TANGGAPAN TERHADAP FILM “?” MASIH PENTINGKAH KITA BERBEDA”
KARYA SUTRADARA : HANUNG BRAMANTYIO
Dalam film “?” dikisahkan perempuan bernama Rika yang memutuskan pindah agama dari Islam ke Katolik. Ia menyatakan kepindahan agamanya bukan berarti mengkhianati Tuhan. sebab menurutnya, agama ibaratnya jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. kata Rika mengutip sebuah buku, “……semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju kearah yang sama; mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan”.
Sesudah menjadi katolik, Rika tetap bersikap toleran. Anaknya yang masih kecil, dibiarkannya tetap muslim. Bahkan, ia mengantar jemput anaknya ke mesjid untuk belajar mengaji al-Qur’an. Di bulan Ramadhan, dia temani anaknya tersebut untuk makan sahur sambil mengajarkan berdo’a makan sahur. Walau semula kemurtadan Rika tidak direstui anak dan ibunya, tetapi disebabkan sikap toleransi Rika, diujung film dia diterima sebagai seorang manusia terhormat meskipun”murtad” dari Islam. Bahkan, ada yang memujinya telah mengambil langkah besar dalam hidupnya.
Sosok lainnya yang dikisahkan dalam film “?” adalah surya. Seorang muslim miskin yang terusir dari kosannya disebabkan sang empunya kosan seorang wanita muslim berjilbab yang bakhil. Surya kemudian berteman dengan Rika. Ia kemudian ditawari untuk memerankan sosok Yesus dan Santa Claus dibeberapa perayaan jemaat Kristiani. Ia pun menerimanya, walau semula sempat diprotes oleh beberapa orang jemaat Gereja (seolah-olah pembelaan diri dari HB yang telah menyerahkan peran KH. Ahmad Dahlan kepada seorang penganut Kristen di film “Sang Pencerah”). Setelah selesai memerankan Yesus yang dipaku di tiang salib, ia datang ke mesjid lalu membaca Surat al-Ikhlash yang meng-Agungkan Allah swt.
Apa yang dipertontonkan oleh HB lewat filmnya tersebut, jelas sekali bermuatan misi pendangkalan aqidah Islam, dan itu sudah memang terlihat dari judul filmya “masih pentingkah kita berbeda”. Bagi HB, tidak ada masalah dengan perbedaan yang ada, khususnya yang ia tekankan; perbedaan agama, sebab semuanya sama, semuanya sama-sama mengajarkan kebaikan dan sama-sama mengajarkan kebaikan, dan sama-sama menuju Tuhan. bagi HB tidak masalah jika seorang muslim keluar dari agamanya, asalkan masih “menghargai” agama Islam. Walau sebenarnya bukan “menghargai”, tetapi “mengkhianati” Islam. Dan tentu akan menjadi sangat aneh jadinya jika HB menganggap biasa-biasa saja orang yang mengkhianati agamanya tersebut, padahal HB juga tahu pengkhianat idiologi Negara saja ada hukumannya. Bagi HB juga tidak masalah seorang berpura-pura meyakini Yesus asalkan ia tetap meyakini keesaan Allah swt. Sebuah sikap yang dahulu disebut oleh Hamka sebagai sikap munafiq, akan tetapi ternyata dikampanyekan secara terang-terangan oleh Hanung lewat filmnya ini.
Keekstreman HB, sedikit berbeda bentuk dengan yang dilakukan Muhammad Syarif. Jika keekstreman MS diperlihatkannya lewat keyakinan “takfir” (mengkafirkan) terhadap orang lain yang tidak sefaham dengannya, maka ekstrimitas HB diperlihatkannya lewat pendangkalan aqidah dengan liberalism agama. Pada intinya, kedua-duanya sama-sama berdalih atas nama agama. HB ingin mengesankan bahwa Islam “sangat toleran”, sementara MS mengesankan bahwa Islam “siap berjihad” melawan musuh-musuh Allah. HB ingin menepis kesan Islam yang keras seperti terlihat dalam kelompok MS, sebaliknya kelompok MS pun ingin menepis kesan Islam yang lembek dan terlalu toleran seperti yang difahami HB. Keduanya sama-sama ekstrim, meskipun berbeda dijutub yang berlawanan. Dalam hal ini, kita semua dituntut untuk mengevaluasi kembali pemahaman kita terhadap agama Islam. Sebab, hanya ada satu kata untuk faham terhadap agama Islam; yakni WAJIB.