TANGGAPAN TERHADAP TULISAN TAUFIK ADNAN AMAL
“EDISI KRITIS AL-QUR’AN”
Oleh : Irham Shidiq
(Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits smester VI Sekolah Tinggi Agama Islam
(STAI) PERSIS Bandung)

Al-Quran terpelihara Oleh Allah swt
Lagi-lagi kemunkaran ilmu tengah melanda umat Islam, khususnya di Indonesia. kemunkaran ilmu yang terjadi tentunya mengenai ajaran Islam sehingga mengundang ketentraman umat Islam dalam menjalankan ibadahnya. Ironisnya para perusak ini bukan dari kalangan orientalis Barat yang notabene benci terhadap Islam, akan tetapi mereka termasuk dalam bagian tubuh Islam sendiri bahkan orang-orang yang memiliki ilmu keislaman. Tak tanggung-tanggung, yang mereka hujat bukan lagi meragukan hadits atau bahkan menolaknya, justru sekarang mereka lebih berani dari sekedar itu; yaitu menghujat otentisitas Al-Qur’an. Mereka lantang menyuarakan dekontruksi Al-Qur’an dengan alasan ilmiah. Jadi seolah-olah kalau ilmiah semuanya sah-sah saja untuk dilakukan. Sampai-sampai dengan ilmiah Al-Qur’an pun bisa dikehendaki nafsu. Salah satu diantara mereka adalah seorang dosen mata kuliah Ulum Al-Qur’an pada Fakultas Syari’ah IAIN Alauddin Makasar yakni Taufik Adnan Amal. Beliau mengatakan :”Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf menunjukan ketidak mampuan umat Islam dalam membaca kitab mereka, ketidak konsistenan Al-Qur’an bahkan Nabi sendiri memberikan ijin kepada umatnya membaca Al-Qur’an dengan tujuh huruf”. Maka untuk itu dibawah ini kami paparkan bantahan atas saudara penulis dalam tulisannya yang berjudul “Edisi Kritis Al-Qur’an” dalam sub-sub judul.
Allah swt Maha Mengetahui terhadap ciptaan-Nya sejak pertama kali penciptaan, Ia menjamin kesucian dan keabadian Al-Qur’an serta memeliharanya dari tangan-tangan jahil. Dalam sebuah ayat disebutkan :
  •    
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” .
Beberapa ulama menjelaskan ayat tersebut diantaranya :
• Imam Ibnu Jarir , beliau mengatakan :” dan sesungguhnya kami (Allah) menjaga Al-Qur’an dari mereka yang berusaha merubahnya dengan bathil; dengan cara menambah atau mengurangi hukum-hukum yang terkandung didalamnya, batasan-batasannya dan ketetapan-ketetapannya” .
• Imam al-Nasafi menjelaskan :” Allah menjaga Al-Qur’an dalam setiap waktu dari perubahan berupa tambahan-tambahan, pengurangan dan perusakan. Ini berbeda dengan kitab-kitab terdahulu yang penjagaannya berupa hafalan rabbaniyyin dan para pendeta, sehingga terjadilah pertentangan diantara mereka disebabkan rasa kedengkian. Berbeda dengan Al-Qur’an, hanya sanya ia mendapat penjagaan langsung oleh Allah swt” .
• Imam al-Khozin dalam tafsirnya menjelaskan :” Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai mu’jizat yang kekal dan sebagai penjelasan kalam manusia. Upaya apapun akan lemah jika ditujukan untuk menambah atau mengurangi Al-Qur’an. Sebab, hasil dari usaha untuk merubah Al-Qur’an akan diketahui secara pasti oleh setiap yang berilmu dan berakal mana Al-Qur’an yang murni dan mana Al-Qur’an yang telah mengalami perubahan” .
Dan masih banyak lagi pendapat beberapa ahli tafsir yang menjelaskan keterpeliharaan Al-Quran dari perubahan. Dalam sebuah ayat disebutkan :
              
“yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.
Pengarang al-Durul Mansur menafsirkan kata الباطل adalah Iblis , sedangkan dalam tafsir al-Khazin disebutkan bahwa yang dimaksud الباطل adalah dari kalangan jin dan manusia. Keterangan-keterangan diatas menunjukan akan otentisitas Al-Qur’an, bagaimana ia terpelihara. Dimana Allah sendiri yang memelihara kesucian dan perubahan-perubahannya dari tangan-tangan jahil para perompak.

Sistem Bacaan (Qira’at) Sebagai Sunnah

Ilmu qira’at yang benar (ilmu seni baca AI-Qur’an secara tepat) diper¬kenalkan oleh Nabi Muhammad saw. sendiri, suatu praktik (sunnah) yang me¬nunjukkan tata cara bacaan setiap ayat. Aspek ini juga berkaitan erat dengan kewahyuan AI-Qur’an: Teks Al-Qur’an telah diturunkan dalam bentuk ucapan lisan dan dengan mengumumkannya secara lisan pula berarti Nabi Muhammad saw. secara otomatis menyediakan teks dan cara pengucapannya pada umatnya. Kedua-duanya haram untuk bercerai.
‘Umar dan Hisham bin Hakim ketika berselisih bacaan tentang sepotong ayat dalam Surah al-Furqan walaupun pernah sama-sama belajar langsung dari Nabi Muhammad saw., ‘Umar bertanya pada Hisham siapa yang telah mengajarnya. Dia menjawab, “Nabi Muhammad Kejadian serupa dialami oleh Ubayy bin Ka’b Tidak ada seorang sahabat yang berani mengada-ada membuat silabus sendiri: semua bacaan sekecil apa pun merupakan warisan Nabi Muhammad .
Kita juga menemukan seorang ahli tata bahasa yang menyatakan bahwa bacaan kata-kata tertentu, menurutnya, lebih disukai jika mengikuti tata cara aturan bahasa karena perubahan dalam tanda diakritikal tidak membawa makna yang berarti. Walau demikian, ilmuwan-ilmuwan tetap memegang teguh sistem bacaan yang diperkenalkan melalui saluran atau sumber yang sah guna menolak usaha mengada-ada serta tetap mempertahankan pandangan bahwa qira’at hukumnya sunnah yang tidak ada seorang pun memiliki wewenang untuk mengubah seenaknya.
Kita perlu mencatat, biasanya orang-orang tidak mau membeli Mushaf di pasar murahan setelah selesai belanja waktu pagi dari penjual ikan dan sayuran lalu pulang menghafal surah secara pribadi . Belajar secara lisan melalui seorang instruktur yang memiliki otoritas keilmuan sangat diperlukan, biasa¬nya rata-rata lima ayat per hari. Tradisi ini terjadi di akhir seperempat pertama abad pertama hijrah ketika Abu Bakr bin ‘Ayyash (w. 193 H.) belajar Al¬Qur an dari Ibn Abi an-Najud (w. 127 H.) sewaktu masih muda Artinya, tidak ada bacaan bermula dari kevakuman atau hasil tebakan seorang penggubah yang dilakukan secara pribadi di mana ketika mulai muncul lebih banyak bacaan orang-orang yang memiliki otoritas, semua sumber dapat dilacak sampai kepada Nabi Muhammad. Pada zaman sahabat muncul sebuah buku tentang subjek ragam bacaan yang dibuat untuk kepentingan masa depan dalam skala kecil . Dengan waktu yang telah menyaksikan perkembangan buku yang semakin banyak untuk membandingkan bacaan ilmuwan yang terkenal dari beberapa pusat keilmuan, ujung tombak terdapat dalam buku Ibn Mujahid.

Perlu banyak ragam sistem bacaan : Penyerhadaan Bacaan bagi mereka yang tak bisa (Non Arab)
Kesatuan dialek yang sudah Nabi biasa dengannya sewaktu masih di Mekah mulai sirna setibanya di Madinah. Dengan meluasnya ekspansi Islam melintasi belahan wilayah Arab lain dengan suku bangsa dan dialek baru, berarti berakhirnya dialek kaum Quraish yang dirasa sulit untuk dipertahankan. Dalam kitab sahihnya, Muslim mengutip hadits berikut ini:
“Ubayy bin Ka’b melaporkan bahwa ketika Nabi berada dekat lokasi banu Ghifar Malaikat Jibril datang dan berkata, “Allah telah menyuruh kamu untuk membaca Al-Qur’an kepada kaummu dalam satu dialek,” lalu Nabi bersabda, “Saya mohon Ampunan Allah. Kaumku tidak mampu untuk itu” lalu Jibril datang lagi untuk kedua kalinya dan berkata, “Allah telah menyuruhmu agar membacakan Al-Qur’an pada kaummu dalam dua dialek,” Nabi Muhammad lalu menjawab, “Saya mohon ampunan Allah. Kaumku tidak akan mampu melakukannya,” Jibril datang ketiga kalinya dan berkata, “Allah telah menyuruhmu untuk membacakan Al-Qur’an pada kaummu dalam tiga dialek,” dan lagi-lagi Nabi Muhammad berkata, “Saya mohon arnpunan Allah, Kaumku tidak akan mampu melakukannya,” Lalu Jibril datang kepadanya keempat kalinya dan menyatakan, “Allah telah mengizinkanmu membacakan Al-Qui an kepada kaummu dalam tujuh dialek, dan dalam dialek apa saja mereka gunakan, sah-sah saja ”.

Ubayy (bin Ka’b) juga melaporkan.Rasulullah bertemu Malaikat jibril di Batu Mira’ (di pinggiran Madinah, dekat Quba) dan berkata kepadanya, ” Saya telah diutus kepada suatu bangsa buta huruf, di antaranya, orang tua miskin, nenek-nenek, dan juga anak-anak,” Jibril menjawab, “Jadi suruh saja mereka membaca Al-Qur’an dalam tujuh dialek (ahruf).”

Isnad dan Transmisi Al-Qur’an
Semua kajian ini dapat memunculkan sebuah pertanyaan penting. Apa¬bila metode yang ketat disiplin berfungsi sebagai jalan kerja harian dalam pengalihan informasi, segalanya dari mulai Sunnah sampai kisah cinta para penyanyi sekali pun, mengapa tidak diterapkan juga untuk Al-Qur’an?
Dalam memberi jawaban, ia menuntut kita mengingat kembali sifat Kitab Suci ini. Karena ia merupakan Kalam Allah dan sangat penting dalam setiap shalat, maka penggunaannya selalu lebih luas dari Sunnah. Keperluan dalam penggunaan jaringan mata rantai clan ijazah bacaan bagi setiap orang yang ingin mempelajari Al-Qur’an, tentunya akan lebih. Seseorang yang ingin mem¬pelajari seni baca Al-Qur’an secara profesional, hendaknya ia melatih suara dan makharij (cara mengeluarkan huruf) yang digunakan oleh para juru baca kenamaan pemegang ijazah dengan urut-urutan mata rantai yang akhirnya sampai pada Nabi Muhammad saw, Abu al-`Ala’ al-Hamadhani al-`Attar (488¬569 H./1095-1173 M.), seorang ilmuwan yang terkenal, membuat kompilasi biografi para juru baca Al-Qur’an yang diberi judul al-Intisar fi Ma’rifat Qurra’ al-Mudun wa al-Amsar. Buku yang terdiri dari dua puluh jilid ini, disayangkan telah musnah sejak dulu. Namun demikian, kita masih dapat mengutip beberapa butir kandungan informasi melalui para ilmuwan yang menulis tentang hal itu; misalnya kita dapat melihat daftar guru-guru pengarang clan juga guru-guru mereka secara lengkap, dalam satu jalur yang pada akhirnya bertemu atau sampai pada Nabi Muhammad yang jumlah halaman bermula dari 7 hingga 162 dari buku tersebut. Semuanya merupakan para juru baca Al¬-Qur’ an yang cukup terlatih. Jika kita ingin memperpanjang skema yang ada pada daftar itu dengan memasukkan yang nonprofesional akan menjadikan kerja itu sia-sia. Bahkan kecepatan penyebaran Al-Qui an itu sendiri sangat susah untuk mengukurnya. Guna menenangkan rasa ingin tahu tentang jumlah
Murid yang belajar kitab ini dari satu halaqah di kota Damaskus, Abu al-¬Darda’ (w. sekitar 35 H./655 M.) meminta Muslim bin Mishkam menghitung untuknya: hasilnya melebihi 1600 orang. Para murid yang menghadiri pengajian sistem melingkar (halaqah) Abu al-Darda’ secara bergiliran setelah shalat subuh, pertama-tama mereka mendengarkan bacaan yang diikuti oleh murid-muridnya, clan juga melatih sendiri-sendiri.
Dengan menerima keterlibatan dua metode yang berbeda dalam penyebaran Al-Qur’an versus Sunnah, masih terdapat beberapa persamaan mengenai transmisi kedua:
1. Ilmu pengetahuan menghendaki hubungan langsung, dan berpijak se-penuhnya pada buku sangat tidak dibenarkan. Semata-mata memiliki sebuah Mushaf, tidak akan dapat menggantikan fungsi kemestian belajar membaca dari seorang guru dengan ilmu yang memadai.
2. Standar moralitas yang ketat diperlukan bagi semua guru. Jika seorang sahabat dekat meragukan kebiasaan akhlaknya, maka tak akan ada siapa pun yang hendak berguru kepadanya.
3. Melukis,diagram tentang transmisi dengan data bibliografi semata, tidak dapat memberi gambaran sepenuhnya mengenai besarnya ukuran subjek yang dikaji. Untuk membuat outline pengembangan Al-Qur’an, seperti telah kita lakukan pada bagian keenam manuskrip Sunan Ibn Majah, mengharuskan pencatatan bagi setiap muslim yang pernah menginjakkan kaki di atas bumi sejak permulaan Islam hingga saat ini.
Untuk memperkuat hujjah bahwa Al-Qur’an memang otentik dan tidak mengalami perubahan, M.M ‘Azami telah mengulasnya dalam bukunya “The History Of The Quranic Text” pada halaman 167-182 dalam bab 11 Penyebab Munculnya Ragam bacaan. Pada bukunya tersebut pula beliau membahas tentang sampainya Al-Qur’an ketangan kita melalui jalur periwayatan atau sanad. Yang mana padanya beliau menyebutkan ketentuan-ketentuan dalam sanad, diantaranya : kehausan sumber informasi, hubungan pribadi siperowi, pembuktian sanad, akhlaq perowi, kemampuan ilmu (ujian akurasi tulisan), klasifikasi para perowi, jaringan yang tidak terputus, memberi dukungan atau sebaliknya dst…

Dalil-dalil Al-Qur’an turun dalam tujuh huruf

Kita tidak bisa mencari dalil bagi pembahasan ini kecuali dari riwayat-riwayat sahih dari Nabi saw. Riwayat sahih itu memiliki jalur yang sangat beragam. Hadits tentang turunnya Al-Qur’an dalam tujuh huruf itu berasal dari sejumlah besar sahabat, antara lain ‘Umar, ‘Utsman, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Bakar, Abu Jahm, Abu Sa’id al-Khudlry, Abu Thalhah al-Anshary, ‘Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Arqam, Samurah bin Jundab, Salman bin Shurd, Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Amr bin Salamah, Amr bin al-‘Ash, Mu’adz bin Jabal, Hisyam bin Hukaim, Anas, Hudzaifah, Ummu Ayyub al-Anshary (semoga Allah meridhai mereka semua) . Dari sekian hadits mengenai Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf bisa dilihat dalam pemaparan hadits diatas.

Makna tujuh huruf

حرف dari segala sesuatu berarti “tepinya, pinggirnya dan batasnya”. Bentuk jamaknya احرف و حروف. Al-harf dari pedang berarti ujungnya, dan al-harf dari gunung berarti puncaknya. Ia juga merupakan satuan dari huruf hijaiyyah. Berarti pula “unta yang kurus” atau “unta yang mengagumkan”, tempat mengalirnya air dan dalam arti hanya dari satu segi saja (al-Hajj : 11). Yaitu mengabdi kepada Allah ketika dalam keadaan suka, tidak dalam keadaan duka, ragu dan tidak tenang. Dengan arti lain, belum masuk kedalam agama secara total. Maksud hadits Nabi نزل القراءن على سبعة احرف tujuh dialek diantara dialek-dialek arab yang ada. Ketujuh dialek itu berbeda-beda dalam Al-Qur’an
Lebih dari dua puluh sahabat telah meriwayatkan hadits yang mengukuhkan bahwa Al-Qur’an telah diturunkan dalam tujuh dialek (سبعة احرف) Di sini kita tambahkan bahwa ada empat puluh pendapat ilmuwan tentang makna ahruf (secara literal: huruf-huruf). Beberapa dari kalangan mereka mengartikannya begitu jauh, tetapi kebanyakan sepakat bahwa tujuan utama adalah memberi kemudahan membaca Al-Qur’an bagi mereka yang tidak terbiasa dengan dialek orang Quraish. Konsesi diberikan melalui anugerah Allah
Sebelumnya telah kita lihat bagaimana dialek yang berlainan telah memicu perselisihan pada dasawarsa berikutnya, di mana mempercepat langkah ‘Utsman menyiapkan sebuah Mushaf dalam dialek orang Quraish. Akhirnya, jumlah semua ragam bacaan yang terdapat dalam kerangka lima Mushaf resmi tidak lebih dari empat.puluh karakter, dan seluruh pembaca yang ditugaskan mengajar Al-Qur an wajib mengikuti teks Mushaf tersebut clan agar meneliti sumber otoritas dari mana mereka mempelajari bacaan sebelumnya. Zaid bin Tsabit, orang yang begitu penting dalam pengumpulan Al-Qur’an, menyatakan bahwa (القراءة سنة متبعة) (“Seni bacaan (qira’at) Al-Qur’an merupakan sunnah yang mesti dipatuhi dengan sungguh-sungguh”).
Variasi adalah suatu istilah yang saya sebenarnya kurang begitu sreg memakainya. Dalam masalah tertentu, istilah itu secara definitif dapat memberi nuansa akan ketidakpastian. Jika pengarang ash menulis satu kalimat dengan caranya sendiri, kemudian rusak akibat kesalahan dalam menulis lalu kita perkenalkan prinsip ketidakpastian; akhirnya penyunting yang tak dapat mem¬bedakan mana yang betul dan mana yang salah, akan meletakkan apa yang ia sangka sesuka hatinya ke dalam teks, sedangkan lainnya dimasukkan ke dalam catatan pinggir. Demikian halnya dengan masalah variasi (ragam bacaan). Akan tetapi masalah Al-Qur’an jelas berlainan karena Nabi Muhammad saw, satu-satunya khalifah Allah sebagai penerima wahyu dan transmisinya, secara pribadi mengajarkan ayat-ayat dalam banyak cara. Di sini tak ada dasar keragu¬raguan, tak terdapat istilah kabut hitam maupun kebimbangan, clan kata `varian’ tampak gagal dalam memberi arti yang masuk akal. Kata multiple jauh dapat memberi penjelasan akurat, oleh karena itu, di sini saya hendak meng¬giring mereka pada pemakaian “multiple reading’ (banyak bacaan). Salah satu alasan yang melatarbelakangi fenomena ini adalah adanya perbedaan dialek dalam bahasa Arab yang perlu diberi tempat selekas mungkin, seperti telah kita bicarakan di atas. Alasan kedua dapat jadi merupakan sebuah upaya mem¬perjelas masalah dengan cara yang lebih baik, beberapa makna yang tersirat dalam ayat tertentu dengan menggunakan dua kata, yang semuanya muncul resmi dari perintah Allah Contoh yang sangat jelas dalam hal ini adalah Surah al-Fatihah, di mana ayat ke empat dibaca malik (Pemilik) atau malik (Raja) di hari pembalasan. Kedua-dua kata tadi diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, dan oleh karena itu menjadikannya bacaan yang banyak (multiple), bukan beragam (variant).
Tidak heran jika para orientalis menolak keterangan yang diberikan oleh pihak muslim dan ingin coba-coba merekayasa teori sendiri. Sebagai ke¬panjangan upaya membuat Al-Qur’an edisi kritikal, tujuannya ingin menyoroti variasi bacaan. Pada tahun 1926 Arthur Jeffery menyepakati bekerja sama dengan Prof Bergstrasser dalam menyiapkan sebuah arsip materi (potongan ayat-ayat Al-Qur’an) agar di suatu masa memungkinkan menulis sejarah perkembangan teks Al-Qur’an . Dalam pencariannya dia meneliti kurang lebih 170 jilid-beberapa sumber masih dapat dipercaya, namun banyak bernilai kelas murahan. Koleksinya tentang varian sampai 300 halaman dalam bentuk cetak, mencakup mushaf pribadi yang dihasilkan oleh sekitar tiga puluh orang ilmuwan. Namun pada kenyataan akhirnya Al-Qur’an tetaplah kitab petunjuk bagi mereka yang mempersiapkan diri dan mempantaskan diri untuk menerima petnjuk tersebut , Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan membawa kebenaran dan memebenarkan kitab-kitab samawi yang turun sebelumnya , Al-Qur’an kitab yang berbahasa Arab , dan Al-qur’an menantang bagi siapa saja yang menentangnya .

Rasam (Ragam Tulisan) Mushaf ‘Utsmani

Mushaf ‘Utsmani memiliki kaidah-kaidah penulisan. Para pakar dibidang ini meringkas kaidah-kaidah itu kedalam enam kaidah dasar, yaitu “hadzf”, “ziyadah”, “hamzah”, “badal”, “fashl”, dan “washl”.
1. Kaidah hadzf yaitu ringkasnya :
 alif dan ya nida dibuang.
Misalnya : يا يها الناس demikian pula alif dan ha tanbih, misalnya هاء نتم, dari kata “نا “ bila diikuti oleh dlamir, misalnya انجيناكم. Dari lafadz jalalah, الله dari kata اله. Dari kata الرحمن, dari kata سبحن. Setelah lam, dari kata semisal : .خلئف Antara dua lam, dari kata semisal :
لة .الكلا Dari segala bentuk tatsniyah, misalnya رجلن, dari setiap bentuk jamak mudzakar salim atau muanats salim, misalnya سمعون dan المؤمنت, setiap jamak yang mengikuti wazan مفاعل dan yang sejenis, misalnya مسجد dan النصرى, dari setiap kata bilangan, misalnya ثلث, dari basmalah, dari bentuk amar kata سا ل, dan lain-lain (kecuali yang masuk pengecualian).
 Ya dibuang dari setiap bentuk manqush yang bertanwin, baik rafa’ maupun jar.
Seperti غير باغ ولا عاد, juga dari kata-kata اطيعون, اتقون, خافون, ارهبون, فارسلون dan اعبدون (kecuali yang masuk pengecualian)
 Wawu dibuang, jika berada bersama wawu yang lain.
Misalnya لايستون dan فاوا الى الكهف
 Lam dibuang, jika diidghamkan kepada sejenisnya.
Misalnya اليل, الدي (kecuali yang masuk pengecualian). Masih ada hadzf yang tidak masuk kedalam kaidah diatas, misalnya pembuangan alif dari kata ملك, pembuangan ya dari kata ابراهم dan pembuangan wawu dari tempat fi’il berikut يدع الا نسان, ويمح الله الباطل, يوم يدع الداع, dan يدع الانسان.
2. Kaidah ziyadah, yaitu ringkasnya :
 Alif ditambahkan setelah wawu pada akhir setiap bentuk jamak atau yang disamakan dengan bentuk jamak.
Misalnya ملاقوا ربعم, بنوا اسرائيل, اولوا الالباب
 Setelah hamzah yang ditandai dengan wawu
Seperti مائة, مائتين, ااظنون, والرسول serta تالله تفتؤا, السبيل, didalam firman allah وتظنون با لله الظنون, واطعنا الرسول, فا ضلون السبيل
 Ya ditambahkan pada kata-kata نباء, اناء, من تلقاء, بايكم المفتنون dan بايد. Firman Allah swt والسماء بنيناها بايد
 Wawu ditambahkan pada kata-kata semisal اولو, اولائك, اولاء, dan اولات
3. Kaidah hamzah, yaitu ringkasnya :
 Jika ia sukun, maka ditulis dengan huruf harakat huruf sebelumnya, seperti ائدن, اؤتمن dan الباساء (kecuali yang masuk pengecualian)
 Jika ia berharokat, maka jika ia menjadi huruf awal dan diikuti oleh huruf tambahan, amak ia ditulis alif secara mutlaq, baik ia diharokati fathah ataupun kasrah. Misalnya ايوب, اولو, ادا, ساصرف, سانزل, dan فباي (kecuali yang masuk pada pengecualian)
 Jika hamzah berada ditengah, maka ia ditulis dengan jenis huruf harokatnya, seperti سال, سئل, dan تقرؤه (kecuali yang masuk pengecualian)
 Jika ia berada diakhir,maka ia ditulis dengan huruf dari jenis harokat huruf sebelumnya, seperti سباء, شاطئ dan لؤلؤ (kecuali yang masuk pengecualian).
 Jika huruf sebelumnya dibaca sukun, maka ia ditulis berdiri sendiri, seperti ملء الارض, يخرج الخبء (kecuali yang masuk pengecualian). Yang masuk pengecualian pada masing-masing cukup banyak.
4. Kaidah badal, yaitu ringkasnya :
 Alif ditulis wawu untuk menunjukan “tafkhim” pada kata-kata semisal الصلوة, الحيوة, الزكوة (kecuali yang masuk pengecualian)
 Ditulis ya bila merupakan ganti dari ya, misalnya يتوفاكم, يا حسرتا dan يا اسفا
 Ditulis ya juga pada kata-kata مالي, على, انى (dengan makna kaifa), متى, بلى, حتى dan لدى kecualiلدي الباب yang dalam surat yusuf ditulis dengan alif.
 Nun ditulis alif pada nun taukid khafifah dan didalam kata ادن
 Ha ta’nis ditulis ta maftuhah pada kata رحمت didalam surat al-Baqarah, al-‘Araf, Hud, Maryam, al-Rum dan al-Zukhruf. Juga pada kata نعمت dalam surat al-Baqarah, Ali Imran, al-Maidah, Ibrahim, al-Nahl, Luqman, Fathir dan al-Thur, pada kata لعنت الله, معصيت dalam surat al-Mujadilah. Juga pada kata-kata ان شجرت الزقوم, قرت عين, جنت نعيم dan بقيت الله, pada kata امرات yang diidlafahkan pada kata yang menunjukan suaminya, seperti امرات نوح, امرات عمران dan lain-lain.
5. Kaidah Fashl dan Washlyaitu ringkasnya :
 Kata ان dengan fathah hamzahnya disambungkan (washl) dengan لا bila jatuh sesudahnya. Dari kaidah ini, dikecualikan sepuluh tempat, antara lain ان لا تعبدوا dan ان لا تقولوا
 Kata من disambungkan dengan ما bila jatuh sesudahnya. Dari kaidah ini dikecualikan من ما ملكت ايمانكم dalam surat al-Nisa dan al-Rum, dan من ما رزقناكم dalam surat al-Munafiqun
 Kata عن disambungkan dengan kata ما kecuali pada firman Allah swt عن ما نهوا عنه
 Kata ان dengan fathah hamzahnya juga disambungkan dengan kata ما secara mutlaq, tanpa pengecualian
 Kata ان (dengan dibaca kasrah hamzahnya), disambungkan dengan ما yang jatuh sesudahnya, kecuali firman Allah swt وان ما نرينك
 Kata kata نعما, ربما, كانما, ويكان dan yang sejenis ditulis bersambung.
6. Kaidah kata-kata yang mengandung dua qiroah, ringkasnya, suatu kata bila dibaca dengandua wajah, maka ditulis menurut salah satunya, sebagaimana kata-kata berikut ditulis tanpa alif didalam mushaf, yaitu ملك يوم الدين, يخادعون الله, وواعدنا موسى, تفادوهم dan yang sejenisnya. Semuanya dibaca dengan menetapkan alif dan dengan membuangnya. Demikian pula, kata-kata berikut ditulis dengan ta maftuhah (mabsuthah), yaitu غاية الحب, انزل عليه اية didalam surat al-‘Ankabut ثمرة من اكمامها didalam surat Fushilat dan وهم فى الغرفة امنون didalam surat Saba. Selainnya masih banyak, namun apa yang kami sebutkan sudah cukup sebagai contoh.

Tujuh Huruf di dalam Mushaf-mushaf ‘Utsmaniyah

Mushaf-mushaf yang merupakan salinan ‘Utsman secara keseluruhan mencakup tujuh huruf yang terdiri atasnya Al-Qur’an diturunkan, mushaf itu disalin dari shahifah-shahifah yang dihimpun pada masa Abu Bakar dan yang kemudian berada ditangan Hafsah
Suatu hal yang disepakati adalah bahwa shahifah-shahifah itu, didalamnya Al-Qur’an ditulis lengkap dengan ketujuh hurufnya. Tidak ada riwayat yang menyebutkan, bahwa “Utsman memerintahkan para penulis untuk meninggalkan enam huruf dan hanya menetapkan satu huruf, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama. Umat harus mengetahui ketujuh huruf itu, meninggalkan selainnya, hanya berpegang teguh kepadanya dan setiap orang mau membenarkan qiroaah lain sepanjang masuk kedalam kategori tujuh huruf itu. Dari sinilah, kesatuan mereka terpelihara dan api fitnah akan padam, sejalan oleh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw sewaktu menghadapi pertikaian antar sahabat. Beliau menangani masalah mereka dengan menjelaskan, bahwa Al-Qur’an turun terdiri atas tujuh huruf, dan beliau meyakinkan pengertian itu kepada mereka serta menilai bahwa masing-masing yang bertikai benar qiraahnya dan begtulah ayat yang bersangkutan diturunkan. ‘Utsman dan pembesar-pembesar sahabat serta seluruh umat tidak hendak meninggalkan petunjuk seperti itu. Sebab, petunjuk terbaik adalah petunjuk Rasulullah saw.
Makna perkataan ‘Utsman kepada ketiga tokoh Quraisy :”jika kalian berselisih dengan Zaid mengenai sesuatu dari Al-Qur’an, maka tulislah menurut lidah Quraisy. Karena Al-Qur’an turun dengan lidah mereka”. Dan mereka pun melaksanakan intruksi itu. Sebagian memahami perkkataan itu, bahwa ‘Utsman memerintahkan untuk meninggalkan enam huruf lainnya dan hanya menggunakan satu huruf, yaitu huruf dan dialek Quraisy. Ini jelas tidak bisa diterima, karena beberapa alasan :
1. Bahwa redaksi itu tidak menunjukan pengertian seperti itu
2. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak kata yang berasal dari dialek-dialek lain dan tidak terdapa dalam dialek Quraisy
3. Tidak ada riwayat yang shahih yang sampai kepada kita, bahwa mereka meninggalkan sedikitpun dari tujuh huruf itu, apalagi mengambil satu saja dengan maninggalkan keenam lainnya. Seandainya mereka melakukan itu, niscaya akan diriwayatkan kepada kita secara mutawatir. Sebab ini merupakan masalah besar, yang mendorong diriwayatkan secara mutawatir. Maksimal riwayat yang sampai kepada kita hanya menjelaskan bahwa mereka berbeda pendapat tentang kata التابوت didalam firman Allah swt :
   •         
“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu…….”
Mereka berselisih, apakah kata itu ditulis dengan ta maftuhah atau dengan ta marbuthah. Lalu ‘Utsman memerintahkanmereka untuk menulisnya dengan ta maftuhah, karena begitulah menurut dialek (sub bahasa) Quraisy.

Ini menjelaskan kepada kita, bahwa ‘Utsman memaksudkan perkataannya diatas sebagai ikhtilaf dalam masalah penulisan, bukan pada kata-kata, sub bahasa ataupun huruf. Atau dia menghendaki makna, bahwa sub bahasa Quraisy memenuhi kriteria kemutawatiran, lebih dari yang lain. Sehingga hendaknya mereka mengambilnya jika terjadi silang pendapat, demi satu tujuan semata, yaitu kemutawatiran yang mereka syaratkan dalam peraturan penulisan dan penghimpunan.

Tulisan dan Ejaan Bahasa Arab dalam Al-Qur’an

Dalam beberapa bahasa, karakter tertentu memiliki dua fungsi; dalam bahasa Latin, huruf i dan u kedua-duanya berfungsi sebagai vokal dan kon¬sonan, dengan fungsi konsonan i berbunyi seperti y dalam kata yes. Dalam beberapa teks konsonan i ditulis dengan j. Dalam Latin juga, huruf b jika diikuti dengan s maka berbunyi p (contohnya abstuli = apstuli), dan itu juga sama dengan b dalam bahasa Inggris Menarik sekali, huruf j hanya muncul baru¬-baru saja (pada abad 16 atau 17 Masehi) lama setelah media masa cetak di¬temukan. Dalam bahasa Jerman, kita dapatkan vokal yang diubah menjadi tanda.yang ada titik di atas (umlaut) contohnya a, o, u, yang asalnya dieja masing-masing ae, oe, ue, Huruf b bisa berbunyi b dalam kata ball (ketika permulaan) atau berbunyi p dalam kata tap (ketika diakhir huruf atau suku kata), sedangkan d bisa berbunyi d atau t. Huruf g bisa berubah-ubah menjadi enam bunyi yang berbeda menurut dialek lokal.
Fenomena yang sama terjadi dalam bahasa Arab. Beberapa suku me¬nyebut kata حتى (hatta) dengan عتى (‘atta), dan صراط (shirat) dengan سراط(sirat), dan sebagainya, dan hal ini disebabkan oleh banyak perbedaan dalam bacaan yang terkenal. Sama juga huruf ا, و, ي mempunyai dua fungsi sebagai konsonan dan vokal, sebagai mana dalam bahasa Latin. Masalahnya adalah bagaimana penulis dan penyalin Arab dulu (kuno) menggunakan tiga huruf ini memerlukan perhatian yang khusus. Metode mereka, walaupun kelihatan rada memusingkan bagi kita saat ini, namun cukup jelas bagi mereka. Dari pen¬dahuluan singkat ini, sekarang kita hendak selidiki sistem ortografi (ejaan Arab) pada zaman awal Islam.
Gaya Tulisan pada zaman NAbi Muhammad saw
Di Madinah Nabi Muhammad mempunyai penulis yang banyak ber¬asal dari beberapa suku dan tempat, yang sudah terbiasa dengan dialek dan ejaan yang berbeda-beda menurut adat masing-masing. Contohnya, Yahya berkata bahwa dia melihat surat yang dibacakan oleh Nabi Muhammad saw kepada Khalid bin Sa’id bin al-‘As yang memuat beberapa kejanggalan: كان (kana) ditulis كون(kawana), dan حتى(hatta) dieja . حتا Dokumentasi yang lain, yang diserahkan Nabi saw. kepada Razin bin Anas as-Sulami, حتى juga diejadengan حتا Menggunakan dua y (يي ) yang sudah lama berbeda dengan satu y, didapatkan dalam kata باييد dan غيير(sudah jelas tidak menggunakan titik) pada surat-surat Nabi saw. Satu dokumentasi abad 3 hijrah meng¬gambarkan beberapa surat dalam banyak cara. Banyak sekali bukti-bukti mengenai perbedaan dalam gaya tulisan pada zaman permulaan Islam.
Kajian tentang Ortografi (Ejaan) Mushaf ‘Utsmani
Telah banyak buku yang menyinggung tentang ejaan yang janggal dalam Mushaf ‘Utsmani, dengan lebih detail lagi khususnya dalam menganalisis contoh-contoh ejaan yang menyeleweng. Di antara beberapa bab dalam al-¬Muqni`, contohnya di bawah judul (heading), “Examination of Mushaf spellings where (vowels are) dropped or listed (Meneliti ejaan mushaf yang vokalnya Dibuang Atau Disebutkan). (Sub judul): Examination of words where alif ( I ) is dropped for abbreviation (Meneliti kata-kata yang ada alifnya dibuang untuk tujuan singkatan).” Al-Dani mengutip Nafi bin Abi Nu’aim (70¬167 Hijrah), pengarang asli, kemudian membuat daftar ayat-ayat yang di dalamnya ada alifyang dibaca tapi tidak ditulis:
Surah: ayat Ejaan yang digunakan dalam
Mushaf ‘Utsman Bacaan yang sebenarnya
2:9 يخدعون الله يخادعون الله
2:51 واد وعدنا موسى واد واعدنا موسى
20:80 ووعد نكم وواعد ناكم

Lebih dari itu, alif dalam mushaf ‘Utsmani semuanya tidak terdapat pada kata السموات dan سموت (semuanya 190 tempat), kecuali dalam ayat 41:21 di mana ejaannya adalah السموت. Membaca mushaf mana saja yang diterbitkan oleh kompleks Percetakan Raja Fahd di Madinah, saya telah memeriksa satu contoh ejaan yang janggal, dan sementara ini, dalam penelitian saya tidak mendapatkan ejaan yang bertentangan dengan hasil tabulasi Nafi’. Dua vokal lagi yang bersamaan dengan huruf hamzah (ء) juga menggambarkan kecenderungan perubahan yang dinamis yang tidak hanya terdapat pada mushaf ‘Utsmani. Beberapa sahabat yang menulis naskah milik pribadi banyak yang memasuk¬kan ejaan janggal yang kemungkinan disebabkan oleh perbedaan wilayah dalam masalah ejaan. Di sini ada dua contoh diantaranya
a. ‘Abdul-Fattah ash-Shalabi menemukan manuskrip AI-Qur’an klasik (tua) yang penulisnya menggunakan dua ejaan yang berbeda pada kata على(contohnya على dan علا ) di halaman yang sama.
b. Malik bin Dinar melaporkan bahwa ‘Ikrima membaca ayat 17:107 dengan fas’al ( فسال ), walaupun tertulis fasal (فسل), Malik menenangkan akan hal ini dengan menyatakan bahwa itu sama dengan bacaan qalaa (قال) ketika kata itu ditulis qala (قل) yang merupakan kependekan umum di Mushaf Hejazi. Dengan adanya bacaan yang berdasarkan tradisi belajar secara lisan, adanya kekurangan seperti ini tidak akan menyebabkan kerusakan teks Kitab Suci. Kalau seorang guru membaca قالوا (baca dengan qalu, alif di akhir tidak dise¬butkan karena ada peraturan grammar tertentu) dan murid itu menuliskannya قالو (mengikuti standar dia sendiri) tetapi membacakannya dengan betul seperti قالوا , lalu ejaan vokal yang janggal tidak mengandung pengaruh yang negatif. Ibn Abi Dawud meriwayatkan kejadian di bawah ini,
” Yazid al-Farsi berkata, “‘Abaidullah bin Ziyad menambahkan dua ribu huruf ( حرف ) dalam mushaf ketika al-Hajjaj bin Yusuf datang dari Basra dan diberi tahu tentang ini, dia meminta siapa orangnya yang mem¬beritahukan tentang perubahan yang dibuat `Ubaidullah. Mereka men¬jawab Yazid al-Farsi. Oleh karena itu, al-Hajjaj memanggil saya; Lalu saya pergi menemuinya dan saya tidak ragu bahwa dia akan mem¬bunuhku. Dia menanyakan mengapa ‘Ubaidullah minta untuk menambah dua ribu huruf ini. Saya menjawab: Mudah-mudahan Allah memelihara anda ke jalan yang lurus; dia telah dibesarkan di masyarakat tingkat bawah Basra (contohnya jauh dari lingkungan terpelajar, di suatu daerah di mana orang tidak merasakan citra kesusastraan dan keindahan). Ini yang saya sayangkan, karena al-Hajjaj berkata bahwa saya berkata benar dan silahkan tinggalkan saya. Apa yang diinginkan oleh ‘Ubaidullah adalah hanyalah ingin meletakkan dasar ukuran ejaan dalam mushafnya, menulis kembali kata-kata (قالو) menjadi (قالوا) dan (كنو) menjadi (كانوا)”.
Seperti halnya perubahan tidak menyebabkan kehancuran teks melainkan justru menekankan beberapa huruf hidup (vowels) yang telah ditiadakan atau dibuang untuk penggunaan singkatan, al-Farsi meninggalkan persahabatan al-¬Hajjaj tanpa kesan negatif. Kembali merujuk kepada AI-Qur’an, kita menemukan bahwa kata-kata قالوا tercatat sebanyak 331 kali, sedangkan كانوا sebanyak 267 kali; jumlah seluruhnya ada 598 kata. Mengingat bahwa ‘Ubaidullah menambah ekstra dua alif di setiap ini maka mencapai sekitar 1,200 huruf ekstra. Jumlah dua ribu (sebagaimana disebutkan dalam riwayat itu) kemungkinan besar hanya kira-kira saja.
Riwayat Ibn Abi Dawud mengalami kekurangan dan isnadnya pun lemah menyebabkan banyak ilmuwan yang menolak. Tetapi jika ternyata ini juga betul, apa yang menjadikan `Ubaidullah salah dalam membuat naskah pribadi tak ada tujuan lain kecuali hendak menjadikannya sesuai dengan kaidah ejaan yang berlaku. Di awal Surah al-Baqarah saja ada empat contoh ini. Kebiasaan sebagian besar mushaf yang dicetak sekarang mengikuti sistem ejaan Mushaf ‘Utsmani; kata مالك (Malik) contohnya ditulis ملك (Malik) mengikuti ejaan (ortografi) ‘Utsmani, walaupun alif kecil diletakkan pada mim untuk menjelaskan penyebutan bagi pembaca zaman sekarang. Sama juga dengan beberapa ayat yang masih mengeja قال dengan قل menunjukkan bahwa kependekan ini adalah berlaku pada zaman `Utsman dan dia juga mengizinkan untuk memasukan kedua-duanya.
Imam Malik telah ditanya tentang huruf hidup (vowels) tertentu yang tidak dibaca di dalam Mushaf: dia tidak mau menghilangkannya. Abu `Amr (al-Dani) memberi komentar bahwa ini merujuk pada tambahan huruf hidup yang tidak dibaca; waw dan alif, seperti waw dalam,الربوا alif dalam,او لا ادبحنه dan juga ya’ dalam افاين مت” Ini menunjukkan bahwa imam Malik menentang untuk mengubah ejaan mushaf secara resmi; sedangkan penulis Al-Qur’an pada zaman itu telah memilih memasukkan kaidah ejaan yang berbeda dalam naskah pribadi mereka, dalam pikirannya, ejaan ketentuan ini tidak pernah diterima sebelunmya atau menyetujui ortografi Mushaf ‘Utsmani.
Bagian Tanda Titik (Nuqat) dalam Mushaf Zaman Dulu
Setelah kita mendiskusikan ejaan (ortografi) sekarang kita beralih pada masalah tulisan (palaeografi). Seperti dalam bab sebelumnya kita menelusuri palaeografi Arab dalam perspektif sejarah, sekarang kita hendak telusuri dalam konteks AI-Qur’an dan meneliti perkembangannya. Sebagian besar dari diskusi ini akan berputar di sekitar permasalahan nuqat (نقط: titik ) yang mempunyai dua makna pada zaman awal Islam:
1. Kerangka Tanda Titik: Ini adalah tanda titik yang terletak baik di atas atau di bawah guna membedakan huruf lain yang kerangkanya sama, seperti h (ح), kh (خ), dan j (ج). Ini disebut sebagai nuqath al-I jam (نقط الاعجام), sistem ini sudah terkenal pada zaman Arab sebelum Islam atau setidaknya pada awal Islam¬ sebelum Mushaf ‘Utsmani,
2. Tanda Diakritikal (dibawah atau diatas)
Ini dalam bahasa Arab disebut tasykil (تشكيل : seperti dammah, fathah, kasrah) atau nuqath al-I ‘rab (نقط الاعراب); Ini bisa berbentuk titik atau tanda yang konvensional yang dibuat oleh Abu al-Aswad al-Du’ali (10 sebelum hijrah – 69 H./ 611 – 688 M.

Tulisan Arab Kuno dan Kerangka Tanda Titik
Rasm al-Khat Al-Qur’an dalam Mushaf ‘Utsmani tidak memuat tanda titik untuk membedakan karakter seperti b (ب), t (ت), dan seterusnya, dan juga tidak ada baris diakritikal (bawah, atas) seperti fathah, dammah, dan kasrah. Sebenarnya ada bukti kukuh yang menunjukkan bahwa konsep tanda titik ini bukan sesuatu yang baru untuk orang Arab, sudah diketahui sebelum Islam datang. Walaupun bagaimana tanda titik ini tidak ada pada mushaf-mushaf klasik.
1. Batu nisan Raqush, Inskripsi Arab sebelum Islam yang tertua, tahun 267 M., mencatat tanda titik di atas huruf dhal, ra’ dan shin.
2. Sebuah inskripsi, kemungkinan sebelum Islam, di Sakaka (Arab Utara), ditulis dalam skrip yang rada aneh
3. Inskripsi itu (seperti kombinasi karakter antara Nabatean dan Arab) memuat tanda titik yang menggabung dengan huruf Arab berikut ini: n ( ن) b (ب), dan t (ت ).
4. Dokumentasi dalam dua bahasa di atas kertas papyrus, tahun 22 H. disimpan di Osterreichische Nationalbibliothek di Vienna.
5. Dokumentasi ini mendapat sambutan sejak zaman pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khattab. Karakter Bahasa Arab di bawah ini mempunyai tanda titik: n (ن), kh (خ), dh ( د), sh (ش), dan z (ز).
6. Sebuah inskripsi dekat Mekah, tahun 46 H., mencatat satu tanda titik di atas huruf b (ب).
7. Dam Mu’awiyah dekat Madinah mempunyai satu inskripsi dengan memasukkan tanda titik di atas huruf t (ت).
8. Dam Mu’awiyah yang lain. Ini dekat Ta’if dengan bertuliskan satu inskripsi bertanggalkan tahun 58 H.

Sebagaimana tampak di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sampai tahun 58 hijrah, huruf-huruf di bawah ini sudah diberi tanda titik guna membedakan huruf lain yang bentuknya sama: n (ن), kh (خ), dz (د ), sy (ش), z (ز), ya (ي ), b (ب ), ts (ث) f (ف), dan t (ت). Jumlah semuanya sepuluh karakter. Melihat pada tiga inskripsi pertama, yang ada sebelum Mushaf ‘Utsmani, kita menemukan bahwa titik-titik itu sudah diberi ukuran bentuk yang sama dengan apa yang digunakan sekarang ini.
Muhammad bin ‘Ubaid bin Aus al-Gassani, sekretaris Mu’awiyah, menyatakan bahwa Mu’awiyah meminta dia untuk meletakkan beberapa tarqisy (ترقيش) dalam dokumentasi tertentu. Menanyakan apa yang di¬maksudkan dengan tarqish, dia diberitahukan, “Untuk memberi karakter pada tanda titik yang tepat.” Mu’awiyah menambahkan bahwa dia telah melakukan hal yang sama dengan satu dokumentasi yang dia telah tulis atas nama Nabi Muhammad saw.” Al-Gassani adalah seorang yang tidak dikenal di kalangan ahli hadits (traditionist), dan inilah yang melemahkan riwayatnya, tetapi kita tidak bisa mengurangi nilai kejadian ini yang merupakan fakta yang tak mungkin dibantah, yang membuktikan bahwa tanda titik telah digunakan pada mushaf klasik.
Penemuan Tanda Diakritikal
Sebagaimana tersebut di atas bahwa tanda diakritikal ini dalam Bahasa Arab disebut tasykil yang dibuat oleh Abu al-Aswad al-Du’ali (w. 69 H./ 688 M.). Ibn Abi Mulaikah melaporkan bahwa pada zaman pemerintahan `Umar, seorang Badui datang meminta seorang guru untuk membantu belajar Al-¬Qur’an. Seseorang mengajar sukarela (volunteer), tetapi kemudian melakukan kesalahan ketika mengajar yang menyebabkan ‘Umar memberhentikannya, membetulkan, dan kemudian menyuruh agar yang mengajar Al-Qur’an hanya orang yang mapan Bahasa Arabnya. Dengan kejadian itu ‘Umar tidak lagi bimbang dan kemudian minta Abu al-Aswad al-Du’ali untuk mengarang sebuah risalah tentang tata Bahasa Arab.
Al-Du’ali melaksanakan tugasnya dengan ikhlas, yang akhirnya dia menetapkan empat tanda diakritikal yang akan diletakkan pada ujung huruf tiap kata. Ini berbentuk titik-titik merah (untuk membedakannya dari kerangka tanda titik yang berwarna hitam), dengan setiap posisi titik memberikan arti pada tanda tertentu. Satu titik terletak sesudahnya, di atas, atau di bawah huruf menjadikan masing-masing dammah, Fathah, atau kasrah sebagaimana mesti-nya. Demikian halnya dengan titik yang terletak setelah, di atas atau di bawah huruf berbentuk dammah Tanwin (dua dammah), Fathah tanwin, atau kasrah tanwin sebagaimana mestinya (sinopsis ini sedikit kelihatan adil pada ketentuan sebenarnya dan agak jelas). Pada zaman pemerintahan Mu’awiyah (w. 60 H/ 679 M.), dia menerima perintah untuk melaksanakan sistem tanda titik ke dalam naskah mushaf, yang kemungkinan dapat terselesaikan pada tahun 50 H. / 670 M.
Skim (kerangka) ini kemudian diturunkan dari al-Du’ali ke generasi penerusnya melalui usaha Yahya bin Ya’mar (w. 90 H./ 708 M.), Nasr bin `Asim al-Laitsi (w. 100 H./718 M) dan Maimun al-Aqran, sampai kepada Khalil bin Ahmad al-Frahidi (w. 170 H. / 186 M.) yang akhirnya mengubah corak (pattern) ini dengan menggantikan tanda titik merah berbentuk menyerupai karakter tertentu. Beberapa abad kemudian skim kerangka al¬ Frahidi menggantikan sistem sebelumnya.
Setiap pusat (kota) kelihatannya pada awalnya mempraktikkan kaidah yang berlainan. Ibn Usyta melaporkan bahwa Mushaf Isma’il al-Qust, Imam Mekah (100-170 H. / 718-186 M.) memakai sistem tanda titik yang tidak sama dengan mushaf yang digunakan oleh orang Irak, sedangkan al-Dani men¬catat bahwa ilmuwan San’a’ mengikuti kerangka lain. Sama juga, bentuk atau contoh yang digunakan orang Madinah berbeda dengan yang digunakan oleh orang Basra; pada ujung abad pertama hijrah bagaimanapun, kaidah orang Basra semakin meluas sehingga orang-orang Madinah pun mengadopsinya. Perkembangan berikutnya mulai memperkenalkan tanda titik warna-warni, setiap tanda diakritikal telah diberi warna yang berbeda.
Penggunaan Secara Paralel dari Dua Skema Tanda Diakritikal yang Berbeda
Skim diakritikal Khalil bin Ahmad al-Frahidi menyebar dengan cepat dalam pengenalannya bukan saja pada teks Al-Qur’an, jadi untuk tujuan mem¬bedakan skrip dan tanda diakritikal yang digunakan untuk naskah Al-Qur’an selalu dijaga sehingga skrip dan tanda ini dibedakan dari skrip dan tanda yang digunakan pada buku-buku lain, walau bagaimanapun beberapa ahli kaligrafi secara perlahan sudah mulai menggunakan sistem diakritikal yang baru dalam Al-Qur’an.
Sejarah kodifikasi Al-Qur’an

Pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an dilakukan dalam dua periode, yaitu periode Nabi saw dan periode Khulafaur Rasyidin. Telah banyak riwayat dan karya ulama yang membahas tentang sejarah kodikfikasi Al-Qur’an. Semuanya dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, bahkan dapat mematahkan tuduhan-tuduhan para orientalis dan pembenci Islam. Diantara sejarah kodifikasi tersebut secara ringkas adalah :

a. Pada masa Nabi

Pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an di masa Nabi saw terbagi atas dua kategori :
 Pengumpulan dalam dada, dengan cara menghafal, menghayati dan mengamalkannya.
Al-qur’an turun kepada Nabi saw mulanya, perhatian beliau sepenuhnya tertuju kepada penghafalan terhadapnya. Kemudian beliau membacakannya kepada orang-orang, sedikit demi sedikit, agar mereka juga mampu menghafalnya dengan baik. Pertimbangannya yang sangat mendesak adalah karena beliau seorang Nabi yang ummi yang diutus oleh Allah swt kepada masyarakat yang ummi pula. Allah swt berfirman :
                    
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”
Salah satu watak ummi adalah mengerahkan segenap hafalannya terhadap apa yang dianggapnya penting. Lebih-lebih jika mereka diberi kekuatan hafalan yang lebih, maka akan membuat mereka lebih mudah menghafal. Demikian pula bangsa Arab ketika Al-Qur’an turun. Mereka memiliki watak-watak kearaban yang khas, yangantara lain cepat hafal dan keenceran hati, sehingga hati mereka merupakan senjata , akal mereka merupakan lembaran nasab dan sejarah mereka, dan hafalan mereka merupakan buku-buku sya’ir dan kebanggaan mereka. Kemudian turunlah Al-Qur’an yang mengagetkan mereka dengan kejelasannya, menarik perhatian mereka dengan kekuatannya, dan mempengaruhi mereka dengan kebaikan redaksi dan pengertiannya. Al-Qur’an berhasilkan membangkitkan kehidupan baru mereka, setelah mereka sadar bahwa Al-Qur’an adalah spirit hidup. Al-Qur’an Allah hujamkan kepada Nabi saw dengan jaminannya. Dalam ayat disebutkan :
       •       •    •   
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al- Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya” .

Disinilah, Nabi saw menjadi penghimpun Al-Qur’an didalam hati beliau yang mulia, tuan para hafidz dimasa beliau, dan menjadi rujukan kaum muslimin dalam segala persoalan yang menyangkut Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya. Beliau membacakannya kepada masyarakat sedikit demi sedikit, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt. Dengan Al-Qur’an itulah beliau menghidupkan malam dan menghiasi shalat. Jibril as tiap tahun membacakan ulang dihadapan beliau sekali. Dan pada tahun terakhir, dua kali. ‘Aisyah dan Fathimah ra berkata : “kami mendengar Rasulullah saw bersabda : “sesungguhnya Jibril as membacakan Al-Qur’an kepadaku sekali tiap tahun. Dan pada tahun ini beliau membacakannya kepadaku sebanyak dua kali. Saya yakin ini pertanda ajalku (telah dekat)”.
Adapun para sahabat ra, kitabullah menempati posisi pertama perhatian mereka. Mereka berlomba-lomba menghafalkannya, mengkajinya dan memahaminya, disamping berlomba-lomba dalam hal kadar hafalan mereka. Kadang-kadang ada gadis yang rela dinikahi dengan mahar dengan sebuah surat yang diajarkan suami kepadanya. Mereka menghindari nyenyaknya tidur dan istirahat malam demi menikmati malam dengan membaca Al-Qur’an dan shalat, sementara orang-orang sedang tidur lelap. Bahkan orang-orang yang melewati rumah-rumah sahabat tengah malam akan mendengar suara seperti suara gemuruhnya lebah, karena mereka sedang membaca Al-Qur’an. Rasulullah saw menghidupkan mereka dengan Al-Qur’an, yang turun kepada beliau dari Tuhannya. Kepada yang jauh, beliau mengirim utusan untuk mengajarinya. Misalnya, beliau mengutus Mush’aib bin ‘Umair dan ibnu Ummi al-Maktum ke Madinah sebelum beliau hijrah untuk mengajarkan Islam dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Beliau juga mengutus Mu’adz bin Jabal ke Makkah setelah beliau hijrah, untuk mengajarkan Islam dan Al-Qur’an kepada warganya. Berdsarkan klasifikasi masa sebelum dan sesudah hijrah, maka kegiatan pengumpulan dan pengajaran AL-Qur’an terbagi kepada :

Periode Mekah
 Nabi Muhammad saw Sebagai Guru Al-Qur’an
Sebagian kitab suci Al-Qur’an diturunkan di Makkah; imam al-Suyuti mendaftar urutan terperinci tentang surah-surah yang diturunkan. Al-Qur’an dapat bertindak sebagai alat petunjuk bagi jiwa yang kalut di mana terbukti kehidupan seorang penyembah patung berhala akan selalu merasa tidak puas, pengembangannya yang awalnya melakukan penindasan terhadap masyarakat muslim menyebabkan mereka mengadakan kontak dengan Nabi Muhammad.
1. Orang pertama di luar jalur keturunan keluarga Nabi Muhammad yang masuk Islam adalah Abu Bakr. Nabi Muhammad mengajak masuk Islam dengan membaca beberapa ayat Al-Qur’an.
2. Kemudian Abu Bakar membawa teman-teman terdekat menemui Nabi Muhammad, seperti `Utsman bin ‘Aff-an, `Abd al-Rahman bin ‘Auf, al-Zubair bin al-‘Awwam, Talhah, dan Sa’d bin Abi Waqqas. Nabi Muhammad mengenalkan agama baru dengan membacakan ayat-ayat AI-Qur’an dan yang menyebabkan mereka masuk Islam.
3. Abu ‘Ubaidah, Abu Salamah, `Abdullah bin al-Arqam dan ‘Utsman bin Maz’zun menemui Nabi Muhammad bertanya tentang hal ihwal Islam. Nabi Muhammad menjelaskan dengan membaca Al-Qur’an dan kemudian mereka menerima Islam.
4. Ketika ‘Utbah bin Rabi’ah pergi menemui Nabi Muhammad membawa usulan atas nama orang Quraisy, menawarkan rayuan dengan harapan ia dapat meninggalkan misinya, Nabi Muhammad dengan sabar menunggu sebelum ia menjawab dan kemudian berkata, “Sekarang dengarkan ucapan saya,” dan kemudian la membaca beberapa ayat sebagai respon terhadap tawaran mereka.
5. Beberapa orang Kristen dari Ethiopia mengunjungi Nabi Muhammad ke Makah menanyakan tentang Islam. Beliau menjelaskan pada mereka dengan membaca Al-Qur’an dan mereka masuk Islam.
6. As’ad bin Zurara dan Dhakwan pergi dari Madinah ke Makah menemui ‘Utbah bin Rabi’ah tentang persaingan kehormatan ketika mereka mendengar berita Nabi Muhammad. Mereka berkunjung dan mendengar bacaan Al-Qur’an, dan akhirnya masuk Islam.
7. Sewaktu musim haji Nabi Muhammad menemui delegasi dari Madinah. Beliau menjelaskan tentang rukun Islam dan membaca beberapa ayat Al–Qur’an. Semuanya masuk Islam.
8. Pada bai’ah ‘aqabah kedua Nabi Muhammad, lagi-lagi, membaca Al-Qur’an
9. Nabi Muhammad membaca untuk Suwaid bin Samit di Mekah.
10. ‘Iyas bin Mu’adz menuju Makah mencari aliansi kekuatan dengan pihak Quraisy. Nabi Muhammad mendatangi dan membacakan AI-Qur’an.
11. Rafi bin Malik al-Anshari merupakan orang pertama yang membawa Surah Yusuf ke Madinah.
12. Nabi Muhammad mengajarkan pada tiga orang sahabat tentang Surah Yunus, Taha, dan Hal-ata secara berurutan.
13. Ibn Umm al-Maktum menemui Nabi Muhammad meminta beliau membaca Al-Qur’an.
 Para Sahabat Sebagai Guru
• Ibn Mas’ud adalah orang pertama dari sahabat yang mengajarkan Al-Qur’an di Makah.
• Khabbab mengajar Al-Qur’an pada Fatimah (saudara perempuan ‘Umar bin Khattab) dan suaminya, Sa`id bin Zaid.
• Mus’ab bin ‘Umair dikirim oleh Nabi Muhammad ke Madinah sebagai guru mengaji Al-Qur’an.

 Hasil Kebijaksanaan Pendidikan pada Periode Makkah
Arus kegiatan pendidikan di Mekah berjalan tanpa dapat- dihalangi kendati berhadapan dengan berbagai hambatan dan siksaan yang dikenakan secara paksa dari masyarakat; sikap tegas merupakan bukti yang meyakinkan akan keterikatan dan rujukan mereka terhadap Kitab Allah. Para sahabat selalu menanamkan ayat-ayatnya pada kabilah mereka melewati batas lembah kota Makah yang dapat memperkuat tumbuhnya keislaman sebelum berhijrah ke Madinah. Berikut adalah beberapa contoh yang mereka lakukan:
• Saat Nabi Muhamamd sampai ke Madinah, beliau diperkenalkan dengan Zaid bin Tsabit, anak lelaki berusia sebelas tahun yang telah menghafal sebanyak enam belas Sarah Al-Qur’an.
• Barra menjelaskan bahwa ia sudah mengenal seluruh Surah al-Mufashshal (al-Mufashshal terdiri dari Surah al-Qaf hingga akhir seluruh Al-Qur’an) sebelum Nabi Muhammad sampai ke Madinah.
Akar utama ajaran Al-Qur’an berkembang ke berbagai masjid di mana melalui dinding temboknya bergema suara Al-Qur’an yang dibacakan sebelum Nabi Muhammad menetap di Madinah. Menurut al-Waqidi, masjid pertama yang diberkahi bacaan Al-Qur’an adalah masjid bani Zuraiq

Periode Madinah
 Nabi Muhammad Sebagai Maha Guru Al-Qur’an
• Begitu sampai di Madinah, Nabi Muhammad membuat Suffah di dalam masjid yang berfungsi sebagai tempat belajar pemberantasan buta huruf, dengan menyediakan makanan, dan tempat tinggal.
• Lebih kurang sembilan ratus sahabat menerima tawaran tersebut. Saat Nabi Muhammad mengajarkan Al-Qur’an, yang lainnya seperti ‘Abdulah bin Sa`id bin al-‘As, `Ubadah bin al-Samit, dan Ubay bin Ka’b mengajar¬kan dasar-dasar penting membaca dan menulis.
• Ibn ‘Umar sekali memberi pujian, “Nabi Muhammad membaca pada kita dan jika beliau membaca ayat sajadah yang menyuruh bersujud, beliau mengucapkan Allahu Akbar lalu sujud.
• Banyak di antara para sahabat menjelaskan bahwa Nabi Muhammad membaca surah seperti itu kepada mereka secara pribadi termasuk orang-orang terkemuka, seperti Ubayy bin Ka’b, ‘Abdullah bin Salam, Hisyam bin Hakim, ‘Umar bin Khattab, dan Ibn Mas’ud.
• Beberapa utusan sampai ke Madinah dari luar daerah dan diberikan pada orang setempat untuk memberi perlindungan bukan saja di bidang pangan dan penginapan, melainkan juga dalam hal pendidikan. Nabi Muhammad bertanya pada mereka guna mengetahui tingkat pelajaran mereka.
• Setiap diberi wahyu, Nabi Muhammad cepat-cepat membacakan ayat yang baru beliau terima kepada semua sahabat dan kemudian membacakan kepada para wanita dalam pertemuan terpisah.
• ‘Utsman bin Abi al-‘As selalu ingin belajar Al-Qur’an dengan Nabi Muhammad dan jika tidak menemuinya, beliau mendatangi rumah Abu Bakar.

 Dialek yang digunakan oleh Nabi Muhammad dalam Mengajarkan Al-Qur’an di Madinah
Adalah fakta yang cukup kuat bahwa sekalipun manusia berbicara bahasa namun tetap mengalami perbedaan dialek yang mencolok dari satu tempat ke tempat lain. Dua orang misalnya, kendati tinggal di New York dari kultur dan sosio-ekonomi yang berlainan akan memiliki aksen yang berbeda. Demikian juga orang-orang yang tinggal di London akan berbeda dengan mereka yang tinggal di Glasgow atau Dublin. Dalam hal bahasa Inggris, terdapat perbedaan sistem ejaan Amerika dan Inggris clan mungkin saja ter-dapat kesamaan dalam ejaan namun berbeda dalam intonasi.
Marilah kita amati situasi negara-negara Arab masa kini dalam peng-gunaan kata-kata qultu (قلت : saya bicara) sebagai satu permasalahan, Orang Mesir mengungkapkan dengan kata ult, diganti dengan u dari kosakata q. Orang Yaman mengatakan dengan ungkapan gultu kendati dalam menulis kata¬kata semua orang Arab akan mengatakannya secara identik. Contoh lain: seorang bernama Qasim akan disebut oleh orang Teluk Parsi dengan istilah Jasim; orang yang sama mengganti j dengan y, maka kata-kata rijal (orang lelaki) bisa berubah menjadi raiyyal dalam ungkapan.
Di Mekah mayoritas Muslim memiliki latar belakang budaya yang beragam. Karena Islam berkembang melewati batas kesukuan dan mencakup seluruh Jazirah Arab, berbagai aksen terjadi kontak satu sama lain. Pengajaran Al-Qur’an pada suku yang berbeda pun dirasa perlu dan mengharuskan mereka meninggalkan dialek asli secara keseluruhan dan meninggalkan dialek Arab Quraisy di mana Qur’an diwahyukan, rasanya suatu masalah yang dirasa sulit untuk dilakukan. Guna memfasilitasi masalah tersebut, Nabi Muhammad mengajarkan mereka Al-Qur’an dengan dialek mereka. Dalam satu kesempatan dua orang atau lebih dari suku yang berbeda boleh juga belajar Al-Qur’an dalam dialek mereka, jika dirasa perlu.
 Para Sahabat sebagai Pengajar Al-Qur’an
‘Abdullah bin Mughaffal al-Muzani mengatakan bahwa saat seorang Arab hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad menugaskan seseorang dari kaum Anshar pada individu dengan mengatakan: “biarkan ia memahami Islam dan mengajarkannya tentang Al-Qur’an”. Hal yang sama terjadi pada diri saya, katanya, “sebagaimana saya dipercaya karena pada salah satu dari orang Anshar yang telah membuatku paham agama dan mengajarku Al-Qur’an.” Bukti nyata menunjukkan bahwa para sahabat secara aktif ambil bagian dalam kebijaksanaan, seperti pada periode Madinah. Riwayat berikut mewakili, seperti biasa, hanya sebagian dari petikan bukti-bukti yang ada pada kita.
• ‘Ubadah bin al-Samit mengajarkan Al-Qur’an pada masa kehidupan Nabi Muhammad.
• Ubbay juga mengajarkan Al-Qur’an pada masa kehidupan Nabi Muhammad di Madinah, sehingga secara terus-menerus ia mengajar seorang buta di rumahnya.
• Abu Sa’id al-Khudri menjelaskan bahwa ia duduk dengan sekelompok imigran dari Mekah sewaktu seorang qari’ membaca untuk mereka.
• Sahl bin Sa`id al-Anshari berkata, “Nabi Muhammad mendatangi kita sewaktu kami membaca bergantian…”
• `Uqbah bin `Amir memberi komentar, “Nabi Muhammad hadir pada kami sewaktu kami berada di dalam masjid mengajar satu sama lain tentang Al-Qur’ an.”
• Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Nabi Muhammad mengunjungi sewaktu kami membaca Al-Qur’an. Kumpulan kami terdiri dari orang-orang Arab dan juga bukan Arab”.
• Anas bin Malik kemonetar, “Nabi Muhammad datang kepada kita se-waktu kami membaca, diantara kita terdapat orang-orang Arab dan bukan Arab, kulit hitam dan kulit putih”.
• Bukti tambahan menunjukkan bahwa para sahabat melawat sampai di luar kota Madinah bertindak sebagai instruktur:
• Mu’adz bin Jabal dikirim ke Yaman.
• Dalam perjalanan menuju Biru Ma’unah, sekurang-kurangnya empat puluh kalangan para sahabat yang dikenal sebagai pengajar Al-Qur’an dibunuh.
• Abu ‘Ubaid dikirim ke Najran.
• Wabra bin Yuhannas mengajar Al-Qur’an in San’a’ (Yaman) kepada Ummu Sa`id binti Buzrug semasa kehidupan Nabi Muhammad.

 Hasil Kegiatan Pendidikan: Huffaz
Samudra kesempatan mempelajari Kitab Suci yang berjalan bersama gelombang manusia yang terlibat dalam penyebarannya, ternyata membuahkan banyak para sahabat yang secara cermat menghafal Al-Qur’an. Banyak diantara mereka yang kemudian dibunuh di Yamama dan Biru Ma’unah, dan nama mereka dalam banyak hal, telah lenyap dari buku sejarah. Dari bukti yang ada menunjukkan hanya nama-nama mereka yang masih hidup, yang kemudian meneruskan pengajaran di Madinah dan wilayah yang tertaklukan oleh kekuasaan Islam. Hal ini meliputi antara lain: Ibn Mas’ud, Abu Ayyub, Abu Bakar al-Siddiq, Abu al-Darda, Abu Zaid, Abu Musa al-‘Ash’ ariy, Abu Hurairah, Ubayy bin Ka’b, Ummu Salamah, Tamim al-Dari, Sa’d bin Mundzir, Hafsa, Zaid bin Tsabit, Salim dari suku Hudzaifah , Sa’d bin ‘Ubadah, Sa’d bin ‘Ubaid al-Qari, Sa’d bin Mundzir, Shihab al-Qurasyi, Talhah, ‘A’isyah, ‘Ubadah bin Shamit, ‘Abdullah bin Sa’ib, Ibn ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Amr, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Aththa bin Markayud (orang Parsi tinggal di Yaman), ‘Uqbah bin ‘Amir, ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Amr bin al-‘Ash. Fudala bin ‘Ubaid, Qays bin Abi Sa’sa’a, Mujamma’ bin Jariya, Maslamah bin Makhlad, Mu’adz bin Jabal, Mu’adz Abu Halimah, Ummu Warqah bin ‘Abdullah bin al-Harits, dan ‘Abdul Wahid.
 Pengumpulan dalam dokumen, dengan cara menulis pada kitab, atau diwujudkan dalam bentuk ukiran. Pada tahapan ini pun dibagi menjadi dua periode pula :

Periode Makkah
Kendati diwahyukan secara lisan, Al-Qur’an sendiri secara konsisten menyebut sebagai kitab tertulis. Ini memberi petunjuk bahwa wahyu tersebut tercatat dalam tulisan. Pada dasarnya ayat-ayat Al-Qur’an tertulis sejak awal perkembangan Islam, meski masyarakat yang baru lahir itu masih menderita berbagai permasalahan akibat kekejaman yang dilancarkan oleh pihak kafir Quraisy. Berikut cerita `Umar bin al-Khattab sejak ia masuk Islam yang akan kita pakai sebagai penjelasan masalah ini :
“Suatu hari ‘Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Safa. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Di antaranya adalah paman Nabi Muhammad, Hamzah, Abu Bakar, ‘Ali, dan juga lainnya yang tidak pergi berhijrah ke Ethiopia. Nu’aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya ke mana ‘Umar hendak pergi. ‘Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraisy khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan tuhan-tuhan kami. Sekarang akan aku libas dia’. ‘Engkau hanya akan menipu diri sendiri `Umar, katanya’. ‘Jika engkau menganggap bahwa ban! `Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga anda dan selesaikan permasalahan mereka’. `Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa ke¬luarganya. Nu’aim menjawab, ‘Saudara ipar, keponakan yang bernama Sa`id serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anda kembali menghubungi mereka’. `Umar cepat-cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khabba sedang membaca Surah Taha dari sepotong tulisan Al-¬Qur’an. Saat mereka dengar suara ‘Umar, Khabba lari masuk ke kamar kecil, sedang Fatimah mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al-Qur’ an dan diletakan dibawah pahanya……”
Kemarahan ‘Umar semakin membara begitu mendengar saudara-¬saudaranya masuk Islam. Keinginan membunuh orang yang beberapa saat sebelum itu ia tuju semakin menjadi jadi. Masalah utama dalam cerita ini berkaitan dengan kulit kertas bertulisan Al-Qur’an, Menurut Ibn ‘Abbas ayat¬-ayat yang diturunkan di Mekah terekam dalam bentuk tulisan sejak dari sana, seperti dapat dilihat dalam ucapan al-Zuhri. ‘Abdullah bin Sa’d bin ‘Abi asl-Sarh, seorang yang terlibat dalam penulisan Al-Qur’an sewaktu dalam periode ini, dituduh oleh beberapa kalangan sebagai pemalsu ayat-ayat Al-Qur’an (suatu tuduhan yang seperti telah saya jelaskan sama sekali tak berdasar). Orang lain sebagai penulis resmi adalah Khalid bin Sa’id bin al-‘Ash di mana ia menjelaskan, “Saya orang pertama yang menulis ‘Bismillah ar-Rahman ar¬Rahim’ (Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Al-Kattani mencatat peristiwa ini: Sewaktu Rafi` bin Malik al-Anshari menghadiri baiah al-‘Aqabah, Nabi Muhammad menyerahkan semua ayat-ayat yang diturunkan pada dasawarsa sebelumnya. Ketika kembali ke Madinah, Rafi` mengumpulkan semua anggota sukunya dan membacakan di depan mereka.
Periode madinah
 Penulis Wahyu Nabi Muhammad saw
Pada periode Madinah kita memiliki cukup banyak informasi termasuk sejumlah nama, lebih kurang enam puluh lima sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad bertindak sebagai penulis wahyu. Mereka adalah Abban bin Sa’id, Abu Umamah, Abu Ayyub al-Anshari, Abu Bakar al-Shiddiq, Abu Hudhaifah, Abu Sufyan, Abu Salamah, Abu ‘Abbas, Ubayy bin Ka’b, al-Arqam, Usaid bin al-Hudlair, Aus, Buraidah, Bashir, Tsabit bin Qais, Ja` far bin Abi Thalib, Jahm bin Sa’d, Suhaim, Hatib, Hudzaifa, Husain, Hanzalah, Huwaitib, Khalid bin Sa’id, Khalid bin al-Walid, al-Zubair bin al-`Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Tsabit, Sa’d bin ar-Rabi`, Sa’d bin `Ubadah, Sa’id bin Sa`id, Shurahbil bin Hasna, Talhah, `Amir bin Fuhairah, `Abbas, `Abdullah bin al-Arqam, `Abdullah bin Abi Bakar, `Abdullah bin Rawahah, `Abdullah bin Zaid, `Abdullah bin Sa’d, ‘Abdullah bin ‘Abdullah, ‘Abdullah bin ‘Amr, ‘Utsman bin ‘Affan, Uqbah, al-¬’Ala bin ‘Uqbah, ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Amr bin al-‘Ash, Muhammad bin Maslamah, Mu’adz bin Jabal, Mu’awiyah, Ma’n bin ‘Adi, Mu’aqib bin Mughirah, Mundzir, Muhajir, dan Yazid bin Abi Sufyan.
 Nabi Muhammad Mendiktekan Al-Qur’an
Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu. Zaid bin Tsabit menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, la sering kali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun. Sewaktu ayat jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Tsabit membawa tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya; ‘Amr bin Ummu Maktum al-A’ma duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad, “Bagaimana tentang saya? Karena saya sebagai orang yang buta.” Dan kemudian turun ayat, “ghair uli al-darar” (bagi orang¬orang yang bukan catat). Tampaknya tak ada bukti pengecekan ulang setelah mendiktekan. Saat tugas penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi Muhammad agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.
 Tradisi Penulisan Al-Qur’an dikalangan Sahabat
Praktik yang biasa berlaku di kalangan para sahabat tentang penulisan Al-¬Qur’an, menyebabkan Nabi Muhammad melarang orang-orang menulis sesuatu darinya kecuali Al-Qur’an, “dan siapa yang telah menulis sesuatu dariku selain Al-Qur’an, maka ia harus menghapusnya.” Beliau ingin agar Al-Qur’an dan hadits tidak ditulis pada halaman kertas yang sama agar tidak terjadi campur aduk serta kekeliruan. Sebenarnya bagi mereka yang tak dapat menulis selalu hadir juga di masjid memegang kertas kulit dan minta orang lain secara suka rela mau menuliskan ayat Al-Qur’an. Berdasarkan kebiasaan Nabi Muhammad memanggil juru tulis ayat-ayat yang baru turun, kita dapat menarik anggapan bahwa pada masa kehidupan beliau seluruh Al-Qur’an sudah tersedia dalam bentuk tulisan.
b. Pada Masa Abu Bakar (Kompilasi Al-Qur’an )
 Penugasan Zaid bin Tsabit dalam Mengompilasikan Al-Qur’an
Zaid melaporkan :
“Abu Bakr memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran al-Yamama yang menelan korban para sahabat sebagai syuhada. Kami melihat saat ‘Umar ibn al-Khattab bersamanya. Abu Bakar mulai berkata, ‘Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini : Dalam pertempuran al-Yamamah telah menelan korban begitu besar dari para penghafal Al¬Qur’an (qurra’), dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur’an akan musnah. Oleh karena itu, kami berpendapat agar dikeluarkan perintah pengumpulan semua Al-Qur’an.’ Abu Bakr menambahkan, ‘Saya kata¬kan pada ‘Umar, ‘bagaimana mungkin kami melakukan satu tindakan yang Nabi Muhammad tidak pernah melakukan?’ ‘Umar menjawab, ‘Ini merupakan upaya terpuji terlepas dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap keberatan kami sehingga Allah memberi kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiliki pendapat serupa. ‘Zaid! Anda seorang pemuda cerdik, pandai, dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi Muhammad, dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. Carilah semua Al-Qur’an agar dapat dirang¬kum seluruhnya.’ ‘Demi Allah, Jika sekiranya mereka minta kami me¬mindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang’. Kami bertanya pada mereka, ‘Kenapa kalian berpendapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?’ Abu Bakar dan ‘Umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. Mereka tak henti-henti menenangkan rasa keberatan yang ada hingga akhirnya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakar dan ‘Umar”.
Setelah diberi keyakinan Zaid dapat menerima tugas berat sebagai pengawas komisi, sedang ‘Umar, sahibul fikrah, bertindak sebagai pembantu khusus.
 Jati Diri Zaid bin Tsabit
Sejak usianya di awal dua puluh-tahunan, di masa itu, Zaid diberi ke-istimewaan tinggal berjiran dengan Nabi Muhammad dan bertindak sebagai salah seorang penulis wahyu yang amat cemerlang. Dia salah satu di antara para huffaz clan karena kehebatan jati diri itulah yang mengantarnya sebagai pilihan mumtaz untuk melakukan tugas tersebut. Abu Bakr al-Shiddiq mencatat kualifikasi dirinya sebagai berikut:
1. Masa muda Zaid menunjukkan vitalitas dan kekuatan energinya.
2. Akhlak yang tak pernah tercemar menyebabkan Abu Bakar memberi pengakuan secara khusus dengan kata-kata, ‘Kami tak pernah memiliki prasangka negatif pada anda.’
3. Kecerdasannya menunjukkan pentingnya kompetensi dan kesadaran.
4. Pengalamannya di masa lampau sebagai penulis wahyu.
5. Satu catatan tambahan dari saya (pengarang) tentang kredibilitasnya, Zaid salah seorang yang bernasib mujur di antara beberapa orang sahabat yang sempat mendengar bacaan Al-Qur’an Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad di bulan Ramadan.

 Instruksi Abn Bakr terhadap Zaid bin Tsabit
Sekali waktu seorang nenek menghadap minta penjelasan tentang hak waris dari seorang cucu yang telah meninggal dunia. Beliau menjawab bahwa bagian seorang nenek dari cucu tidak disebut dalam Al-Qur’an dan tidak pula beliau ingat bahwa Nabi Muhammad pernah memberi penjelasan akan hal itu. Dengan minta konfirmasi para hadirin, Abu Bakar menerima jawaban al-Mughirah yang saat itu, berdiri mengatakan bahwa beliau hadir saat Nabi Muhammad mengatakan bahwa bagian seorang nenek adalah satu per enam (1/6). Abu Bakar bertanya pada yang lain barangkali ada orang yang tak sepaham dengan al-Muhgirah di mana Muhammad bin Maslamah menegaskan secara pasti. Guna menyelesaikan tanpa sikap keragu-raguan, ini berarti Abu Bakar pernah minta pengesahan sebelum berbuat sesuatu terhadap penjelasan al-Mughirah. Dalam hal ini Abu Bakar (dan seterusnya ‘Utsman seperti hendak kita lihat), semata¬mata mengikuti perintah Al-Qur’an mengenai kedudukan para saksi:
Hukum kesaksian memainkan peranan penting dalam kompilasi Al-Qur’an (juga dalam metode ilmu hadits), dan merupakan bagian penting dari instruksi Abu Bakar pada Zaid bin Tsabit. Ibn Hajar melanjutkan,

“Abu Bakr mengatakan pada ‘Uma rdan Zaid, “Duduklah di depan pintu gerbang Masjid Nabawi. Jika ada orang membawa (memberi tahu) anda tentang sepotong ayat dari Kitab Allah dengan dua orang saksi, maka tulislah.”

Ibn Hajar memberi komentar tentang apa yang dimaksud oleh Abu Bakar perihal saksi:
“Sepertinya apa yang dimaksud dengan dua saksi berkaitan erat dengan hafalan yang diperkuat dengan bukti tertulis. Atau, dua orang memberi kesaksian bahwa ayat al-Qur’an telah ditulis di hadapan Nabi Muhammad. Atau, berarti agar mereka memberi kesaksian bahwa ini merupakan salah satu bentuk yang mana al-Qur’an diwahyukan. Tujuannya adalah agar menerima sesuatu yang telah ditulis di hadapan Nabi Muhammad bukan semata-mata berlandaskan pada hafalan seseorang saja
Saya lebih cenderung menerima pendapat kedua menyangkut penerimaan materi (ayat Al-Qur’an) berdasarkan bukti sumpah di hadapan dua orang saksi lain bahwa mereka telah menulis ayat di depan Nabi Muhammad. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Ibn Hajar yang mana “Zaid tidak mau menerima sesuatu materi tulisan yang akan dapat dipertimbangan kecuali dua orang sahabat menyaksikan bahwa orang itu menerima ayat Al-Qur’an seperti di¬perdengarkan oleh Nabi Muhammad sendiri.”
Keterangan tersebut juga berdasarkan ayat :
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.
Menurut pendapat Profesor Syauqi Dlaif, Bilal bin Rabah jalan-jalan mengelilingi kota Madinah melakukan pengecekan tiap sahabat yang hadir dan memiliki ayat-ayat Al-Qur’an yang ia tulis setelah menerima apa yang diper-dengarkan oleh Nabi Muhammad sendiri.
 Cara Zaid bin Tsabit Menggunakan Materi tulisan Al-Qur’an
Cara yang biasa dipakai dalam menyatukan naskah agar seorang perumus kalimat (editor) mengadakan perbandingan dengan naskah lain dari hasil kerja yang sama kendati, biasanya tidak semua naskah memiliki nilai yang setaraf. Dalam memberi penjelasan terhadap tingkatan naskah yang paling dapat di pertanggungjawabkan dengan yang tak memiliki harga nilai, Bergstraser mem¬buat beberapa ketentuan penting sebagai berikut,
1. Naskah yang lebih awal biasanya lebih dapat terjamin dan tepercaya dari naskah yang muncul kemudian.
2. Naskah yang sudah diubah dan dibetulkan oleh penulis melalui proses perbandingan dengan naskah induk, lebih tinggi tingkatannya dari ma-nuskrip-manuskrip yang tidak ada perubahan.
3. Jika naskah asli masih ada, naskah lain yang ditulis dari naskah itu akan hilang nilainya.
Blachere dan Sauvaget kembali menegaskan tentang poin ketiga: Jika naskah asli masih terdapat di tangan pengarang, atau salah satu naskah yang telah mengalami perubahan masih ada, maka nilai naskah-naskah lain akan dinafikan Demikian juga, tidak adanya naskah asli dari seorang pengarang, duplikat lain, dengan adanya naskah induk, hendaknya dibuang dan tidak di-pertimbangkan.
Autographed Copy

Anggaplah urutan manuskrip mengikuti skema pohon seperti di atas. Pertimbangkan dua dari sistem skenario yang ada:
• Katakanlah bahwa penulis naskah asli hanya menghasilkan satu edisi buku di mana tidak ada edisi kedua atau perubahan pada edisi pertama. Maka ketiga naskah berikut tidak termasuk: (1). Buku yang ditulis sendiri (seluruh naskah yang ditulis oleh pengarang), (2). Satu manuskrip yangditulis dari naskah pengarang ash misalnya ditulis oleh A); dan (3) manuskrip lain yang muncul kemudian (mungkin ditulis oleh L). Maka sangat jelas bahwa yang kedua dan ketiga dianggap tak ada gunanya clan tidak dapat dipertimbangkan sewaktu mengadakan penyuntingan dari naskah yang ada, karena tak ada di antara mereka yang memiliki tingkat¬an yang sama dengan naskah asli tulisan tangan dari pengarang pertama.
• Satu lagi, andaikan ada satu edisi buku. Kemudian naskah tulisan ash bagaimanapun tidak ditemukan, penyunting harus memakai tiga manus¬krip lain. Dua manuskrip ditulis oleh murid-murid si pengarang asli, kita sebut saja A dan B. Manuskrip ketiga X dikopi dari B. Maka X di sini tidak ada harganya. Penyunting harus berdasarkan seluruhnya kepada A dan B, dan tidak boleh membuang salah satu darinya karena kedua¬duanya mempunyai nilai yang sama.
Demikianlah prinsip-prinsip penting kajian kritis naskah dan edisi penerbitan yang dikembangkan oleh pihak orientalis di abad kedua puluh. Ternyata empat belas abad yang silam, Zaid telah melakukan kegiatan persis seperti teori yang mereka buat. Sejak Nabi Muhammad menapakkan kaki di bumi Madinah, adalah merupakan titik permulaan kegiatan intensif penulisan. Banyak di antara para sahabat memiliki ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka salin dari kertas kulit milik kawan-kawan serta para jiran. Dengan membatasi terhadap ayat-ayat yang disalin di bawah pengawasan Nabi Muhammad, Zaid meyakinkan bahwa semua materi yang beliau teliti memiliki tingkatan yang sama dan hal yang demikian memberi jaminan mutlak atas ketelitian yang dicapai. Setelah menghafal Al-Qur’an dan menulis banyak semasa duduk ber-satna Nabi Muhammad, ingatan atau hafalan Zaid hanya dapat dikomparasikan dengan materi yang sama, bukan dengan naskah kedua atau ketiga. Maka arti itu, sikap keras Abu Bakar, `Umar dan Zaid atas materi dari tangan pertama dengan dua orang saksi dimaksudkan agar memberi dukungan anggapan clan guna memberi jaminan ada status yang sama. Di dorong oleh semangat yang meluap dari para pelakunya proyek tersebut berkembang menjadi upaya sebenarnya yang dilakukan oleh masyarakat:
• Kalifah Abu Bakar mengeluarkan undangan umum (atau seseorang dapat dianggap sebagai dekrit) guna memberi peluang pada setiap orang yang mampu untuk ikut berpartisipasi.
• Proyek tersebut dilakukan di dalam masjid Nabi Muhammad, sebagai .pusat berkumpul.
• Dalam memberi respons terhadap instruksi seorang khalifah, ‘Umar berdiri di depan pintu gerbang masjid mengumumkan pada setiap orang yang memiliki tulisan ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Nabi Muhammad agar membawanya ke masjid. Bilal juga mengumumkan hal yang sama ke seluruh lorong jalan jalan di kota Madinah.

 Zaid bin Tsabit Memanfaatkan Sumber Hafalan
Ini kelihatan jelas bahwa perhatian ditumpukan kepada ayat yang tertulis, sumber utama tulisan yang ditemukan-baik di atas kertas kulit, papan-papan kayu, atau daun-daun (العسب) dst, tidak hanya diverifikasi dengan hanya melalui tulisan-tulisan yang lainnya saja tetapi juga melalui hafalan para sahabat yang belajar langsung dari Nabi saw. Dengan meletakkan dasar-dasar persyaratan yang begitu ketat dalam penerimaan baik dari segi tulisan maupun hafalan, maka kesamaan status akan lebih terjamin.
Dalam keadaan apa pun Zaid bin Tsabit selalu merujuk pada hafalan orang lain: “Al-Qur’an saya kumpulkan dari berbagai bentuk kertas kulit, potongan tulang, dan dari dada para penghafal.” Dalam hal ini al-Zarakhasi memberi ulasan,
“Keterangan ini telah menyebabkan kalangan tertentu menganggap bahwa tak ada seorang pun yang hafal seluruh Al-Qur’an pada zaman kehidupan Nabi Muhammad. Melihat anggapan Zaid bin Tsabit dan Ubayy bin Ka’b yang seperti itu, maka anggapan di atas tidak dapat dipertahankan dan, hal ini merupakan sebuah kekeliruan. Apa yang dimaksud Zaid pada dasarnya ia hanya mencari ayat-ayat tertulis dari berbagai sumber yang masih tercecer untuk dicocokkan dengan apa yang telah dihafal – para huffadh. Dengan cara demikian, tiap orang berpartisipasi dalam proses pengumpulan. Tak ada orang siapa pun yang memiliki sebagian ayat ke¬mudian tak diikutsertakan. Demikian juga tak seorang pun memiliki alasan untuk menyatakan sikap prihatin tentang ayat-ayat yang dikum¬pulkan dan tak seorang pun melakukan komplain bahwa naskah yang dikumpulkan hanya dari beberapa pilihan orang tertentu”.
Ibnu Hajar memberi perhatian secara khusus terhadap keterangan yang diberikan Zaid, “Saya dapati dua ayat terakhir dalam Surah al-Bara’h hafalan ada pada Abu Khuzaima al-Ansari,” membuktikan bahwa tulisan yang ada pada Zaid serta hafalannya dianggap tidak mencukupi. Segala sesuatunya memerlukan pengesahan. Lebih lanjut Ibnu Hajar mengatakan,

“Abu Bakr tidak memberi wewenang padanya agar menulis kecuali apa yang telah tersedia dalam bentuk tulisan berupa kertas kulit. Itu adalah sebab utama Zaid tidak mau memasukkan ayat terakhir dari Sarah al¬Bara’ah sebelum ia sampai dengan membawa bukti suatu ayat yang telah tertulis (dalam bentuk tulisan), kendati ia mempunyai banyak sahabat yang dengan mudah untuk dapat mengingat kembali secara tepat dari hafalan mereka”.

 Penyimpanan Suhuf dalam Arsip Kenegaraan
Setelah tugas terselesaikan, kompilasi Al-Qur’an disimpan dalam arsip kenegaraan di bawah pengawasan Abu Bakar. Kontribusinya seperti yang kita dapat simpulkan adalah penyatuan fragmentasi Al-Qur’an dari sumber pertama, kemudian ia menjelajah ke seluruh kota Madinah dan menyusunnya untuk transkripsi penulisan ke dalam satu jilid besar (master volume). Kompilasi ini disebut dengan istilah suhuf. la merupakan kata jamak suhuf (صحف: secara literal artinya, keping atau kertas) dan ini mempunyai arti yang berbeda dengan kata tunggal mushaf yang sekarang menunjukkan sebuah naskah tulisan Al-Qur’an).
Sebagai kesimpulan, segala upaya Zaid adalah penyusunan semua surah dan ayat secara tepat, dan kemungkinan besar sebagai seorang putra Madinah dia menggunakan skrip dan ejaan Madinah yang umum atau konvensional Tetapi tampaknya ukuran kepingan-kepingan kertas yang digunakan untuk menulis Al-Qur’an tidak sama sehingga menjadikan tumpukan kertas itu tidak tersusun rapi. Oleh karena itu, dinamakan Suhuf Hanya lima belas tahun kemudian, saat Kalifah ‘Utsman berupaya mengirim naskah-¬naskah Al-Qur’an ke pelbagai wilayah kekuasaan umat Islam dari hasil kemenangan militer telah memperkuat tersedianya kertas kulit bermutu tinggi dan ia mampu memproduksi kitab Al-Qur’an dalam ukuran kertas yang sama yang kemudian lebih dikenal sebagai Mushafs.
c. Masa ‘Umar

 Peranan `Umar dalam Pengenalan Kitab Suci AI-Qur’an
Dengan menunjuk ‘Umar sebagai penerus khalifah, setelah Abu Bakr wafat di atas tempat tidur, sebelumnya dia telah memberi kepercayaan terhadap penerusnya tentang mushaf-mushaf yang ada . Di samping adanya berbagai kemenangan dalam pertempuran yang menentukan, ‘kekuasaan ‘Umar diwarnai pengembangan Al-Qur’an secara pesat melintasi batas semenanjung Arab. Beliau mengutus sekurang-kurangnya sepuluh sahabat ke Bashra guna mengajarkan Al-Qur’an, demikian pula ia mengutus Ibnu Mas’ud ke Kufah.’ Ketika ‘Umar diberitahukan tentang adanya orang lain di Kufah yang men¬diktekan Al-Qur’an pada masyarakat melalui hafalan, ‘Umar naik pitam seperti kegilaan. Saat menemukan orang tersebut yang tidak lain adalah Ibnu Mas’ud, beliau ingat akan kemampuannya, kemudian merasa tenang dan dapat me¬redam kembali sikap emosinya.
Berita penting lainnya adalah mengenai pengenalan ajaran Al-Qur’an di Suriah. Yazid bin Abu Sufyan, penguasa Suriah, mengadukan masalah pada ‘Umar tentang orang-orang Muslim yang memerlukan pendidikan Al-Qur’an dan juga keislaman. la mendesak agar ‘Umar dapat mengutus para dosen, kemudian ‘Umar memilih tiga orang sahabat melakukan tugas tersebut yang masing-masing terdiri dari Mu’adz, ‘Ubadah, dan Abu Darda. ‘Umar meminta mereka untuk terus menuju Hams yang setelah mencapai tujuan, salah satu dari mereka agar pergi ke Damaskus dan tempat lain di Palestina. Saat penduduk setempat merasa puas dengan tugasnya di Hams, Abu al-Darda’ meneruskan perjalanan ke Damaskus, sedangkan Mu’adz ke Palestina dengan meninggalkan ‘Ubada di belakang. Mu’adz meninggal dunia setelah itu dan Abu ad¬ Darda’ tinggal di Damaskus beberapa waktu lamanya dan dapat membuat halaqah yang sangat masyhur dengan mahasiswa asuhannya melebihi 1.600 orang. Dengan membagi murid-murid ke dalam sepuluh kelompok, ia menugaskan seorang instruktur secara terpisah pada tiap kelompok dan melakukan inspeksi keliling dalam memantau kemajuan mereka. Bagi mereka yang telah lulus tingkat dasar, dapat mengikuti bimbingan langsung beliau agar murid yang lebih tinggi tingkatnya merasa lebih terhormat belajar bersama Abu al-Darda’ dan berfungsi sebagai guru tingkat menengah.
Metode yang sama dipraktikkan di tempat lain, Abu Raja’ al-Ataradi menyatakan bahwa Abu Musa al-Ash’ari membagikan murid-murid ke beberapa kelompok di dalam Masjid Bashra, dalam bimbingannya yang hampir mencapai 300 orang.
Di ibu kota, `Umar mengutus Yazid bin ‘Abdullah bin Qusait untuk mengajar AI-Qur’an di kalangan orang Badui, dan melantik Abu Sufyan sebagai inspektur untuk suku mereka agar mengetahui sejauh mana mereka sudah belajar. Dia juga menunjuk tiga sahabat yang lainnya di Madinah untuk mengajar anak-anak dengan setiap orangnya digaji lima belas dirham per bulan, dan setiap murid (termasuk orang dewasa) dinasihati untuk diajarkan lima ayat yang mudah.
Setelah ditikam oleh Abu Lu’luah (seorang hamba sahaya Kristen dari Persia) di akhir tahun 23 hijrah, `Umar menolak untuk menunjuk seorang khalifah, dan membiarkannya kepada masyarakat untuk memilihnya dan pada waktu itu Suhuf diamanahkan kepada Hafsah, mantan istri Nabi Muhammad saw..
Selama pemerintahan `Utsman, yang dipilih oleh masyarakat melalui bai’ah (بيعة) yang amat terkenal sebagai khalifah ketiga, umat Islam sibuk melibatkan diri di medan jihad yang membawa Islam ke utara sampai ke Azerbaijan dan Armenia. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang beragam, sejak awal para pasukan tempur memiliki dialek yang berlainan dan Nabi Muhammad, di luar kemestian, telah mengajar mereka membaca A-Qur’an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Akan tetapi sebagai akibat adanya perbedaan dalam menyebutkan huruf Al-Qur’an mulai menampakkan kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat.

d. Pada Masa Utsman

 Sikap ‘Utsman terhadap Perselisihan Bacaan

Hudzaifa bin al-Yaman dari perbatasan Azerbaijan dan Armenia, yang telah menyatukan kekuatan perang Irak dengan pasukan perang Suriah, pergi menemui ‘Utsman, setelah melihat perbedaan di kalangan umat Islam di beberapa wilayah dalam membaca Al-Qur’an. Perbedaan yang dapat mengan-cam lahirnya perpecahan. “Oh khalifah, ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi.’ ”
Adanya perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an sebenarnya bukan barang baru sebab ‘Umar sudah mengantisipasi bahaya perbedaan ini sejak zaman pemerintahannya. Dengan mengutus Ibnu Mas’ud ke Irak, setelah ‘Umar diberitahukan bahwa dia mengajarkan Al-Qur’an dalam dialek Hudzail (sebagaimana Ibnu Mas’ud mempelajarinya), dan ‘umar tampak naik pitam:

AI-Qur’an telah diturunkan dalam dialek Quraish (قريش), maka ajarkanlah menggunakan dialek Quraish, bukan menggunakan dialek Hudzail.

Dalam masalah ini komentar Ibnu Hajar dirasa sangat penting. “Bagi kalangan umat Islam bukan Arab yang ingin membaca Al-Qur’an,” katanya. “pilihan bacaan yang paling tepat adalah berdasarkan dialek Quraisy ( قريش). Sesungguhnya dialek Quraisy merupakan pilihan terbaik bagi kalangan Muslim bukan Arab (sebagaimana semua dialek Arab sama susahnya bagi Mereka).”

Hudzaifa bin al-Yaman mengingatkan khalifah pada tahun 25 H dan pada tahun itu juga ‘Utsman menyelesaikan masalah perbedaan yang ada sampai tuntas. Beliau mengumpulkan umat Islam dan menerangkan masalah perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an sekaligus meminta pendapat mereka tentang bacaan dalam beberapa dialek, walaupun beliau sadar bahwa beberapa orang akan menganggap bahwa dialek tertentu lebih unggul sesuai dengan afiliasi kesukuan. Ketika ditanya pendapatnya sendiri beliau menjawab (sebagaimana diceritakan oleh ‘Ali bin Abi Thalib),

“Saya tahu bahwa kita ingin menyatukan manusia (umat Islam) pada satu mushaf (dengan satu dialek) oleh sebab itu tidak akan ada perbedaan dan perselisihan” dan kami menyatakan “sebagai usulan yang sangat baik).”

Terdapat dua riwayat tentang bagaimana ‘Utsman melakukan tugas ini. Syam di antaranya (yang lebih masyhur) beliau membuat naskah mushaf semata-mata berdasarkan kepada Suhuf yang disimpan di bawah penjagaan Hafsah, bekas istri Nabi Muhammad saw. riwayat kedua yang tidak begitu terkenal menyatakan, ‘Utsman terlebih dahulu memberi wewenang pengum-pulan Mushaf dengan menggunakan sumber mana, sebelum membandingkannya dengan Suhuf yang sudah ada. Kedua-dua versi riwayat sepaham bahwa Suhuf yang ada pada Hafsah memainkan peranan penting dalam pembuatan Mushaf ‘Uthmani.

 ‘Utsman Menyiapkan Mushaf Langsung dari Suhuf
Berdasarkan pada riwayat pertama `Utsman memutuskan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melacak Suhuf dari Hafsah, mempercepat menyusun penulisan, dan memperbanyak naskah. Al-Bara’ meriwayatkan,

“Kemudian ‘Utsmtan mengirim surat kepada Hafsah yang menyatakan. ‘Kirimkanlah Suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami kembalikan kepada anda’. Hafsah lalu mengirimkannya kepada ‘Utsman, yang memerintahkan Zaid bin Tsabit, `Abdullah bin al-Zubair, Sa’id bin al-‘Ash, dan ‘Abdur¬Rahman bin al-Harits bin Hisyam agar memperbanyak salinan (duplicate) naskah. Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraisiy, ‘Kalau kalian tidak setuju dengan Zaid bin Tsabit perihal apa saja mengenai Al-Qur’an, tulislah dalam dialek Quraisy sebagaimana Al-¬Qur’an telah diturunkan dalam logat mereka’. Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah `Utsman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsah…

 ‘Utsman Membuat Naskah Mushaf Tersendiri

o Pelantikan Sebuah Panitia yang Terdiri dari Dua belas Orang untuk Mengawasi Tugas Ini
Riwayat kedua adalah pendapat yang agak rumit dan kompleks. Ibnu Sirin, (w. 110 H.) meriwayatkan,

Ketika ‘Utsman memutuskan untuk menyatukan (جمع) Al-Qur’an, dia mengumpulkan panitia yang terdiri dari dua belas orang dari kedua-dua suku Quraisy dan Anshar. Di antara mereka adalah Ubayy bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit.

Identitas dua belas orang ini bisa dilacak melalui beberapa sumber. Al-Mu’arrij al-Sadusi menyatakan, “mushaf yang baru disiapkan diperlihatkan pada (1) Sa’id bin al-‘Ash bin Sa’id bin al-‘Ash untuk dibaca ulang;” dia menambahkan (2) Nafi’ bin Zubair bin `Amr bin Naufal. Yang lain termasuk (3) Zaid bin Tsabit, (4) Ubayy bin Ka’b, (5) ‘Abdullah bin az-Zubair, (6) ‘Abd al-Rahman bin Hisyam, dan (7) Kathir bin Aflah. Ibnu Hajar menyebutkan beberapa nama lain: (8) Anas bin Malik, (9) ‘ Abdullah bin ‘Abbas, dan (10) Malik bin Abi ‘Amir. Dan al-Baqilani menyebutkan selebihnya (11) ‘Abdullah bin `Umar, dan (12) `Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash.

 Penyusunan Sebuah Naskah Sendiri (Otonom)

‘Utsman memercayakan pada dua belas orang di atas tadi untuk mengurusi tugas ini dengan mengumpulkan dan menabulasikan Al-Qur’an, yang ditulis di atas kertas kulit pada zaman Nabi Muhammad. Sejarawan ulung, Ibnu `Asakir (w. 571 H.) menyebutkan dalam bukunya History of Damascus (sejarah Damaskus): Dalam ceramahnya ‘Utsman mengatakan, “Orang-orang telah berbeda dalam bacaan mereka, dan saya menganjurkan kepada siapa saja yang memiliki ayat-ayat yang dituliskan di hadapan Nabi Muhammad hendaklah diserahkan kepadaku.” Maka orang-orang pun menyerahkan ayat-ayatnya, yang ditulis diatas kertas kulit dan tulang serta daun-daun, dan siapa saja yang menyumbang memperbanyak kertas naskah, mula¬-mula akan ditanya oleh `Utsman, “Apakah kamu belajar ayat-ayat ini (seperti dibacakan) langsung dari Nabi sendiri?” Semua penyumbang menjawab disertai sumpah, dan semua bahan yang dikumpulkan telah diberi tanda atau nama satu per satu yang kemudian diserahkan pada Zaid bin Tsabit. Malik bin Al ‘Amir mengaitkan, “Saya salah seorang dari mereka yang menulis mushaf (dari sumber yang tertulis), dan jika ada kontroversi mengenai ayat-ayat tertentu mereka akan bertanya, ‘Dari mana si penulis (di kertas kulit ini)? Bagaimana Nabi Muhammad mengajar dia tentang ayat ini secara tepat?’ Dan mereka akan meringkas tulisan, dan meninggalkan sebagian tempat kosong dan mengirimkannya kepada orang itu disertai pertanyaan untuk mengklarifikasi tulisannya”.
Oleh karena itu, naskah Mushaf independen itu muncul secara bertahap, dengan ke dua belas orang itu mengesampingkan semua ayat yang tidak pasti dalam ejaan konvensional, agar ‘Utsman dapat melihatnya secara pribadi. Abu `Ubaid mencatat beberapa masalah yang ada. Salah satu yang tidak pasti contohnya dalam hal ejaan al-tabut, di mana menggunakan `t’ terbuka (maftuhah) (التابوت) atau tertutup (marbutah) (التابوة). Hani al-Barbari, seorang langganan ‘Utsman, meriwayatkan:

“Saya bersama ‘Utsman tatkala panitia sedang sibuk membanding¬bandingkan mushaf. Dia mengutus saya agar menemui Ubayy bin Ka’b dengan tulang kambing yang bertulisan tiga kata yang berbeda dari tiga surah yang berbeda-beda (masing-masing dari 2:259, 30:30, dan 86:17), memintanya agar mengecek kembali ejaan-ejaannya. Lalu Ubayy menuliskannya (dengan ejaan yang sudah diubah)”.
 ‘Utsman Mengambil Suhuf dari ‘A’isyah Sebagai Perbandingan
‘Umar bin Shabba, meriwayatkan melalui Shawwar bin Syabib melaporkan:
“Saya masuk ke kelompok kecil untuk bertemu dengan Ibnu al-Zubair, lalu saya menanyakan kepadanya kenapa ‘Uthman memusnahkan semua naskah kuno Al-Qur,an….? Dia menjawab, ‘Pada zaman pemerintahan ‘Umar ada pembual bicara yang telah mendekati Khalifah memberitahukan kepadanya bahwa orang-orang telah berbeda dalam membaca AI-Qur’an. ‘Umar menyelesaikan masalah ini dengan mengumpulknn semua salinan naskah Al-Qur’an dan menyamakan bacaan mereka, tetapi menderita yang sangat fatal akibat tikaman maut sebelum beliau dapat melakukan upaya lebih lanjut. Pada zaman pemerintahan ‘Utsman orang yang sama datang untuk mengingatkannya masalah yang sama di mana kemudian ‘Utsman memerintahkan untuk membuat mushaf tersendiri (independent). Lalu dia mengutus saya menemui bekas istri Nabi Muhammad ‘A’isyah, agar mengambil kertas kulit (suhuf) yang Nabi Muhammad sendiri telah mendiktekan keseluruhan Al-Qur’an. Mushaf yang dikumpulkan secara independent kemudian di dibandingkan dengan Suhuf ini, dan setelah melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang ada, kemudian ia menyuruh agar semua salinan naskah Al-Qur’an dimusnahkan”.
Walaupun riwayat ini dianggap lemah menurut ukuran para ahli hadits (traditionist), tapi ada gunanya dalam menyebutkan riwayat ini yang mene-rangkan pengambilan suhuf yang ada di bawah pengawasan atau penjagaan ‘A’isyah. Riwayat di bawah ini bagaimanapun menguatkan riwayat sebelumnya. Ibnu Shabba meriwayatkan dari ‘Harun bin ‘Umar, yang mengaitkan bahwa :
“Ketika ‘Utsman hendak membuat salinan (naskah) resmi, dia meminta ‘A’isyah agar mengirimkan kepadanya kertas kulit (suhuf) yang dibacakan oleh Nabi Muhammad. yang disimpan di rumahnya. Kemudian dia menyuruh Zaid bin Tsabit membetulkan sebagaimana mestinya, pada waktu itu beliau merasa sibuk dan ingin mencurahkan waktunya mengurus masyarakat dan membuat ketentuan hukum sesama mereka”.
Begitu juga Ibnu Usyta (w. 360 H./ 971 M.) melaporkan di dalam al-¬ Masahif, dalam penyelesaian masalah pembuatan naskah Al-Qur an tersendiri dengan menggunakan sumber utama, ‘Utsman mengutus seseorang ke rumah ‘A’isyah agar mengambil suhuf. Dalam usaha ini beberapa kesalahan telah terjadi dalam mushaf yang kemudian ditashih sebagaimana mestinya.

Dan riwayat-riwayat ini kita tahu bahwa ‘Utsman menyiapkan salinan mushaf independent berdasarkan secara keseluruhannya pada sumber-sumber primer termasuk tulisan-tulisan sahabat ditambah dengan suhuf dari ‘A’isyah.

 ‘Utsman Mengambil Suhuf dari Hafsah Guna Melakukan Verifikasi
Ibn Shabba melaporkan,

“Zaid bin Tsabit berkata, ‘Ketika saya melakukan revisi Mushaf ‘Utsmani (mushaf yang dibuat sendiri) saya temukan kekurangan satu ayat (من المؤمنين رجال…) kemudian saya mencarinya di kalangan kaum Muhajirin dan Ansar (Karena mereka itu yang menulis Al-Qur’an pada zaman Nabi Muhammad saw.), sehingga saya mendapatkannya dari Khuzaimah bin Tsabit al-Anshari. Kemudian saya menuliskannya… Lalu saya merevisinya sekali lagi dan tidak menemukan sesuatu (yang meragukan). `Utsman kemudian mengutus menemui Hafsah minta agar meminjamkan suhuf yang dipercayakan pada dirinya; Hafsah lalu memberikan setelah `Utsman berjanji pasti atau bernazar hendak mengembalikan. Dalam perbandingan kedua ayat ini, saya tidak melihat adanya perbedaan. Kemudian saya kembalikan pada ‘Utsman dan penuh kegembiraan, dia menyuruh orang-orang membuat duplikat naskah dari Mushaf itu.”

Jadi pada waktu itu naskah yang dibuat sendiri (independent) telah dibandingkan dengan suhuf resmi yang sejak semula ada pada Hafsah.
Seseorang bisa jadi keheran-heranan mengapa khalifah ‘Utsman bersusah payah mengumpulkan naskah tersendiri (otonom) sedang akhimya juga dibandingkan dengan suhuf juga. Alasannya yang paling mendekati kemungkinan barangkali sekadar upaya simbolik. Satu dasawarsa sebelumnya ribuan sahabat, yang sibuk berperang melawan orang-orang murtad di Yamamah dan di tempat lainnya, tidak bisa berpartisipasi dalam kompilasi suhuf untuk menarik lebih banyak kompilasi bahan-bahan tulisan, naskah ‘Utsman tersendiri (independen) memberi kesempatan kepada sahabat yang masih hidup untuk melakukan usaha yang penting ini.
Dalam keterangan di atas, tidak terdapat inkonsistensi di antara suhuf dan mushaf tersendiri (independen), dan dari dua kesimpulan yang luas ini terdapat: pertama, sejak awal teks Al-Qur’an sudah benar-benar kukuh dan tidak cair (sebagaimana sementara menuduh) dan rapuh sehingga abad ketiga; dan kedua, Metodologi yang dipakai dalam kompilasi Al-Qur’an pada zaman kedua pemerintahan sangat tepat dan akurat.
Demikian sejarah singkat kodifikasi Al-Qur’an dari data-data yang dapat dipertanggungjawabkan. Dari sini terlihat jelas, bahwa Al-Qur’an benar-benar otentik. Banyak pendukung yang berusaha memelihara Al-Qur’an dari kejahilan tangan-tangan yang benci terhadap Islam—mulai dari penjagaan hafalan sampai tulisan, dan perlu diingat bahwa dalam konteks Al-Qur’an terdapat world view al-Rasmu Tabi’un li al-Riwayah–, bahkan sejak awal Al-Qur’an menantang bagi siapa saja yang mencoba menentangnya dengan mendatangkan yang semisil Al-Qur’an mulai dari satu ayat sampai satu mushaf seperti Al-Qur’an, namun hasilnya nihil. Sekarang yang dilakukan oleh kelompok JIL yang sama-sama hendak menghancurkan Al-Qur’an pun sama lemahnya dengan argument para penyeranag Islam sebelumnya. Dalam kesempatan ini pula JIL menuduh system bacaan Al-Qur’an inkonsistensi disebabkan ragam bacaan yang berbeda-beda. Namun telah kami jelaskan diatas bagaimana system isnad didalam Islam berperan penting dalam metodologi Islam sebagai pembuktian otentisistas Al-Qur’an.

e. Waspada Tasyabbuh kepada Nahrani
prilaku umat Islam yang tidak berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah sampai tidak terhitung jumlahnya dalam hal “tasyabbuh” kepada ajaran Yahudi dan Nashrani. Hal ini sangat serius untuk diperhatikan. Dimana penjiplakan ini tidak hanya masalah “trend” saja, naum menyangkut ‘aqidah, ibadah, dan pola fikir. Inilah yang Nampak sedang membuming di Persada Nusantara kita. Kerugian yang didapat bukan hanya dari sisi keduaniaan saja dan oleh sekelompok umat Islam saja, melainkan kerugiannya sampai terbawa keakhirat dan menyangkut kemaslahatan uamat Islam diseluruh penjuru dunia. Dan pembahasan terakhir ini sekedar mengingatkan kita supaya tidak terbawa arus millah mereka. Diantara “tasyabbuh” tersebut adalah :
• Berburuk sangka terhadap Islam : mereka yang mengaku beragama Islam tetapi berburuk sangka terhadap Islam lantaran membaca buku-buku tentang Islam yang dikarang oleh orientalis Nashrani. Hal itu karena orientalis mengarang buku-buku tentang Islam dengan kacamata Nashrani.
• Sekulerisme : orang-orang Nashrani memisahkan persoalan pemerintahan dengan agama, keduniaan dengan agama, sehingga keduniaan itu tiada dilandasi agama. Mereka berdalil :”kalau begitu, bayarlah kepada kaisar barang yang kaisar punya dan kepada Allah barang yang Allah punya”.
–Matius 22 : 21–
• Berfikir, bertindak, bertingkah laku serupa Nashrani.

Demikianlah bantahan terhadap saudara Taufik Adnan Amal terkait judul diatas. Mudah-mudahan Allah swt senantiasa member petinjuk dan ampunan kepda kita semua. Amin. Wallahu ‘alam bi al-shawab