiqul waaqi’a au yukholifuhu”
“Ilmu menurut ahli manthiq adalah pengetahuan tentang sesuatu yang tidak tahu/yang belum diketahui dengan jalan yakin atau dzon, dengan pengetahuan yang sesuai dengan realita atau kebalikannya”.
Dengan menggabungkan teori-teori diatas, akan menambah memorandum terhadap tingkat perbaikan ilmiah, yang diharapkan akan semakin memperkaya khazanah intelektual, membuat orang semakin tawadu’ dan yang paling penting akan menghasilkan amal yang tidak sia-sia (maqbul/diterima). Tidak diharapkan orang semakin tinggi ilmunya akan tetapi tinggi pula rasa egoismenya, bahakan melenceng dari Dustur Ilahi.
Dapat dibuktikan dari sisi sejarah, perbedaan masyarakat jazirah Arab pada khususnya yang mengalami perpecahan karena masing-masing dari mereka merasa tinggi dalam hal yang bersifat fana. Seperti masalah persengketaan tuhan antara yahudi , nashrani dan majusi, karena masalah pangkat atau jabatan, gelar, fanatic kesukuan, harta, anak, tahta dan lain sebagainya yang berakibat pada kekufuran. Padahal bersama mereka terdapat para Nabi yang membimbingnya . Bukan lantaran mereka tidak memiliki ilmu yang mumpuni , justru ahli arkeologi telah membuktikan pada masa-masa dahulu telah mampu menyusun peradaban seni dan arsitekturnya . Namun ilmu yang mereka miliki tidak mampu melakukan Tafakur atau mengembalikan hakikat ilmu kepada Sang Pemilik ilmu tersebut, sehingga yang terjadi adalah kebinasaan di dunia dan diakhirat sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan Al-Hadits .
Tidak dipungkiri juga bahwa pada masa-masa sekarang, hal yang pernah terjadi pada masa lampau dari kekisruhan-kekisruhan disebabkan tergelincir dari ilmu akan terulang kembali jika sejarah tersebut kembali dilakukan. Kepentingan disisni bukan untuk menjastifikasi salah satu orang atau golongan, melainkan mencari data-data se-valid mungkin tentang hal ihwal yang berkaitan seputar tafakur yang terhimpun dalam sebuah proposal penelitian dengan mengangkat judul “TAFAKUR, SINERJITAS ‘AQIDAH ILMU DAN AMAL.sebuah tela’ah atas QS. Al-Jatsiyah ayat 13 versi Imam Al-Thabari dengan terlebih dahulu penulis memohon perlindungan kepada Allah swt.
B. PERUMUSAN MASALAH
Dalam penelitian ini, penulis merumuskan permasalahannya, sebagai berikut :
1. Apa makna tafakur pada QS. Al-Jatsiyah ayat 13 menurut tinjauan Imam Tanthowi Jauhari?
2. Apa saja halangan-halangan yang merintangi untuk tafakur ?
3. Bagaimana sinerjitas tafakur antara ‘aqidah, ilmu dan amal dalam penerapannya dimasa sekarang?

C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui :
1. Untuk mengetahui makna tafakur pada QS. Al-Jatsiyah ayat 13 menurut tinjauan Imam Tanthowi Jauhari
2. Untuk mengetahui halangan-halangan yang merintangi untuk tafakur
3. Untuk mengetahui kaitan tafakur antara ‘aqidah, ilmu dan amal dimasa sekarang
D. KERANGKA PEMIKIRAN
Dalam AL-Quran Surat Al-Jatsiyah ayat 13 Allah SWT Berfirman :
  •         •     
Artinya : “Dan Dia telah menundukan bagi kalian apa-apa yang ada di langit dan apa- apa yang ada di bumi semuanya untuk kamu jadikan manfaat dari keduanya, sesunggahnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau berfikir”
Bisa dipahami, ayat di atas mengandung tiga unsur yang saling berkaitan. Dalam arti lain sinerjitas. Pertama, ‘aqidah. Dimana segenap perhatian manusia tertuju pada sang penggerak, pengatur langit, bumi beserta siklus peredarannya . Dalam struktur bahasanya, diletakan kata kerja yang berdhomir (kata ganti) orang ketiga yang dalam hal ini adalah Allah. Dalam kaidah ilmu balaghah bila kalmiat di letakan diawal, terjadi beberapa kemungkinan satu diantaranya li al ta’dzim (mengagungkan yang disebutkan). Bahkan satu ayat sebelumnya secara dzohir (nampak) lafadz Allah termaktub. Hal ini menegaskan ayat yang datang setelahnya. Kaitan pengagungan ini dikuatkan dengan materi atau objek yang dihadirkan, yaitu berupa makhluk raksasa (langit, bumi dan peredarannya) yang secara naluri atau ‘urfi manusia mustahil sanggup memikirkan atau bahkan sampai mengaturnya apalagi secara sadar mereka memanfaatkan apa-apa yang terkandung didalamnya. Ayat ini nampaklah jelas bahwa unsur aqidah dituntut untuk menjadi prinsip diri dalam penghambaan kepada Sang Pencipta dan Pengatur alam dengan tidak menyombongkan diri dalam segala halnya, dan bahwa sejatinya manusia patut bersyukur terhadap hidup dan kehidupan yang telah dianugrahkan kepada mereka lantaran segala isi dari langit dan bumi telah tidak terhitung mereka manfaatkan .
Kedua, ilmu. Allah menghadirkan suatu Mahakarya yang belum pernah manusia sebelumnya mampu menanganinya . Dengan sarana yang ada pada masanya manusia hanya sampai menyerahkannya pada ahli philosof alam dan astronom. Philosof berakhir pada kesimpulan bahwa langit, bumi besrta peredarannya di atur oleh Sang Maha Penggerak . Sedang para astronom hanya sampai pada penemuan-penemuan yang masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan besar. Dan sampai saat ini pertanyaan-pertanyaan besar itu masih berlangsung. Berbeda dengan Al-Quran yang terjaga kemurniannya, semenjak diturunkan sampai hari akhir akan tetap tegak berdiri sebagai hudan bagi siapa yang mau dan pantas menerimanya dan hujjah bagi siapa yang menentangnya . Bahkan dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan alam seperti diatas dan yang semakna dengannya banyak para pemungkir yang kelu lidahnya dan merah mukanya dibuat malu oleh kemurnian, kemukjizatan Al-Quran. Sebab secara ilmu dengan pertentangnya para pemungkir itu lemah .
Ketiga, amal. Ditutup dengan kalimat “la ayatin liqoumin yatafakkarun” menuntut pekerjaan berfikir bagi manusia. Berfikir sebagaimana yang telah dijelaskan para pakar filsafat bahwa kegiatan berfikir memiliki instrument-instrumen yang menjadi perangkatnya yang mengantarkan pada keakuratan dan disiplin dalam mengambil hipotesa, maka lebih jauh daripada itu, segi aksiologi dari sebuah ilmu dan pengetahuan dalam islam harus menuntut dan menuntun amal yang diridoi oleh Allah dan Rasulnya sesuai dengan ketentuan qoth’iy dan dzanniy dari berbagai objek kajian yang telah ditentukan dengan harapan dapat mendekatkan manusia pada penciptanya serta menyadari hakikat kehambaan .
E. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
Dalam penelitian ini, penulis menentukan langkah-langkah penelitian sebagai berikut :
Menentukan jenis data
Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif, berupa hadits-hadits, Al-Quran, syarah-syarah, serta tulisan para pakar mengenai permasalahan yang sedang dianalisis.
“Metodologi kulitatif adalah “prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriktif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang dapat diamati”.
1. Menetukan data sumber
Untuk memperoleh suatu data yang valid, penulis menggunakan sumber data primer dan sekunder.
a. Data primer. Yang digunakan adalah pendapat Imam Tanthowi Jauhari yang berkaitan dengan tafakur.
b. Data sekunder
Data sekunder, adalah data yang diperoleh dari buku-buku, majalah atau sumber-sumber lain yang ada hubungannya dengan pembahasan diatas, seperti buku atau majalah mengenai tafakur, tadabur, tadzakur serta literatur-literatur berupa pandangan para ahli mengenai tafakur terutama pendapat ahli tafsir yang dapat menguatkan data-data primer
2. Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Deskriptif
Metode deskriptif adalah “prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang diamati”.
b. Analisis
Analisis data adalah proses yang merinci usaha secara formal, untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti disarankan oleh data, dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa analisis deskriptif adalah : usaha untuk menelaah dan memaparkan data melalui buku-buku yang berkaitan dengan hadits yang telah disebutkan diatas sehingga akan menghasilkan suatu kesimpulan.
Metode ini, penulis gunakan untuk memberi gambaran mengenai konsep tafakur yang dilihat dari prespektif pakar tafsir.
3. Tehnik pengumpulan data
Adapun tehnik yang digunakan adalah kajian kepustakaan (library research). Dengan cara membaca dan menelaah data yang ada kemudian memilahnya sesuai dengan penelitian. Hal ini dipilih karena penulis menggunakan studi literatur.
4. Analisis data
Setelah data terkumpul, maka selanjutnya data tersebut diolah dan dianalisa dengan pendekatan rasional, kemudian disusun secara teratur untuk menentukan data yang diinginkan.
5. Kesimpulan
Setelah data yang diinginkan terkumpul, dari data tersebut ditarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang ada pada perumusan masalah.
Maraji’
1. Al-Qur’anul Karim
2. Alu Syaikh Syaikh ‘Abd al-Rahman ibn Hasan, Fath al-Majid Syarhu Kitab al-Tauhid, (Beirut : 2002), Daar al-Fikr
3. ‘Abdullah Abu, Shahih al-Bukhari bi hasyiyati al-Sindy, (Beirut : 1994), Daar al-Fikr
4. Al-Fida Abu, Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, Maktabah Syamilah CD.
5. Al-Asfahani al-Raghib, Mu’jam Mufradat li al-Fadz Al-Qur’an, (Beirut : 2004), Daar al-Fikr
6. Leaman Oliver, Pengantar Filsafat Islam, sebuah Pendekatan Tematis, (Bandung : 2002), Mizan, cet Ke- 2
7. Ma’luf Lowwis, Almunjid Fi al Lughoh Wal A’lam, (Lebanon : 1960), Dar al Masyrik, Cet ke-23
8. Munawwir A. W, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, tashih KH. Ali Ma’shum dan KH. Zainal Abidin Munawir (Surabaya : 2002), Pustaka Progressif, cet Ke,25
9. al-Mubarakfury Syaikh Shafiyyurrahman, Sirah Nabawiyah, (Jakarta Timur : 2007), Pustaka al-Kautsar, cet ke-25
10. Suriasumantri Jujun S, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. 2000), Pustaka Sinar Harapan, cet Ke-13
11. Tafsir Prof. Dr. Ahmad, Filsafat Ilmu, Mengurai Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Pengetahuan, (Bandung : 2007), PT. Remaja Rosdakarya, cet Ke-3
12. Zakaria bin Ahmad Kurkhi K. H. Aceng, Ilmu Al- Manthiq, (Garut : 1999), Pesantren Persatuan islam Tarogong, cet ke-1
13. http://www.pakdenono.com